Ini sebenarnya kegelisahan saya, dalam perjuangan menterjemahkan makna perempuan dan segala hal berkenaan dengannya.
Ada 2 alasan bagaimana pada akhirnya saya menulis tentang ‘kegelisahan’ ini.
Pertama, gegara di musim politik ini banyak portal berita berlomba-lomba membuat ‘branding” terhadap bakal calon presiden. Dari narasi baik, buruk, provokatif hingga bombastis terhampar di dunia maya maupun sosial media yang tiap detik tak henti memperbarui isinya.
Ini juga terjadi pada portal berita yang menjadi langganan, terlihat sekali begitu pro terhadap seorang calon. Berita yang awalnya begitu umum, mengulik sisi religi, kaidah umum hingga ilmu-ilmu dasar keagamaan yang memiliki gaya tutur tidak menghakimi, tidak mengemas Allah sebagai perwujudan Dzat Pencipta yang begitu kejam dan begitu mudah memberi siksa.
Saya bukan pecinta konten politik yang pelik penuh intrik, namun akhirnya membuat saya mengernyitkan dahi karena portal yang selama ini saya anggap tidak berkiblat sama aliran politik manapun tiba-tiba begitu masive memberitakan calon presiden yang mapan nan tampan. Duh, sedap!
Tapi tunggu dulu, dibalik rangkaian kata yang menjual produk ‘istimewa’ itu terbersit pikiran saya, apakah di mata penulis portal tersebut, lelaki tampan, menawan, rupawan serta hartawan memang ideal menjadi idaman ?
Apakah semua perempuan menuntut itu ?
Ini saya bicara tentang lelaki tampan nan hartawan tidak ada korelasi maupun niat nyinyir sama si empunya portal yang sedang jualan. Nope, ini murni buah pemikiran saya. Saya tidak berafiliasi dengan partai manapun, pendukung calon presiden manapun. Hingga tulisan ini saya ketik belum terbersit saya akan memilih siapa. Tulisan ini murni sebagai ungkapan perenungan saya pribadi, daannnn….tentu saja penilaian serta tafsir terhadap sesuatu hanya menggunakan kaca mata saya pribadi. Analoginya, ketika saya hendak membeli belanja di ujung jalan, saya di hadapkan sama 2 pilihan, Alfamart dan Indomart. Konon kabarnya Alfamart lebih murah harganya, namun saya memilih masuk ke Indomaret hanya karena satu alasan, yaitu di Indomaret menjual kopi Nescafe Classic 2gr sedang di Alfamart tidak. Artinya, saya tidak pembenci Alfamart, dan tidak pecinta Indomaret. Saya ke Indomaret karena ada item yang selalu di daftar belanja saya tersedia. Jika pertimbangan yang digunakan mahal dan murah, jelas, saya akan masuk ke Alfamart. This is it! Saya tidak pengkultus salah satu bakal calon presiden. Saya sekedar bertutur mengenai ‘daftar belanja’.
Well, kembali ke calon bakal presiden yang sedang dikemas media yang pro olehnya tentang makna sholeh, rupawan dan hartawan; yang seolah dianggap sosok ideal buat emak-emak di negeri ini. Ya, ijinkan saya berkomentar karena saya bagian dari member emak calon pemilih.
Saya setuju si Bapak itu, rupawan ( namun 1000% bukan tipe saya , hahaha ); saya setuju si Bapak itu religius ( sayangnya saya suka kikuk sama lelaki yang terlalu religius, saya tahu diri, kasta saya fakir ilmu agama yang tragis lagi mengenaskan ); saya juga setuju bahwa si Bapak itu juga hartawan, mengingat di portal berita saya baca kekayaannya hingga trilyunan ( saya menghela nafas, salahkan saya, saya tipikal naif terhadap uang, karena saya lebih kikuk terhadap angka-angka yang tak pernah terjangkau oleh pikiran saya bagaimana uang trilyunan itu ).
Jadi begini, satu-satunya saya begitu kagumi si Bapak itu, adalah perihal hobby olahraganya. Terlihat bugar, fit di setiap diwawancara media dan sesekali nantangin lari, renang atau olahraga lainnya.
Bagi saya, lelaki sexy itu tidak sekedar ketampanan dan kekayaan serta kadar keimanan yang mumpuni, namun juga bagiamana perilaku dia terhadap perempuan ( pasangannya maupun Ibunya ). Namun sayang, saya ini tipikal tidak mudah percaya terhadap apa yang diberitakan. Di sini saya berhenti menilai Bapak itu, apakah si Bapak itu termasuk lelaki yang sungguh-sungguh bagus perilakunya terhadap pasangan dan Ibunya, meskipun di berita pernah saya lihat fotonya sedang sungkem bersama sang Ibu dan memeluk mesra istrinya.
YES! Sebelum saya bicara tentang perempuan sexy, ijinkan saya menterjemahkan definisi lelaki sexy ideal saya, dimana lelaki itu memiliki ketangguhan fisik, ketangguhan finansial, ketangguhan spiritual, ketangguhan terhadap masalah. YES! Definisi sexy bagi saya bukan perkara kemasan ( tampan, kekayaan tujuh turunan dan seberapa banyak mampu menghamburkan uang untuk pelbagai tujuan serta niatan J ). Sexy itu masalah software, bukan hardware. Sexy itu masalah proforma, bukan kardus, eh, jangan pakai kardus, kardus sedang jadi salah satu kata yang sensitif. Sexy itu masalah proforma, bukan masalah wadahnya.
Sama. Ketika saya bicara soal alat kelamin, kelamin bagi saya sesungguhnya adalah otak manusia. Bukan alat vital yang dinoktahkan untuk bersemayam di antara kedua belah paha.
Jadi intinya, saya mendadak prihatin terhadap portal yang sering menggembar-gemborkan berita, yang ketika saya tarik alurnya hingga di ujung premis seolah semua perempuan beranggapan bahwa ketampanan fisik merupakan segala-galanya.
Mohon ijin nyinyir. Nyinyir terhadap diri sendiri. Saya seringkali ditanya oleh sesama wali murid pada saat mengambil raport anak saya di kelas. Rangking berapa ? saya jawab, buat apa rangking ? juga sebuah tanya oleh seorang Ibu tetangga sebelah, kok anaknya nggak dimarahi anaknya nggak belajar ? kenapa harus marah ? jawaban saya kembali berupa tanya. Yaa, saya belum sanggup menjadi perempuan ( ibu atau istri sexy edisi saya sendiri ) jadi saya juga tidak sanggup menuntut anak serta pasangan saya untuk sexy juga.
Yah, saya bukan ( belum ) menjadi perempuan sexy menurut spesifikasi yang saya pasang sendiri. Jadi, saya tidak akan pernah menuntut pasangan maupun anak untuk menjadi sexy ketika kata sexy diterjemahkan sebagai : anak yang selalu membawa pulang piala-piala dari aneka lomba, anak yang di raportnya hanya diijinkan bertuliskan angka 9 di setiap nilai, pasangan yang 24 jam waktu dan pikirannya untuk saya seorang saja, pasangan yang selalu menuruti apa setiap tuntutan untuk bisa begini begitu dan lain sebagainya.
Perempuan sexy itu……. saya tersenyum ( menghayal sih ) perempuan yang mampu mengulum kembali keluh kesahnya terhadap duit belanjaan yang sesungguhnya hanya sanggup untuk tiga minggu bahkan kurang. Perempuan sexy itu mampu meladeni hobbynya diam-diam di sela jam bangun tidur hingga jam tidurnya yang tidak pernah berhenti dari catatan harus menyelesaikan masalah ini itu. Perempuan sexy itu, yang tidak gagap diajak bicara sopan hingga bicara kelas kumuh sekalipun. Perempuan sexy itu yang mampu mem-breakdown angka-angka kecil dipecah hingga beberapa bagian untuk tetap berlangsungnya urusan dapur dan sekolahan. Perempuan sexy itu yang mampu mengkebiri semua tuntutan terhadap pasangan untuk diberikan segala isi dunia terhadapnya. Perempuan sexy itu yang mampu memaksimalkan fungsi telinga ketimbang mulutnya. Perempuan sexy itu yang mampu menjadi bendungan kokoh yang mampu menghalangi sebuah komitmen dari piutang yang membuat susah tidur. Perempuan sexy itu mampu cari duit sendiri. Perempuan sexy itu bisa datang ke business meeting pagi hari tepat waktu tanpa beralasan harus antar anak dulu dan meninggalkan rumah dengan kondisi jamban selalu kinclong dan tak kalah wangi dengan ketiaknya sendiri. Perempuan sexy itu yang terjadi gempa bisa menjadi penyangga, ketika terjadi tsunami mampu menjadi perahu, ketika terjadi gunung api meletus mampu menjadi bungker.
Perempuan sexy itu bukan yang ukuran bajunya nomor 6, ketika diajak bicara tidak nyambung, manakala prioritas perhatian terhadap dirinya dianggap sebagai hak mutlak, bukan yang bahagia diberikan puji sanjung fatamorgana yang pada akhirnya memberikan rasa senang imitasi, dan ketika dihadapkan pada peliknya masalah hidup hanya memiliki dua opsi; melacur atau bunuh diri.
Dan pagi itu, saya berkenalan dengan perempuan berukuran baju 6 itu. Tinggi semampai dan saya anulir kembali karena melihat dia menggunakan wedges ukuran 12 cm ( ah, masihh tinggian saya ). Tangannya halus ( saya sangsi dia mau ngosek wc saban pagi dengan cairan kimia agar terlihat kinclong all the time ). Make up nya menor ( bulu mata palsunya bisa buat bantu bersihin teralis jendela serta sela-sela ventilasi ). Rambutnya panjang buatan ( terlihat hair extensionnya nyembul di belakang telinga, duh, saya berkerudung, dia kaget kali jika tahu saya ngaku perempuan tapi rambut saya cepaknya sampai susah dijambak ). Ketika dia menyebut namanya, intonasi manja dibuat-dibuat terasa sekali terdengar. Dia menyebut dirinya model, bersedia untuk urusan modeling di semua kota di negeri ini ( namun yang dia sebut berulang hanya Jakarta, Bali dan Lombok ; yes, lancang saya menyimpulkan mbaknya mau nunut piknik ).
Belum 15 menit saya berkenalan dengannya, wanita ramping itu ( saya nggak mendefinisikan sexy=kurus ceking=langsing semampai yaa ) diewer-ewer sana kemari oleh beberapa tamu undangan. Diajak swafoto dan diakhiri dengan ritual berbagi nomer handphone.
Dan sudah barang tentu, saya mendadak menjadi makhluk invisible di acara tersebut. Hahaha, apakah saya sakit hati ? TIDAK. Saya syukuri perjuangan saya menuju sexy versi saya sendiri. Hanya saja, saya suka risih kepada para lelaki yang tak sanggup nge-rem sahwat nya manakala di acara formal yang serius masih saja sibuk caper sama si mbak ramping itu. Mengganggu alur acara, bagaimana tidak, saat si mbak memang bertugas berjaga di meja depan menyerahkan souvenir untuk tetamu undangan, ditarik kesana kemari buat berfoto hingga lupa oleh tugasnya, bahkan si embak sempat dinyatakan hilang; saya cari kemana perginya, telpun tak pernah diangkat, WA tak dibaca, dan setelah acara hampir usai si embak diketemukan sedang santai seperti di pantai, menghabiskan beberapa rokok di ujung ruang bersama si Bapak nakal oknum undangan yang entah asyik membicarakan apa hingga terlihat gurat-gurat bahagia di antara keduanya.
Saya tersenyum, belum sehari di ruangan ini, si mbak sudah lupa apa tugasnya sesungguhnya. Kehadirannya dibayar untuk sebuah kewajiban. Namun batin saya berhenti menuntut, karena saya paham ( bukan menuduh ) si mbak ramping itu tak punya cukup banyak energi untuk mengirimkan pulse-pulse informasi melalui cerebelum dan syaraf-syaraf di otaknya tentang apa yang harus dia kerjakan. Butuh kalimat ulangan untuk memitanya harus selalu stand by di tempat. Tidak beredar dan “menjajakan” kemasannya ke para tamu undangan. Tidak, dia tak akan sanggup berfikir dan paham. Karena untuk paham butuh asupan kalori yang bakal gencatan senjata jadi daging serta lemak jahat yang membuat timbangan suka geser ke kanan.
Dan, justru saya yang akan salah kalau saya selaku pengguna jasanya menuntut berlebih, menuntut untuk lebih cekatan dan inisiatif, menuntut untuk profesional dan tidak ( maaf ) murahan. Karena sexy-ku dan sexy-nya, apalagi sexy di mata pria-pria penggoda itu tidak pernah sama definisinya…..
Lalu, saya menolak berhenti lelah. Menghentikan menggunakan jasanya dan memohon maaf bahwa raportnya kurang bagus hari itu. Ada atau tak ada dirinya tidak ada bedanya. Saya yang justru meng-cover semua pekerjaannya. Dengan santun saya ulurkan amplop hariannya, dan saya minta yang bersangkutan tanda tangan di kwitansi, tanda tangan dan jangan mengenai kalimat : DUA RATUS RIBU RUPIAH.
Si mbak ‘sexy’ tersenyum dan closing ( lagi-lagi ) dibuat-buat “jangan lupa undang kami lagi yaaa mbak, seperti yang kubilang tadi pagi, jangan event yang pakai bahasa inggris....”
Kami bersalaman dan saya diam-diam ingin bicara bahwa sexy itu kejam, jendral!