BH

Guru terbaik anak gadis manjadi wanita adalah Ibunya sendiri

Aku nggak tahu,tanpa Ibu, urusan tumbuh menjadi wanita merupakan urusan pelik. Sama ketika kurasakan payudara tumbuh lebih besar dan semakin besar tak terkendali. Aku benar-benar membenci kondisi itu. Kelas dua di bangku Sekolah Menengah Pertama kejadian itu bermula.

Aku masih sangat suka banyak tingkah. Melompat. Berlari. Berkata sekehendak hati. Merajuk. Kejar-kejaran bareng Arip, Nopi, Nano, Galih yang notabene merupakan (kebanyakan) kawan laki-laki. Saat aku sadari di sebuah sore saat mengguyur badan. Merabakan sabun di sekujur tubuh. Dada aku berbeda. Lebih menonjol daripada bisaanya. Aku panik. Pantas saja, kemarin dan beberapa hari yang lalu, si Galih menatap lebih cermat. Si Yang-yang cekikikan saat kulempar bola basket padanya. Dia rupanya menatap dada aku.Kurang ajar. Besok jika ketemu lagi, akan kumaki mereka. Menjadikan dada aku sebagai bahan tertawaan.Kenapa aku baru sadar sekarang? Dasar bodoh.

Sejak sadar buah dada lebih besar ketimbang bisaa, susah payah aku menutupinya. Untuk sementara kujejalkan kalender di dada setiap kali ke sekolah, saat main basket atau saat keluyuran di tetangga. Itupun harus mengenakan T-shirt putih yang paling tebal lalu berkemeja. Agar tak terlihat aneh dan tetap rata saat tanpa sadar aku berlari atau bergerak lebih banyak. Payah. Biar ingin lebih kalem, selalu saja aku tanpa sadar,lebih dari lima kali dalam sehari, melompat dan berlari. Dan aku tidak mau kecolongan, tidak boleh ada yang tahu aku berubah. Dari ulat yang menjadi kepompong. Tahap metamorfose dari gadis kecil menjadi….Ah, membayangkan menjadi remaja membuatku susah tidur. Dan ini adalah rahasia yang paling menakutkan. Aku tidak mau Bapak tahu. Aku takut. Akan semakin banyak larangan untuk begini begitu.

Rahasia kusimpan baik-baik. Tumbuh buah dada adalah mimpi buruk yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan.

Dan, dari ke hari, setiap pagi aku harus lebih mempersiapkan diri lebih lama ketimbang bisaa. Melipat kalender barang dua atau tiga lembar. Memaksanya berdiam diri, menutup dadaku, lalu mengenakan  kaos dalam, berlanjut dengan T-shirt terbaikku, lantas menggunakan seragam merupakan gerakan “pengaburan” yang kuanggap paling pintar. Semua bukan tanpa penderitaan. Gerah. Terasa aneh tentu, dan beberapa sudut lipatan sangat menyakitkan saat menggores kulit. Itu belum seberapa, saat beberapa komentar menyelutuk, aku terlihat lebih gemuk dari bisaa. Sialan. Kupikir menjejalkan kalender adalah ide terbaik. Nyatanya membuat penampilanku aneh dan gerakku menjadi tidak wajar. Jika hari panas dan terik, timbul bau apek lebih parah lagi, jika lipatannya salah, dimana yang sisi putihnya di dalam, tinta angka di kalender akan meninggalkan celemong-celemong di dada karena luntur oleh keringat. Pekerjaan lanjutan, aku harus mandi lebih lama demi menghilangkan noda di kulit, sedikit tekanan, perihnya bukan mainan.

Meski Intan dan Ira menjadi sahabat terbaikku waktu itu, bukan berarti mereka harus tahu segalanya tentang aku. Tumbuh buah dada merupan hal memalukan. Karena saat aku iseng-iseng mencuri pandang, kubandingkan dadaku dengan dada mereka, dada mereka masih kerempeng belum terisi. Meski sama-sama sudah mendapatkan M, tapi soal dada tumbuh seenak hatinya hanya aku yang mengalami. Kukutuk diriku, kupertanyakan pada Tuhan dalam sholatku, mengapa buah dadaku musti tumbuh lebih cepat.

Hampir setiap hari, ya, setiap hari, aku sedikit lebih kalem ketimbang hari bisaa. Apalagi saat olahraga ataupun saat mengikuti ekstra kurikuler basket.

Aku benar-benar berfikir keras. Semakin sering serta lama dalam sembahyang. Apalagi kalau bukan untuk menanyakan perihal buah dadaku pada Sang Pencipta. Lama-lama lelah sendiri. Hingga dalam putus asaku, kuhayalkan jika surat bisa sampai ke akherat, ingin kutulis sebuah surat.

Kukirim pada Ibuku. Selain kalender? Apalagi yang bisa kupakai untuk menutupi buah dadaku yang tumbuh besar?

Mungkin saat itu aku benar-benar frustasi. Kudapati kalender telah hampir habis kusobek. Tinggal selembar, menunjukkan bulan pada waktu itu. Artinya masih terpakai.  Sangat mustahil aku gunakan. Jika kupaksakan, bisa-bisa Bapak menaruh curiga. Kenapa kalendernya telah koyak dan tak jelas rimbanya. Buat apa? Siapa pelakunya? Aku tidak mau Bapak melakukan investigasi, lalu berhasil menemukan tersangka utama pencuri kalender di rumah. Jika benar-benar terjadi, lalu menginterogasiku, bisa mati mendadak aku. Bukankah, Bapakku galaknya bukan kepalang. Aku tidak mau ditempeleng. Memalukan, menjadi anak durhaka gara-gara menjadi pencuri kalender. Lantas yang paling tidak terbayangkan, akan ketahuan rahasia maha rahasiaku, buah dadaku tumbuh seenak hatinya. Itu artinya, aku diharamkan bergaul. Atau?ah, aku tidak sanggup membayangkan hukuman yang akan menimpaku jika Bapak tahu, buah dadaku tidak serupa milik anak-anak lagi. Aku menggigil. Ngeri membayangkan.

Rahasiaku lagi kawan, karena kalender telah habis, atau tepatnya tidak layak pakai lagi dipakai, pernah kugunakan Peta ATLAS sebagai pengganti. Karena hanya buku itu yang paling besar. Lebih baikkah? Tentu tidak, jika kalender bisa kuperhitungkan panjang serta lebarnya, Peta ATLAS tidak sanggup kulipat. Kala kupaksakan, aku seperti prajurit mengenakan tameng. Baju seragamku tidak mampu menyembunyikannya dengan sempurna. Saat teman-temanku bertanya apa yang ada di balik bajuku? Tentu saja kujawab Peta ATLAS, siluetnya tidak bisa menipu. Tulisan ATLAS  yang besar-besar tetap terbaca lawan bicara yang melihatku. Kabar bohongnya, aku mengatakan jika aku sedang masuk angin. Kututupi dadaku agar tidak semakin parah. Semua temanku percaya. Entah jika mereka masih meragukan. Yang jelas, mereka tidak pernah mendesakku lebih dalam, mengapa peta ATLAS yang kukenakan dan bukannya jaket atau sweater.

Aku belum sempat berkirim surat ke akherat. Saat hari keberuntungan itu datang. Apa pasal? Tidak sengaja, saat pelajaran kesenian Menari, tidak sengaja aku melihat baju dalam Weni.Di balik kaos dalamnya, kulihat sebuah baju yang aneh. Serupa kaos dalam tapi lebih pendek. Kaos dalam Weni lebih tipis. Siluet kaos dalam yang lebih pendek terlihat di baliknya. Kupikir itu BH, namun tak nampak menggembung. Baru kuketahui namanya saat kuberanikan bertanya, gerangan apa yang dipakainya, ternyata kaos dalam itu bernama Mini Set. Manis sekali terdengar. Weni menjelaskan tanpa malu-malu, intinya, Mini Set dipakai untuk remaja. Lebih simpel daripada bra. Serupa kaos dalam yang lebih pendek, dengan bagian dada sedikit lebih tebal. Dipakai pemula sebelum dada benar-benar tumbuh tidak terkendali seperti ibu-ibu. Konon dari mulut Weni, sedikit aneh saat mengenakannya pertama kali.

Kali pertama aku mengenal benda bernama Mini Set, hatiku riang tak kepalang tanggung. Ingin membuang kalender kisut berbau apek keringat yang kusembunyikan di bawah kasur.  Menggunakan Peta ATLAS kembali pada kodratnya. Akan kukenakan Mini Set sebagai pengganti.

Ternyata kebahagiaanku mengenal Mini Set hanya sampai sore. Baru kusadar,baik meminta Bapak untuk membelikan BH maupun Mini Set tidak pernah aku berani. Takut dan sungguh-sungguh malu. Di luar takut akan kemarahan Bapak, urusan buah dada kuyakini sedalam-dalamnya merupakan hakiki urusan wanita. Saru. Jorok. Risih rasanya menyampaikan kepada Bapak. Aduh Tuhan, aku tiba-tiba galau. Sedih dan mengutuk-ngutuk diri. Lagi-lagi marah pada Sang Pemberi hidup. Seandainya Ibu tidak meninggal lebih cepat, rasa gelisah karena dada membesar tidak akan kurasakan berlarut-larut.

Aku harus bagaimana? Bagaimana kususun kalimatku untuk meminta Mini Set pada Bapak?  Aku tidak sudi dicap anak tidak tahu sopan santun, kurang ajar serta saru, membicarakan buah dada pada laki-laki, meski itu Bapak sendiri.

Lagi-lagi tidak bisa tidur. Kalender yang telah kupakai berkali-kali sudah koyak sebagian. Tidak nyaman lagi buat menutupi. Mungkin, karena letih memikirkannya, aku tertidur sangat dalam. Aneh,aku bermimpi melihat lemari baju Bapak dan Ibu. Pagi saat aku terjaga, keringat sudah bercucuran. Gambaran melihat lemari baju Bapak dan Ibu sudah menyibukkan aku pagi-pagi. Sebuah misteri. Misteri mimpi lemari saat pikiran dipenuhi beban akan buah dada serta cara menutupinya.

Saat Bapak mandi pagi itu, kuberanikan mengendap-endap masuk kamar Bapak. Kucari lemari yang ada di mimpiku. Kuanggap itu sebuah petunjuk. Kubuka perlahan. Meninggalkan derit lirih yang hanya aku serta cicak di kamar itu yang mendengarkannya. Kupikir, aku bisa menemukan uang Bapak yang disimpan di bawah baju. Kuambil diam-diam untuk kubelikan Mini Set. Ahai… bukankah itu namanya mencuri? Aduh, aku tidak mau disesatkan oleh mimpi.Mungkin aku mendekati gila. Senewen mengatasi masalah buah dadaku. Sialan. Sekali lagi, aku tidak mau ditempeleng dengan sandal saat Bapak tahu aku mencuri uangnya. Meski kujelaskan untuk membeli Mini Set, Bapak pasti tetap tidak akan memaafkan. Bukankah, Bapak itu galaknya nggak ketulungan? Hah! Kubanting pintu lemari karena kesal. Mencuri adalah kejahatan yang tidak bisa ditoleransi. Dosa dan jika hukuman atas mencuri bisa dicicil di dunia, itu berwujud tempelengan Bapak. Membayangkan sakitnya sudah membuatku nyut-nyutan. Kesal sendiri. Aku tersesat oleh mimpi semalam. Hingga dalam hitungan sepersekian detik sebelum pintu mengatup, kulihat sebuah bayangan. Bayangan itu adalah…. Hatiku kebat-kebit tidak ketulungan. Kubisikkan kata “Terima kasih,Ibu, kuterima suratmu lewat mimpiku”

Yep! Bayangan itu adalah BH ibuku, kawan. Pun biar Ibu telah tiada empat tahun lalu, baju-baju serta pakaian dalam Ibu masih tersimpan rapi di lemari. Aku hampir menangis karena bahagia. Kubuka secepat kilat, pintu lemari itu lagi. Kudapati BH Ibu masih tersimpan di trap ketiga, tepat di depan mataku. Tertata bersama pakaian dalam Ibu yang lain. Buru-buru kuraih BH-BH Ibuku. Semampu aku meraihnya, aku segera lari ke kamar karena mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Bapak selesai mandi. Aku tidak mau tertangkap basah sebagai pencuri BH. Sungguh, tidak keren sekali. Pencuri pakaian dalam.

Kukunci pintu kamarku. Kutatap lagi BH di genggaman. 5 BH almarhum Ibuku. Yes! Tidak ada akar, rantingpun jadi. Kupilah – pilih. Kuperiksa satu per satu. Bentuknya masih lumayan. Warnanya agak kusam. Baunya apek lemari. Tentu saja, empat tahun tidak terpakai. Kumaklumi sedalam penghormatanku atas mimpi semalam. Empat di antaranya berwarna krem pucat. Sebuah berwarna hitam. Kupilih satu. Yang berwarna krem. Motifnya simpel. Setidaknya paling tidak menyengat baunya. Dag-dig-dug rasanya. Mencoba mengenakan BH untuk kali pertama. Dalam sejarah hidup. Ouw! Oh tidak…..

Masalah datang lagi kawan! BH yang kukenakan tidak pas pada posisinya. Alih-alih menutupi dadaku, malah lebih pas disebut rompi kedodoran. Betapa tidak? Dua Cup nya berada dipinggangku, persis di dekat pusar. Aku tertawa sendiri. Tawa yang pedih. Berkeluh kesah lagi. Aku baru ingat, Ibuku benar-benar wanita dewasa sebelum meninggal. Aku tidak begitu paham jika Bra juga punya ukuran. Yang aku tahu, semakin banyak anak, akan semakin besar buah dada wanita. Kupikir karena akan sering berisi ASI, dan mungkin dada Ibuku almarhum akan cukup besar karena menampung ASI enam kali. Bukankah anak  Ibuku  6 orang? Yang artinya aku tidak bisa mengenakan Bra seukuran Ibu. Aku menangis. Lirih. Sendiri. Lemas. Ingin kurasakan berhenti sekolah saja saat itu.

Pada sebuah hari, tidak lama setelah kejadian pencurian BH Ibu, entah dapat keberanian darimana aku meminta uang untuk membeli Mini Set kepada Bapak. Aku mungkin lelah serta payah berfikir sendiri, bisa jadi kalender memang bukan solusi yang tepat untuk menutupi payudara. Tidak ada lagi mimpi aneh. Tidak ada petunjuk apapun dari akherat. Surat tidak pernah tertulis. Doa bertanya saat sholat sudah jenuh kupanjatkan, mengapa dadaku tumbuh lebih cepat?

Aku hanya menguat-kuatkan diri jika Bapak murka akan pintaku. Marah jika tahu aku sudah punya buah dada. Dan akan melarang-larangku untuk begini-begitu. Pasrah. Benar-benar pasrah, selayak Belanda kalah perang. Nyaliku saja yang kubesar-besarkan untuk menghadap Bapak sepulang sekolah.

Aku ingat, aku minta uang untuk membeli Mini Set. Ya, Mini Set. Bukan BH.Bukan Bra. Panas mukaku saat kuutarakan pintaku pada Bapak. Malu. Jika aku berkaca, mungkin serupa tanggal hari minggu, yang merah warnanya, yang luntur oleh keringatku, lantas membekas dengan tanpa kendala di dadaku.

Ketakutanku tidak 100% benar. Tidak pula 100% salah. Bapak sempat bergeming saat mulutku terkatup usai meminta. Sedikit bersungut-sungut, dan meninggalkan kerutan di kening. Penuh tanya. Meski lalu tersenyum, tidak lantas meluruhkan keangkerannya. Apalagi aku dalam kondisi sebenar-benar takut. Takut dicap tidak tahu tata krama, membahas buah dada dengan orang tua. Keringatku mengucur. Gugupku  berdesak-desakkan.

Bukan Bapak jika tidak bertanya lebih lanjut, sejak kapan aku merasakan buah dadaku membesar? Kenapa harus membeli Mini Set dan bukan BH? Apa itu Mini Set? Apa beda Mini Set dengan Bra? Darimana aku mengenal Mini Set? Atas saran siapa aku harus mengenakan Mini Set dan bukan BH? Kira-kira berapa harga Mini Set? Berapa kira-kira berapa harga BH? Dimana aku akan beli Bra? Toko mana yang menjual Mini Set? Sungguh kawan, jika ada pilihan antara menjawab pertanyaan-pertanyaan Bapak dengan tidur di kuburan seberang kali, maka,  100% persen keyakinanku menjawab, aku akan lebih siap tidur di kuburan, biar seminggu aku akan lebih gagah berani menghadapi.

 Bukan lagi gugup kawan, aku menggigil. Campuran antara malu tak berperi-peri, risih, sungkan, sebal dan marah atas pertanyaan yang diberondongkan Bapak. Kupikir, harusnya Bapak memberiku uang lalu aku beli Mini Set. Selesai sudah perkara. Tidak. Aku musti, menghadapi interview sebelum mendapatkan apa yang aku ingini. Membuatku kesal dan tidak sabaran. Urusan BH, dada adalah urusan wanita, Bapak tidak seharusnya banyak membahasnya. Membuatku malu serta semakin malu. Penyakitku kumat, menyalahkan Tuhan atas situasi tidak mengenakkan ini, mengapa Ibuku dipanggil lebih cepat?

Uang dua puluh ribu ada di tangan kawan. Akhirnya. Ada lagi kabar gembira, setelah tahu payudaraku tumbuh, Bapak tidak melarangku begini-begitu seperti kata Pak De saat tahu aku datang bulan kali pertama dulu. Kabar buruknya, Bapak masih ragu akan keberadaan Mini Set. Bapak tidak mampu membayangkan apa itu Mini Set, meski hampir berbuih-buih aku menjelaskan pada beliau apa itu Mini Set. Tentu penjelasanku kopian dari penjelasan Weni tempo hari. Mungkin karena tidak seperti waktu itu, tidak ada Mini Set yang bisa kutunjukkan, membuat Bapak memaksaku membeli BH saja. Karena dalam keterbatasan pengetahuan Bapak akan macam-macam baju dalam wanita,hanya celana dalam serta BH yang mampu diketahui Bapak. Kurasakan bagaimana perasaan Belanda saat meyerah tanpa syarat. Daripada BH atau Mini Set tidak terbeli, kuiyakan saja saat Bapak memintaku membeli BH dan bukan Mini Set.

Kutuju Pasar Baru. Uang dua puluh ribu di genggaman. Senang. Betapa aku merasa konyol hari itu, menghadapi pertanyaan-pertanyaan Bapak akan kisah pertumbuahan buah dadaku. Menjijikkan dan sangat jorok untuk dibahas dalam-dalam. Dan adalah tetap menjadi rahasiaku sendiri saat aku berjuang menutupi dadaku dengan kalender serta Peta ATLAS.

Membeli BH sendiri tanpa wanita dewasa (baca : Ibu) ternyata nama lain dari bencana bagiku. Bagaimana tidak, kesenangan mendapat uang tidak mampu membesarkan nyaliku saat di pasar. Aku hampir memutari pasar Baru lebih dari tujuh kali. Bukan karena tidak ada yang menjual BH. Tapi nyatanya aku tidak sanggup berbicara pada Ibu-ibu yang menjual BH. Ternyata sama saja, baik pada Bapak yang laki-laki maupun wanita yang menjual BH, aku tidak mampu membicarakannya pada sembarang orang. BH ibarat kisah hantu yang hanya dibicarakan bisik-bisik.  Aku lebih takut ketimbang menghadapi pertanyaan Bapak sebelumnya. Lututku menggigil. Bukan hanya malu, takut dan lagi-lagi merasa tidak selayaknya anak-anak sepertiku membeli BH. Jorok. Menjijikkan. Tidak Sopan. Saru. Ah, pokoknya tidak nyaman.

Capek rasanya mengatasi masalah BH. Perang belum usai. Kupikir dengan memutari pasar, keberanianku akan muncul karena beradaptasi dengan situasi. Nyatanya aku malah seperti anak hilang di dalampasar. Tersesat. Lepas dari pegangan Ibunya. Yaa…memang tidak ada enaknya tidak punya Ibu. Aku hilang akal. Hilang keberanian. Hilang semangat untuk mendapatkan BH-ku yang pertama.

Kuingat pasti, hampir jam lima sore hari. Mungkin karena takut kena damprat Bapak karena kelamaan di pasar, kuberanikan diri menghampiri sebuah kios pakaian yang paling sepi pembeli. Tidak ada pedagang bergerombol untuk menggunjing. Tidak ada pembeli lain yang melihat-lihat. Si pedagang adalah Ibu setengah tua yang agak mengantuk. Kupikir ini tempat yang tepat. Aku tidak mau ada pihak ketiga selain aku serta pedagang yang mendengar aku membeli BH. Aku tidak sanggup ditatap penuh keheranan, penuh tanya dan praduga-praduga aneh yang membiarkan mengembara sekehendak hati mereka. Intinya aku tidak mau dianggap aneh, anak-anak membeli BH bagiku tabu. Titik. Rahasia dan musti dihadapi dengan penuh kehati-hatian nomer satu. Sip! Langkah pertama, aku berhasil masuk kios. Lirih kukatakan BH sebelum si Ibu bertanya akan maksudku. Sialan, si Ibu yang karena mengantuk malah balik bertanya dengan lantang menyadarkan kantuknya sendiri. Memastikan bahwa dia tidak salah dengar. “ Apa ? mau beli BH ?” Sungguh, di luar prediksi kawan. Ketakutanku terbukti. Beberapa pedagang dan pembeli di kios lain sempat menoleh. Beberapa acuh, beberapa tersenyum dan beberapa pasang badan menguping.

Si Ibu memang tidak bisa diajak main diam-diam. Beli BH adalah misi bahaya. Pelan dan tidak boleh gegabah. Jangan sampai salah kata lalu dianggap bocah kurang ajar yang tidak sopan. Memalukan bukan? Bocah dengan buah dada yang tumbuh?

Si Ibu hilang kantuknya. Di hadapannya seorang bocah salah tingkah yang menanyakan barang tidak lazim dibeli anak-anak. Dia celingak-celinguk. Dicarinya pendampingku? Sudah barang pasti dia mencari Ibuku? Bukankah yang pakai BH itu Ibu-Ibu? Jika dia tetap bertanya dimana Ibuku, akan kukatakan sedang pipis di WC pasar, aku dimintanya membeli BH karena beliau terkunci di dalamnya. Ah,alasan mengada-ada. Lalu kutepis diam-diam.

Eh, si Ibu pedagang yang tidak berhasil mencari orang dewasa yang menyertaiku. Dia menguap. Menyodorkan sebungkus plastik dengan puluhan model BH di dalamnya. Bagian atas sedikit berdebu. Ditepuk-tepuknya. Debu berterbangan bersama keberanianku yang tersisa. Aku menghadapi situasi klimaks. Serasa ingin pipis di celana. Di depanku beberapa BH dibentangkan. Sudah barang tentu tidak ada yang seukuranku. Tuhan, tolong aku! Beri aku keberanian barang seteguk. Lututku gemetaran. Saking takutnya, bulu kuduknya bangkit dari tidurnya. Si Ibu antusias. Lancang dia bertanya “ Ukuran Ibumu yang mana?”

Huh! Siapa bilang buat Ibuku. Badanku yang ceking dan dada yang agak besar tidak ditatapnya. Ah, dia pasti Ibu yang tidak punya anak perempuan. Hingga sekonyong-konyong dibenaknya BH hanya untuk wanita, untuk Ibu dan untuk orang sepertinya.

Aku sempat tertegun. Lalu memilah BH. Ingin terucap kata ingin beli Mini Set saja. Namun aku lebih tidak berani murtad dari saran Bapak untuk membeli BH. Ah, runyam benar urusan. BH besar-besar di depanku membuatku berkunang-kunang. Aku tidak tahan berlama-lama di sana. Mungkin beginilah rasanya di pintu neraka, lirih aku bernadzar kawan, jika BH yang tepat kudapat, aku akan rajin mengaji. Ganjil memang.

Tidak terasa tanganku hanya membolak-balik. Lupa bahwa BH punya ukuran. Tidak pula berani bertanya adakah ukuran yang lebih kecil. Si Ibu akhirnya bertanya “ Kenapa Ibumu tidak membeli BH sendiri, nduk ?” Ah, itu dia, kujawab cepat Ibu di rumah, bersama adikku. Kebohongan yang kupikir akan terdengar lebih masuk akal ketimbang Ibuku di kamar mandi umum pasar dan terkunci  di dalamnya tanpa pertolongan. Sesungguhnya akulah yang butuh pertolongan untuk segera keluar dari masalah itu.  Si Ibu mengangguk-angguk. Dipikirnya sendiri, mungkin, Ibuku kelewat repot. Mungkin punya bayi lagi. Dan si bayi tidak mungkin ditinggalkan hingga meminta anak perempuannya membeli BH di pasar. Si Ibu tersenyum menyudahi jalan pikirnya sendiri. Aku yakin si Ibu penjual itu memang berfikir demikian karena menyodorkan sebuh BH yang tampak aneh. Beda dengan BH Ibuku yang kucuri dari lemari tempo hari. Jika deskripsiku tidak salah, di tengah BH ada lubang yang bisa dibuka dan ditutup dengan terpisah. Tidak menggembung. Tanpa kawat penopang. Lebih tipis dari punya Ibuku. Desain konyolnya membuatku membayangkan Kanguru. Ada kantung bisa dibuka ditutup secara manual. Ah, ahai…seandainya kantung di tengah BH itu tidak ada, dan jika ukurannya tidak besar daripada itu, BH itu malah menyerupai Mini Set. Tanpa renda, tanpa bantalan, tanpa kawat penompang. Tanpa kantung buka tutup itu, sebenarnya BH itu paling sederhana serupa Mini Set kiraku. Warnanya krem tua polos. Jauh dari seleraku. Tak mengapa, mungkin memang tidak semua mini set bermotif Hello Kitty seperti milik Weni yang pernah kulihat itu. Talinya besar-besar dengan kawat yang ala mak jaaa, ada empat baris.

Akalku muncul bertubi-tubi. Daripada kelamaan, kubeli saja BH itu, lalu kuakali di rumah. Kujahit bagian yang bisa tutup buka, lantas, kusingkatkan saja dengan memotong bagian ujung kaitan. Jadi pas dilingkar punggungku. Aku puas. Belum dikatakan berani-berani amat, aku menggangguk. Delapan ribu harganya. Kuambil dua. Perang berakhir. Kubawa pulang dua benda pusaka itu. Bapak sempat kebingungan saat melihat jenis BH apa yang kubeli. Tidak banyak petuah atas benda keramat itu. Hanya mengangguk-angguk di depan tali jemuran saat mendapati BH aneh sudah berubah. Berhasil kuakali. Kantung buka tutup bagian tengah telah terjahit mati. Bagian pundak dua bagian terpeniti hingga lebih pendek, meninggalkan noda karat, serta bagian punggung lebih pendek dengan potongan gunting sekenanya. Intinya, BH baruku tidak terlihat baru, lebih pas disebut compang-camping, kawan.  Tak mengapa. Itu lebih baik daripada bertutup kalender ataupun peta ATLAS. Toh, letak BH yang benar ada di dalam baju ? siapa yang tahu? Betapa buruk BH pertama yang kukenakan. Hingga, beberapa tahun kemudian kutahu kawan, BH yang kubeli itu BH untuk …… Ibu menyusui.

Share:

One Comment:

  • Ary
    at 3 bulan ago

    Klo sekarang beli Lingerie yg warna item yg paling tipis, nanti pasti ada pengalaman heboh lagi….. terus lanjutkan menulis….😍

    Reply

Add comment: