Kubis? Maafkan aku jika aku berlaku tidak adil padamu. Dasar manusia! Salahpun kau tak punya, merugikan pun tiada, namun aku kelewat antipati padamu.
Seminggu ini, sodara kembar datang dari Bali berkunjung. Gara-gara nawari makan, mendadak kami mengalami reuni masa lalu yang sedikit bikin kecut, sekecut ketiak monyet habis jingkrak-jingkrak (Busyet, hiperbolis cap walang kekek nih )
Percaya nggak percaya, hampir tujuh tahun ( 1992 – 1999 ) hidup kami ( saya dan sodara kembar ) melewati masa pertumbuhan dengan kubis/ kol. Seiring dengan tumbuh kembang ulet kubis juga. Hampir tiap hari kami makan kubis. Sebuah kisah sejarah yang alamakja aneh dan nggak keren sekali. Gara-gara “koki” kami meninggal, lalu kami sering klayapan kemana-mana, ke tempat sodara, demi mendapatkan makanan layak yang sekiranya mampu menemani tumbuh kembang kami.
Entah mengapa, si Nenek yang kemudian menjadi “obyek penderita” tiga bocah yang luntang-luntung kehilangan induk buat bernaung. Dan sekalipun kami tidak menyalahkan Simbah jika sekiranya hanya mampu menyuapi kami nasi dan Kubis. Waktu itu, kubis segede bola kaki dipenyet hanya berharga Rp 100. Mampulah buat sayur sekaligus lauk barang 4 – 5 hari buat 3 perut yang sudah lupa makanan berbumbu kasih sayang dan ketulusan “koki”.
Kubis. Dari Ca Kubis, Tumis Kubis, Kubis dikasih micin merk Sasa , Kubis dikasih micin merk Miwon, Kubis dikasih garam dan tiga biji bawang putih, Sup Kubis, Kubis orak-arik ( ini paling mewah, karena ada Kubis berpelukan dengan telur ), Kubis goreng, Kubis rebus plus sambel kelapa, Kubis ini, Kubis itu, dan Kubis menjadi kawan setia cacing kremi di usus besar kami. Hidup Kubis!!!!
Siapa yang mau berontak? Simbah hanya tukang pijet kampung yang order dan promo nggak pernah mejeng di media apapun apalagi via Multiply. Sekali dapat order, duit Rp 5.000 diterima, sebagian buat bayar listrik, KUBIS dkk. Danàsebagian buat bayar air PAM, sebagian lagi buat beli – DKK-nya hanya garam, bawang putih, micin merk Sasa ( favorit Simbah ), bawang merah, kecap, gula, minyak goreng dan terkadang telur ayam. Beras? Dapat dari nanam sendiri. Simbah punya sawah, barang sejengkal, digarap orang lain, beras bukan momok, kecuali jika kemarau kelewat panjang, jadilah ubi sebagai intermezo yang endang markonah. Lebih mak Nyus ketimbang kubis.
Pernah suatu kali kami pengen “daging”, jadilah kepiting Kali, Kodok Sawah dan Kadal sebagai santapan. Sungguh, saya tidak berlebihan. Adalah daging-daging yang saya sendiri sangsi halal haramnya pernah menyatu dengan daging beserta onderdil biologis di badan kami. Mungkin sekarang sudah melebur, menjadi tahi lalat di pipi saya, bisa jadi tumbuh di dalam tenggorokan, saat saya ngorok saat tidur, bisa jadi itulah Ruh Kodok bangkit. Daging kepiting kali, menyublim menjadi tabiat, suka mencubit jika gemas dan si Kadal menjadi sisik di jempol kaki saya. Weilah! Saya nggak yakin juga sebenarnya….Yang saya amini, favorit saya di antara ketiganya adalah Kadal Goreng Garing! ( absolutely Mak Nyus, beibeh! )
Kubis, maafkan aku jika aku sangat sentimen padamu. Benci dan sama sekali nggak rindu. Antipati saya sama kubis sama rasanya tatkala saya melihat seorang penyanyi dangdut seronok di negeri ini yang suka ngomong soal moral. Ueneg-neg-neg-neg. Begitulah rasanya. Padahal kalau dipikir-pikir Kubis nggak pernah menyakiti saya, salahnya hanya karena si Kubis pernah menjadi sebuah cerita panjang menjenuhkan masa remaja saya yang seharusnya manis untuk dikenang. Bergelut dengan rasa rindu saat cinta monyet datang, yang ada hanya rasa gemas karena kepengen Ca Sawi, Sup Wortel dan lain-lain yang bukan punya judul “KUBIS”. Adalah kembung, keseringan nelan kubis. Nggak mriyayeni sekali, sering kentut gara-gara karib dengan kubis. Amit-amit jabang bayik .
Kubis. Kamu nggak salah tapi saya tetap UENEGgggg melihat. Malas menikmati, dan menyingkirkannya saat saya pengen mengunyah martabak, ketemu di Sup saat kondangan dan di bukupun saya malas menatapnya dengan sebenar-benar orang menatap. Kubis, maaf, saya dan sodara kembar saya malas berkawan lagi denganmu! Cukuplah 7 tahun kita bertemu di piring. I am sorry good bye ! < halah >
INDOMIE
Sebelum kumat nyinyir, saya pastikan saya bukan model Iklan Indomie, nggak berhubungan darah ama si empunya pabrik Mie Instan itu. Tapi ( lagi-lagi ) saya punya kisah sama Indomie. I don’t mean to be rude, tapi memang Indomie juga termasuk salah satu TERSANGKA yang mengisi kekenyalan daging saya di masa lalu. Bismillah, hanya doa semoga saya nggak ada masalah dengan kesehatan di hari tua saya gara-gara kebanyakan MSG.
Waktu itu, kami sering berseloroh “ apa ciri-ciri Bapak gajian ?” jawaban gampang, jika ada 3 box Indomie goreng ‘kulonuwun’ di dapur. Dan setelah itu, Bapak saya sudah dipastikan nggak akan pulang beberapa hari. Entah kemana, nggak peduli. Lebih tepatnya takut bertanya ketimbang kena sandal mampir mulut atau di jidat kami, “anak kecil dilarang banyak bicara” —> rambu-rambu kesopanan yang kami terapkan sebagai AD ART dalam hidup berumah tangga.
Saya baru kaget sekarang ini. Dulu, betapa perut saya kuat makan 9 Indomie dalam 1 hari. Pagi, Siang dan Sore, masing-masing bikin 3 bungkus, belum lagi kalau jam 9 usai belajar kelaparan, lagi-lagi Indomie. Dan bisa ditebak, 3 kardus Indomie nggak cukup buat sebulan. Itu baru saya. Dua abang saya lebih gila. Entah, mungkin bumbu Indomie sudah mengerak di ginjal serta limpa kami. Seandainya saya mati dan diotopsi, kemungkinan besar, ususnya sudah menyerupai liukan si ‘kriting’ itu, wow! Sexy dung! Giring Nidji pun lewat.
Indomie vs kubis. Indomie habis ya balik ke Kubis. Namun, nggak sekali dua kali juga Indomie featuring bareng Kubis. Jadi, baik Kubis maupun Indomie adalah DUO NUTRISI yang membantu kelangsungan nafas saya hingga sekarang. Saling sikut-sikutan biar nggak kena emutan ( bahasa apa sih ? ) si cacing kremi.
Jangan pernah katakan MIE INSTAN NGGAK BAGUS BUAT KESEHATAN! Jangan ! Jangan pernah katakan kalimat heroik itu di telinga kami waktu itu. Karena hanya Indomie lah satu-satunya ( benda terakhir ) yang mampu meyakinkan kami bahwa masih ada kasih sayang yang tersisa buat kami dari seorang tua tunggal yang selalu memberikan 3 dos Indomie di saat hari Gajian telah tiba. HOREeee! (pasang ikon Smile jingkrak-jingkrak sambil siul-siul ).
Alhamdulillah, kami tipe penuntut yang buruk. Indomie pun cukuplah buat kami berbahagia dan masih merasa dimiliki. Ini hanya masalah hidup. Seandainya kami MAMPU, ingin rasanya mengawetkan hidup Ibu kami sama dengan pengawet yang kami telan bersama Indomie-indomie itu. Yach, seandainya bisa….
Kenyataanya?
“ Indomieeeeeee ( selalu ) seler..aaaaa….kuuuuu…“