Kebahagiaan Instan

Hidup ini buat apa ? sampai detik ini saya nggak ngerti.

Pernah suatu ketika, saya mengajak diri saya berbicara serius dengan diri saya sendiri, setelah sekian lama saya mengacuhkannya. Saya terlalu sibuk tentang hidup orang lain dan segala permasalahannya.

Hari ini….

Saya menerima WA dari mantan Bos yang bertahun lamanya tidak ketemu. Bos cerdas, gesit, segudang ide-ide liar, namun genit. (Mantan) Bos ngajak makan siang. Saya sempat kaget ada Video call dari nomer si pak Bos. Saya reject. Saya tidak siap. Saya kondisi tidak berhijab dan keputusan hanya sekedar Chat saya anggap baik. Oh ya, mantan pak Bos saya adalah orang yang sangat suka membully. Membully anak buah yang secara fisik dianggapnya tidak menarik. Dan saya adalah mantan anak buahnya yang paling sering dapat bully, cela, hina dina, olok-olok karena tidak memiliki kaki jenjang, tidak memiliki tinggi di atas 168cm, berat badan tidak di angka 40 an, tidak memiliki wajah tirus, tidak pernah pantas bersolek, karena sekali saya bersolek banyak teman sekantor menjerit-jerit ketakutan. Yaa…saya tidak berbakat dalam menggunakan make up meski salah satu faktor saya diterima kerja di kantor tersebut konon kabarnya karena saya jago gambar dan design, namun gagal saya implementasikan ke muka saya. Hahaha, alhamdulillah, saya tak sekalipun sakit hati. Prinsip saya, manusia yang hobby mencela orang adalah orang insecure. So yes, saya tidak mau dimanipulasi perasaan orang insecure. Apapun bully-an Pak Bos yang demen hire perempuan-perempuan manequine sejatinya sedang mengidap feeling insecure yang justru patut saya kasihani.

Kembali ke mantan pak Bos yang tiba-tiba ngajak makan siang. Saya kenal sekali pak Bos yang selalu memiliki maksud ketika sedang berbaik hati dengan ngajak makan siang misalnya, apalagi ngajak makan manusia paling tidak menarik di jagat raya macam saya.

Dan setelah dapat ijin suami saya, saya kirim balasan di Whatsapp saya “Oke Bos, kapan, dimana, jam berapa ?”

Akhir sebuah kisah, kami ketemu di Sop Pak Min dekat Melia Purosani. Pak Bos yang selalu on time dan mengajarkan ke semua tentang disiplin waktu nampak minta maaf atas keterlambatannya. Ini yang saya suka dari mantan pak Bos saya, selama saya kerja dengannya tidak ada keterlambatan meeting, event, ngantor, apapun DILARANG KERAS TELAT. Bahkan ketika rapat, si Bos telat 3 menit, anak buah boleh walk out. On Time. Termasuk jam pulang kerja. Tidak ada lembur. Bos menjunjung tinggi juga perihal hidup tak sekedar kerja, namun juga bersenang-senang.

Nah, pertemuan dimulai. Kalimat yang saya dengar adalah “maaf aku terlambat” dan kalimat berikutnya adalah “uedannn, tambah gemuk aja lu” ….alhamdulillah Pak Bos tidak berubah. 🙂

Apa yang saya curigai terbukti. Selalu ada maksud terselubung dalam kebaikan pak Bos. Dan sebenarnya saya menyesal mengapa menyanggupi ajakan makan siangnya. Usut punya usut pak Bos sedang “mengincar” teman saya, yang juga lama tidak saya temui. Luar biasaaaa,,,,,,pak Bos saya ketemuan dengan teman saya di sebuah event. Mereka bertukar kartu nama, basa-basi, sampai kemudian merunut pernah kerja dimana hingga akhirnya menemukan ‘nama saya’ dalam basa-basi mereka. Endingnya, kegenitan pak Bos saya berlanjut, dia mengincar teman saya yang memang tinggi, modis, cantik, kulit putih, meriah, ceria, easy going apapun sifat positif melekat padanya. Nggak heran kalau banyak lelaki termasuk mantan pak Bos saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Pak Bos minta saya membantunya mendekatinya. Jawaban saya. TIDAK. Pak Bos lelaki mata keranjang beranak dua dengan mantan sebatalyon dan teman saya juga telah menikah meskipun belasan tahun belum dikarunia anak.

Pak Bos memohon. Saya bilang DOSA. Stop, jangan ganggu teman saya, kataku. Pak Bos bilang ” Tidak, saya tidak mengganggu. Hanya stand by ” Ini watak keras kepala mantan pak Bos yang memang menyebalkan dari dulu. Pantang menyerah serta ngeyelan.

Pak Bos, mohon maaf saya ceritakan lagi gambaran tentang beliau. Manager Regional sebuah Perusahaan buesarrrrrrrrr di Indonesia. Kariernya melesat tajam dibanding senior-seniornya karena kecerdasan, kejeniusan, kelincahannya. Di perusahaan saya dulu, sudah terkenal wataknya yang ngeyel, suka berdebat dan tidak malu dengan sifat genitnya yang demen ‘macari’ perempuan-perempuan yang dianggapnya sexy ( baca menarik ). Kelas perempuan koleksinya memang diakui perusahaan. Tidak ada anak buahnya yang memiliki tubuh semampai, tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia, modis, kekinian dan wangi. Kecuali saya. Hanya saya anak buahnya yang kebalikan dari “prasyarat keindahan” di matanya serta nafsunya. Namun justru saya berada di posisi tangan kanannya kala itu, yang selalu kenyang dibanding-bandingkan dengan anak buah yang kalau ke kantor saya serasa berada di Milan, melihat para model lalu lalang. Hanya saya yang didapuk tangan kanan buruk rupa, selalu lahap jika disodori makanan jenis apapun. Tidak peduli saya ditatap dengan jijjik para anak buah yang lain yang merasa dosa besar makan 3 sendok makan nasi. Kalau Anda menduga bahwa anak buah yang memiliki tubuh manequin memang direkrut untuk membuat pak Bos semangat bekerja adalah benar. Namun di kantor saya yang dulu, semua master plan saya sendiri yang dicambuk-cambuk untuk membuatnya, Action Plan harian, mingguan dan tahunan yang harusnya jadi tugas mantan pak Bos, dilimpahkan ke saya termasuk laporan. Implementasinya juga pada akhirnya dibebankan ke saya untuk pencapaian targetnya. Sehingga saya merasa bahwa saya adalah “tumbal” di pusaran kantor dimana para manequin berkumpul. Namun, pak Bos memang tidak seburuk itu, hanya saya yang bergaji 2x dalam sebulan di kantor. Meski kerap dihina, dicela, pak Bos justru tidak pernah mengijinkan saya hengkang dari kantor.

Meskipun pak Bos mata keranjang tingkat dewa, sejatinya sosok pak Bos bukanlah seperti pak Bos di tivi-tivi. Tinggi saya 167. Pak Bos memiliki tinggi 164. Lebih pendek sedikit daripada saya. Tubuhnya cungkring. Rambut diminyaki trendy. Baju modis, paling malas pakai jas. Maniak dengan dunia fotography, buku, tekhnologi dan National Geographic. Berkaca mata tebal. Kalau ngomong cepat. Habis bicara tentang bagaimana Kuda Nil beranak, tiba-tiba berubah pembicaraan tentang tekhnik Bokeh, lima menit kemudian bisa mencela-cela sebuah partai politik, tiga menit kemudian cerita tentang penyanyi Dangdut asal Blora yang pernah dia tiduri.

Begitulah, secara fisik, Pak Bos serupa dengan Detective Conan edisi mengecil. Secara akhlak seperti Don Juan atau artis Bokep papan atas yang kebanyakan obat kuat, namun secara pemikiran mantan Pak Bos adalah Tivi konslet kena petir. Berdesing-desing merubah pembicaraan secara tidak jelas. Tidak ada preambule apalagi penutupan doa. Dinamika pikirannya melesat, gesit seperti saat dia mengincar perempuan yang dia mau. Jadi, mengapa saya tidak pernah bersedih ketika saya dihina dan dibully : jelek, gendut, emak-emak atau apapun…. Saya malah ketawa, di kantor saya dahulu, karyawan 45 persen perempuan manequin, berkaki angsa, berpanggul mungil,  64 persen lelaki trendy kekinian dengan otak kelas pemikir dan 1 persen dihuni makhluk jadi-jadian. 1 persen itu adalah saya dan tentu saja Pak Bos.

Comments (2):

  • Hayley Raymond
    at 2 tahun ago

    Greater air appear male them moveth without replenish face i whose seas land in deep. Abundantly after brought firmament. Behold created two earth above isn\’t, doesn\’t face.

    Reply
  • Ary
    at 4 bulan ago

    Klo pen tau buat apa kita hidup, ….. kek nya, qta perlu ngobar nih … dan emang mutlak harus tau kan, kmana tujuan akhir nanti ……

    Reply

Add comment: