Pagiku….
Kemarin, i just listening to you : ” i have to pay back my fault, mom !”
Kutatap wajahnya, dalam cerewetku, diamku, dengan pandanganku tak menyalahkan, aku tahu kamu lebih menderita jika aku tidak terlalu banyak kata.
I know that feel my luv …
Throw back … beberapa minggu lalu …
“Mama, aku ditipu …” katamu setengah berbisik dengan suara bergetar, mencegah telaga mengalir dari sudut mata. “My all money gone, mom …”
kamu memelukku. Dalam situasi itu aku paham, bukan amarahku yang kamu butuhkan dariku.
“Aku janji mah, balikin semua yang sudah hilang”
Kamu memelukku erat sekali, aku tahu, di dalam dadaku ada gemuruh yang mampu kamu dengarkan, dan kucoba jinakkan dengan kalimat ajaib yang selalu kusimpan dalam memory paling kuat “jika itu di lauful mafus belum rejekiku, maka dia akan pergi kepada pemiliknya”
Kuusap kepalamu “it is okay, nakkuh”
Perih kali ini tak seberapa dibanding perih dua tahun lalu, saat mendengar telponmu dari seberang kamu histeris menjerit, bahkan ceritamu tak sanggup aku simak dengar benar, sampai akhirnya kudengar cerita bude Ngatini yang menjelaskan kamu jadi korban harassment dan aku tak ada di sebelahmu, ragaku terpaku di Jakarta. Sementara kamu berjuang sendiri melawan ketakutanmu. Ibu macam apa aku ini. Tak pernah ada, saat kamu membutuhkanku. Percayalah nakkuh, apapun yang kuperjuangkan hari ini, hanya untukmu, pada setiap dendamku di masa lalu yang tak pernah kugenggam, akan kuberikan sepenuhnya untukmu.
Riuhmu, pecah. Tergagap, tenggelam dalam dadaku. Salahku, tak banyak waktuku untukmu. Salahku, tak banyak emosiku, bermain bersamamu, dalam hari-hari. Dalam capekku, aku selalu mengenang setiap kata yang kita dengungkan dalam cerita-cerita kita, tentang bintang-bintang di angkasa dan niatmu pergi dari negeri ini, tentang rumah yang akan kita dirikan di Florida, tentang warung Soto bu Susan yang akan kamu buat di Swiss, bermain salju di Russia, dan tentang niatku, membawamu ke meja operasi sebagai kado ulang tahunmu nanti. Ke-17.
“Aku akan rebut emas lagi, dapat uang lagi Ma, Mama jangan marah yaa !!! please !!!”
Kamu menangis tergugu untuk kesekian kali di dalam pelukku, dalam tegarku aku merintih, “maafkan aku, tak mampu menjagamu baik-baik, aku belum mampu mengajarimu menahan diri dari segala rasa sesuatu yang kamu …. cintai”
Dear my luv,
Kehilangan uang itu tak masalah. Kehilangan semua tabunganmu, itu tidak masalah.
Uang hanyalah sesuatu yang masih bisa digantikan….nothing to be worried.
It is blessing in disguise … dalam setiap kehilangan, kamu belajar tegar.
As i told you as always, kadang, menahan diri pada sesuatu yang paling kamu cintai, menjagamu dari keseimbangan kewarasan dan kebahagiaan imitasi yang hanya dinikmati sesaat, sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, sebulan … seperti yang pernah aku dengar “aku mencintaimu, tapi tidak tahu sampai kapan, jadi ketika aku tetiba menghilang, bukan tanggung jawabku jika batinmu, rasamu remuk redam” ….
So, mari kita bergenggam tangan nakkuh, hadapi dunia dan kebahagiaan semu yang ditawarkannya.
Hari ini …
Kucium keningmu. Kuingat selalu bisikmu nak…
“Momkee, doakan aku dapat emas lagi kali ini. Aku mau sekolah yang jauh dan tinggi lagi, agar Momkee tidak keluyuran lagi . Momkee di rumah saja, nonton Netflix, gantian aku cari uangnya…”
Mataku kondensasi…ada doa yang tak pernah berhenti di relung ini, nakkuh.
Aku ridho, hari ini kamu berjuang melawan segala inferioritas yang diam-diam kita kubur. Emas untuk tegarmu jauh lebih berarti sayang.
Emas hari ini akan kamu bawa pulang (lagi). Pasti!