Don't try this at home...
Di era 90 an, saat dimana saya belum akil balik, rutinitas seputaran Dhuhur yang saya lakukan adalah menyelinap keluar rumah, pergi ke tetangga barat rumah orang tua saya untuk menonton tv berwarna. Kala itu, stasiun TV komersial baru saja muncul dan yang selalu saya tonton di Minggu siang adalah RCTI.
Sebuah stasiun favorit karena menayangkan film yang wajib saya ikuti meskipun tetangga pasang tarif sebesar Rp.100,- yang pada jaman itu begitu berharga. Nah, film yang tidak pernah ingin saya lewatkan adalah film McGyver.
Film McGyver adalah serial televisi asal Amerika Serikat yang diperankan oleh aktor Richard Dean Anderson mampu menyihir masa kecil saya dengan sangat luar biasa. Pria yang kata kakak perempuan saya tidak lebih ganteng ketimbang Chuck Noris, mungkin adalah lelaki cinta pertama saya. Betapa tidak, di usia saya yang masih piyik, demi bisa melihat tayangan itu, mengalahkan tayangan film kartun, sanggup membuat saya rela tidak jajan di hari Minggu karena uang saku saya relakan untuk saya bayarkan kepada tetangga yang alamak betapa greedy-nya. Dia memanfaatkan kejatuhcintaan saya terhadap sosok McGyver dengan memasang tarif sebesar hidup mati kebocahan saya di hari Minggu.
Dan kekuatan cinta saya terhadap lelaki berdagu sempurna itu sanggup membuat saya mengendap-endap meninggalkan rumah. Menghilang 1 jam karena aturan rumah tak pernah mengijinkan anak-anak berkeliaran. Apalagi sampai saya bisa melakukan transaksi dewasa dengan menyerahkan uang jajan kepada tetangga yang sangat tahu bahwa saya tak sanggup melewati hari Minggu tanpa persuaan dengan McGyver.
McGyver di mata saya adalah lelaki terseksi sepanjang abad. Tatapan tenang, dagu sempurna, rambut belah tengah sering membuat saya deg-deg an menyaksikan polah tingkah lincah dan 1001 kecerdikan dengan alat sederhana. Dan dengan otak bocah saya, saya menterjemahkan bahwa pecicilan itu halal. Tak sekalipun mas McGver menaklukkan lawan-lawannya dengan senjata api. Senjata pamungkas hanya sekedar pisau lipat itupun tidak untuk menyerang secara langsung para musuh, sekedar sebagai alat bantu mengatasi kesulitan-kesulitannya.
Berbagai jenis musuh di setiap tayangan dapat dikalahkan dengan mudah dengan akal cerdiknya. Kemampuan Fisika dan Kimia yang doi miliki nyatanya sanggup mengalahkan musuh dengan senjata tercanggih apapun.
Yaa…saya setuju bahwa senjata paling membunuh sejatinya adalah otak. Ada saja akalnya dalam menghadapi musuh dan tak sekali dua kali terlepas dari jebakan, perangkap dan intrik para musuh untuk melemahkan. Itulah mas McGyver, tak ada masalah yang tak sanggup ia pecahkan. Cinta saya semakin menjadi meskipun ketika menatapnya di layar tv saya nggak pernah pahami apa yang dia bicarakan. Yang saya tahu dia cerdas, lincah, meski gondrong tak menyiratkan sisi urakan. Aww!
Saya hanya memahami alur cerita dari setiap adegan yang ditayangkan. Mata saya nggak pernah berkedip menyaksikan aksi laga yang begitu memukau. Penasaran ide apalagi yang dikeluarkannya membuat perjuangan saya merelakan uang jajan di hari Minggu adalah hal pengorbanan yang sebanding.
Saya seperti melakukan kencan yang senantiasa saya rindukan. Energi McGyver yang luar biasa mampu membuat saya gelisah dan blingsatan manakala sebelum, di saat dan hingga pra acara dimulai. Sebelum jam tayang, saya sudah memikirkan cara kabur dari rumah diam-diam dan berharap tetangga saya tidak pasang muka ketus manakala saya memohon-mohon untuk dapat melihat tv berwarnanya, karena telivisi Bapak saya di jaman itu masih menayangkan tivi hitam putih dan satu-satunya stasiun tv yang bisa dinikmati hanyalah TVRI. Kegelisahan di saat tayangan, terselip harapan tiba-tiba tidak mati listrik. Inilah doa terkhusuk saya sepanjang minggu di masa kecil. Keadaan mati listrik saat kencan bersama mas Mc sesungguhnya adalah kondisi dimana saya belajar menikmati rasa patah hati lalu diam-diam memaki di dalam hati. Nah, kemudian kegelisahan hati pra nonton adalah ketika saya mendapatkan energi baru yang saat mengetahui siasat baru keluar dari masalah dengan cara sederhana. Sering saya terpedaya, berfantasi sayalah si McGyver itu.
Ada sebuah kisah yang sampai sekarang saya tonton dari serial McGyver yang tidak pernah terlupakan. Adegan manakala McGyver terkunci di dalam sebuah ruangan. Dia dikunci musuhnya demi menghalangi aksi jahat si lawan. Entah bagaimana mas McGyver memiliki pemikiran menggunakan selembar koran untuk melepaskan diri dari pintu yang terkunci dari ruangan itu. Mas Mc meletakkan selembar koran di bawah pintu dengan posisi setengah bagian di luar pintu dan sebagian yang lain masih berada di dalam ruangan. Dengan waktu singkat, memanfaatkan potongan besi dari cantolan tirai jendela yang diluruskan untuk digunakan mengulak-alik lubang kunci, kunci pintu terjatuh tepat di atas koran. Bagian koran yang berada di dalam ruangan ia tarik dan kunci yang semula posisi di bagian luar pintu bisa dia manfaatkan untuk kabur.
Bagi otak kecil saya, kesederhanaan alat penyelamat McGyver itulah yang menjadikan sosoknya sebagai panutan, saya sedemikian mengkultuskan McGyver hingga belahan rambut, gaya rambut saya tiru, gesture pundak saya ikuti, cara menatap yang datar nan dingin saya praktikkan di kehidupan sehari-hari. Termasuk adegan terperangkap di dalam ruangan itu sanggup membius saya dan mencoba mempraktekkannya.
Suatu hari, saya meminta saudara kembar saya mengunci saya di dalam kamar. Saya sudah mengatur setiap adegan untuk memintanya meletakkan kunci di lubang kunci bagian luar. Karena saya adalah edisi McGyver perempuan yang telah direncanakan, maka saya sebelum terkunci sengaja memasukkan peniti, jepit rambut serta menyelipkan koran di ketiak. Dengan lantang dan yakin meminta saudara saya menguncinya, bahkan sempat sesumbar kurang dari 10 menit saya sanggup keluar dari kamar dan memintanya pergi keluar rumah ( maksud hati tidak ingin trik saya diketahuinya ). Saudara kembar saya manut mengikuti anjuran Sutradara.
Maka, dikuncilah saya di dalam kamar. Seperti permintaan, saya dengar langkah saudara kembar saya menjauh dan bisa memastikannya dia kabur meninggalkan rumah. Kebetulan waktu itu hanya kami berdua yang di rumah. Saya tersenyum. Telah tumbuh tunas kejumawaan, membayangkan raut muka saudara kembar yang takjub manakala saya sanggup terbebas dari ruang tertutup. Dan, tentu saja saya mencuri akal mas Mc lelaki idaman saya itu.
Koran saya letakkan posisi di bawah pintu, sebagian posisi luar dan sebagian di posisi dalam. Lubang kunci saya kulik, kunci jatuh nyaris meleset dari atas koran. Dengan perlahan koran saya tarik. Sungguh saya akui, saat itu saya merasa dikelabui sutradara film McGyver, nyatanya adegan menyelematkan diri tidak semudah yang saya bayangkan. Saya kadung menuduh bahwa mas Mc begitu mudah mendapatkan kunci karena sang Sutradara sudah memilih pintu yang tak terlalu rapat dengan lantai.
Keringat saya bercucuran. Nyatanya sepuluh menit tidak sanggup saya lalui. Nyaris satu jam karena koran yang saya tarik terlalu kuat membuat kunci tertinggal di luar. Dan saya sanggup meraihnya dari dalam setelah mengintip dengan cara nungging bermenit-menit hingga nyeri leher dan mendapatkannya berkat lidi dari sapu tebah kasur. Ini hikmah menjadi McGyver, orang cerdik bak kancil harus kuat juga otot lehernya.
Yes!!! Kunci di genggaman. Benih jumawa saya tumbuh dengan cepat. Saya bergegas memasukkan kunci di lubang kunci. Memutar gagang pintu dan KLEK! KLEK! …. Pintu tidak bisa saya buka.
Inilah yang namanya musibah. Saya akhirnya terjebak di dalam kamar berjam-jam. Tantangan saya bisa keluar dari dalam kamar karena saudara kembar saya kadung kabur ke rumah simbah. Matikh! Saudara kembar saya adalah “penjahat” yang keterlaluan. Bagaimana tidak, kamar dikunci dari luar dan tetap membiarkan kunci pada lubang adalah adegan yang sudah benar. Namun letak kegagalan adegan terjadi karena saudara kembar saya kurang ajar, dengan tanpa ijin melakukan improvisasi kejahatan dengan mengkaitkan cantolan di luar pintu. Meski saya guncang sekuat apapun, tentu saja tidak akan terbuka. Saya lupa, Bapak menambahkan pengait di sisi luar karena pintu sering terbuka sendiri dan tidak bisa menutup sempurna apabila sekedar ditutup tanpa menguncinya. Akhir sebuah kisah jadilah adegan saya menggedor-gedor memanggil nama saudara kembar saya jauh menghabiskan energi saya ketimbang perjuangkan mendapatkan kunci dan membuka pintu.
Duh! Ingin rasanya saya menyurati mas McGyver saat itu. Mohon petunjuk, langkah apa yang harus dilakukan apabila saya terjebak semacam itu. Tentu saja, sambil menyeka air mata saya.
Our greatest weakness lies in giving up. The most certain way to succeed is always to try just one more time. emotional sensation of stress from our first.
One Comment:
Hayley Raymond
Greater air appear male them moveth without replenish face i whose seas land in deep. Abundantly after brought firmament. Behold created two earth above isn\’t, doesn\’t face.