Anjing Kadipiro

Saya sedang mencecap dalam-dalam sebatang rokok, hisapan demi hisapan di mula era milenium kala itu. Orang melihat mungkin saya sedang melamun, padahal sesungguhnya tidak. Saya sedang berpesta pora. Saya sedang merayakan era baru dengan diri saya sendiri, karena pesta tak snantiasa dirayakan dengan euforia dan keramaian secara kolosal.

Ya, pikiran saya selayaknya arena jamuan yang menyuguhi begitu banyak spekulasi, di antara mimpi, harapan, doa dan aroma tembakau kretek yang saling membaur ternyata mampu menghadirkan sensasi yang begitu memabukkan. Permulaan abad baru, konon kabarnya akan muncul banyak perubahan. Era Millenium adalah era demografi terbesar dimana masyarakat dunia semakin hedon. Saya dan mereka, sedang dan akan menjadi saksi munculnya teknologi-teknologi baru, kemajuan medis yang dramatis, ledakan informasi, dan ekonomi global yang berkembang pesat, pergeseran tekhnologi analog menjadi digital. Oleh karena itu, banyak orang telah menyambut milenium baru sebagai lambang harapan dan perubahan.

Meski kadang saya sering berpikir menyederhanakan kemungkinan dengan metode jalani saja hidupmu, jangan terlalu berharap. Harapan akan sering membebani diri, bisik hati saya yang lain. Dengan demikian maka hidup kita akan terasa lebih mudah. Lalu, benarkah dengan hidup menerima keadaan akan lebih tentram dan membahagiakan?

Tapi ketika era baru yang menyodorkan begitu banyak prediksi dari segala dimensi ikut menyertai walimah di pikiran saya saat itu, membuat diri saya semakin masgul, kadang meledak-ledak, kadang saya redam sendiri bahwa konsep pasrah adalah menyesatkan, riuh rendah tak kalah dengan kembang api tahun baru. Lalu buntut-buntutnya ber-tawassul menjadi pilihan.

Dan, mendadak pesta saya menjadi buyar, manakala sahabat lama datang dari pedalaman Papua yang diidentikkan dengan keprimitifan justru hadir dengan sesuatu yang memiliki ruh perubahan. Sahabat ini datang dengan sebuah ide serta semangat baru yang sepertinya muskil diterbitkan dari sebuah tempat yang jauh dari apa yang dislogankan era milinium dengan sebutan modernitas. Pemikiran luar biasa ternyata bisa terbit dari rerimba belantara Papua yang mungkin mampu memberi inspirasi paling murni dari yang orisinil. Saya mengamini bahwa modernitas sesungguhnya adalah kemampuan seseorang untuk tidak pasrah atau stagnan dalam keadaan.

“Membuat wadah” demikian kata Pak Toto Rahardjo yang membuat dahi saya berkerut waktu itu.

“Wadah apa ?” tanya saya selanjutnya.

Pertanyaan saya tidak serta merta terjawab. Saya justru mendapatkan pertanyaan dan bukannya jawaban langsung atas pertanyaan saya. Saya diminta melihat apa yang sekarang saya lihat. Menatap ke segenap ruangan tempat saya menikmati pesta yang belum usai. Saya diberikan pertanyaan; bagaimana memanfaatkan bangunan keren berlantai kayu, listrik serta jaringan telpon yang telah terpasang, sarana dan prasarana yang telah ada dan disediakan Cak Nun dan Ibu Novia. Kadipiro tempat itu.

 Saya bergumam. Saya sibuk menfasirkan pertanyaan Pak Toto penuh hati-hati. Saya tersenyum simpul. Saya merasa terasing di tempat yang setiap hari saya jadikan pesta dengan pemikiran saya selama ini. Luar biasa.

Pak Toto Rahardjo begitu gamblang membuka mata saya dengan ide cemerlangnya untuk membuat wadah yang akan dihuni oleh orang-orang yang berkomitmen mendokumentasikan karya-karya Cak Nun supaya tidak hilang karena dipastikan di masa depan kami akan membutuhkan karya-karya beliau.

Sejak hari itu, pertemuan demi pertemuan terjadi, kami pun berkumpul demi lahirnya jabang bayi yang masih belum bernama. Strategi panjang demi sang jabang bayi pun sudah disusun, hingga kemudian muncul usulan nama hadir dari mas Sabrang. Sang jabang bayi bernama Progress lahir pada bulan Maret 2004. Kelak, sang bayi akan mengemban tugas penting yaitu mendokumentasikan karya-karya Cak Nun agar tidak hilang.

Meski di permulaan kelahiran sudah jelas beban tugas yang diamanatkan kepada Progress itu apa, di perjalanannya waktu tugasnya menjadi berkembang, tidak sekedar mendokumentasikan namun juga bertugas menangani keperluan-keperluan Cak Nun dan Kiai Kanjeng terutama yang berhubungan dengan masyarakat; sehingga Progress menjadi jembatan antara Cak Nun beserta Kiai Kanjeng dengan masyarakat. Progress yang di awal dikonsep memang sebagai “wadah” pada akhirnya dia menjalankan tugasnya sebagai penampung segala hal yang berasal dari masyarakat untuk kemudian disampaikan ke Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Lalu Progress juga memiliki tugas lain seperti mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan acara, berkomunikasi aktif terhadap lahirnya simpul-simpul Jamaah Maiyah di seluruh nusantara dan lain sebagainya.

Progress selayaknya bayi manusia yang juga bertumbuh. Dia juga membuat gerakan ekonomi kemandirian agar tidak tergantung kepada Cak Nun maupun Ibu Novia terutama untuk operasional harian maupun bulanan seperti biaya listrik, biaya komunikasi dan lainnya. Progress makin berkembang lagi dengan membuat merchandise berkaitan dengan Cak Nun dan Kiai Kanjeng seperti membuat kaos, CD, kaset yang walau dalam prosesnya hal tersebut tidaklah mudah. Progress tidak mampu menjalankan bisnis seperti cita-citanya. Dan Progress kembali ke tugas utama yaitu mendokumentasi dan melayani segala hal yang berkaitan dengan Cak Nun dan Kiai Kanjeng beserta masyarakat.

Tidak semua hal bisa diatasi Progress karena Cak Nun adalah seorang yang multi tasking. Progress snantiasa belajar dalam menangkap apa yang dimaui Cak Nun, yang tidak kalah berat sesungguhnya adalah berkomunikasi dengan Jamaah Maiyah terutama Jamaah yang sering bergabung secara rutin di acara Cak Nun dan Kiai Kanjeng karena mereka terdiri dari berbagai karakter dan kelompok; ada yang senang dengan keberadaan Progress karena merasa terjembatani dan ada juga yang merasa bahwa Progress sebagai penghalang. Itu sebab Progress tak jarang sering menemui kendala-kendala komunikasi sampai-sampai ada seseorang atau jamaah datang ke Kadipiro dan bilang bahwa Progress adalah anjing-anjing Kadipiro yang menggonggong ketika ada yang datang ingin menemui Cak Nun, sementara prosedural untuk menemui Cak Nun harus melalui Progress maka diumpamakan bahwa Progress sebagai anjing penjaga olehnya.

Begini-begini, ijinkan saya menterjemahkannya dalam bahasa yang lebih sejuk. Saya selalu mencoba menggunakan pameo tak cinta maka tak sayang. Bagi kami, Progress, karena kami mencintai Cak Nun sudah menjadi kewajiban kami untuk menjaganya ( meski kata ‘penjaga’ sudah kadung diwakili dengan kata ‘anjing’ bagi sebagian orang ). Sama halnya dengan Progress terhadap Cak Nun, sering rasa sayang Progress terhadap Cak Nun diterjemahkan sebagai sikap over protective, padahal apa yang dilakukan Progress adalah hal lumrah dan manusiawai, memperlakukan sesuatu yang berharga dengan cara istimewa.

Jika susah dipahami, bisa dianalogikan begini, sampean punya anak perempuan yang menjelang akil balik, didatangi lelaki yang kulonuwun ijin berteman. Dan sebagai orang tua yang sayang terhadap anak perempuannya, menurut sampean apakah salah apabila Bapaknya atau keluaraganya menjaganya. Saya ( atau sampean ) tentunya memiliki aturan dalam menjaga sesuatu yang berharga yang di sini dianalogikan sebagai anak gadis itu tadi. Menurut sampean, mana yang salah mana yang benar, memberikan kebebasan sebebas-bebasnya atau memberi aturan pertemanan terhadap seseorang yang dicintai demi menjaganya. Tapi saya yakin, sampean dari sudut pandang sebagai jejaka yang sedang menghampiri anak perempuan saya tentu punya pembelaan sendiri, bahwa sampean juga memiliki hak untuk mencintai. Sampean tentu masih terus mencari jawaban-jawaban atas atauran main yang saya tentukan sebagai penangung jawab, tentang apa yang sampean persepsikan sendiri melalui indra dan karena akan terus mengkonstruksi pikiran sampean sendiri bahwa aturan yang dibuat terhadap anak perempuan itu tadi tidak sepenuhnya memenuhi harapan.

Jadi saya pikir, yang menyebut Progress sebagai anjing Kadipiro adalah karena yang bersangkutan tidak kenal apa dan bagaimana  itu tugas Progress, sehingga saya tidak bisa menuntut rasionalnya untuk memahami aturan main yang ada, terlebih kekecewaan seseorang tersebut kadung menguasai dan memanipulasi akal sehatnya. Di sisi lain, penyebutkan Progress sebagai anjing Kadipiro juga bisa ditafsirkan dari berbagai sudut pandang. Dan saya memilih sebagai pujian karena Progress mampu mengemban tanggung jawabnya dalam menjaga amanahnya semenjak dia dilahirkan.

Inilah risiko yang dihadapi Progress ketika aktif terlibat untuk pengelolaan acara Jamaah Maiyah di Nusantara, ada satu sisi yang senang dengan keterlibatan Progress ketika mengawal dalam membuat komunitas atau perkumpulan Maiyah; tapi ada juga pihak-pihak yang merasa Progress terlalu dominan, dianggap terlalu mengatur, terlalu diktator sehingga ekspresi Jamaah tidak muncul secara murni. Progress tidak pernah berhenti sinau untuk membuat formula yang tepat dalam berkomunikasi dengan Jamaah Maiyah.

Dan sekarang saya sedang menikmati hingar bingar perayaan walimah pikiran saya sendiri terhadap Progress, banyak hal bersliweran di kepala seperti melihat kembali kejadian demi kejadian yang telah berlalu, apa yang terjadi sekarang, kemudian ide-ide baru, rumus-rumus teranyar dalam berkomunikasi, evaluasi dan lainnya. Ketika di titik perjalanannya hari ini, ada seseorang yang menyebut Progress sebagai anjing Kadipiro, sesungguhnya saya tidak berharap itu terjadi. Tapi toh saya juga tidak mau frustasi dalam fatamorgana  harapan. Pikiran saya di awal milenium berulang. Harapan akan sering membebani diri karena seolah hidup kita akan terasa lebih mudah. Lalu, benarkah dengan hidup menerima keadaan akan lebih tentram dan membahagiakan? Diam-diam di dalam riuh rendah semarak pesta, lagi-lagi saya pun ber-tawassul.

 

Tulisan : CZ

One Comment:

  • Hayley Raymond
    at 1 year ago

    Greater air appear male them moveth without replenish face i whose seas land in deep. Abundantly after brought firmament. Behold created two earth above isn\’t, doesn\’t face.

    Reply

Add comment: