<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Santi</title>
	<atom:link href="https://www.menyambutpagi.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.menyambutpagi.com</link>
	<description>Menyambut Pagi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 27 Feb 2023 06:54:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.1.1</generator>

<image>
	<url>https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2021/12/cropped-FAV-32x32.png</url>
	<title>Santi</title>
	<link>https://www.menyambutpagi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>ATM</title>
		<link>https://www.menyambutpagi.com/atm/</link>
					<comments>https://www.menyambutpagi.com/atm/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[menyambutpagi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2023 03:51:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.menyambutpagi.com/?p=431</guid>

					<description><![CDATA[Anak2 Sales Force di era saya, suka banget dicekoki pola ATM (Amati, Tiru &#38; Modifikasi). Setelah sekian dekade, saya pikir2 &#8220;Apa yang kita amati, tiru, modifikasi hanyalah result, bukan proses&#8221; &#8230; hasil akhir, bukan hows the business work? Adakah yang tahu behind the scene seorang CEO and team jungkir balik mengatasi masalah &#38; tantangan menuju [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Anak2 Sales Force di era saya, suka banget dicekoki pola ATM (Amati, Tiru &amp; Modifikasi). Setelah sekian dekade, saya pikir2 &#8220;<span style="text-decoration: underline;">Apa yang kita amati, tiru, modifikasi hanyalah result, bukan proses</span>&#8221; &#8230; hasil akhir, bukan hows the business work? Adakah yang tahu behind the scene seorang CEO and team jungkir balik mengatasi masalah &amp; tantangan menuju result tsb? Nggak usah bicara njlimentnya sebuah manajemen bisnis, kita bicara sederhana saja, apakah BIG Result sebuah bisnis juga imposible diciptakan jika masing-masing team tidak memiliki bonding, chemistry dan mimpi yang sama ? apakah sense belonging di team, perasaan peka bisa diteropong pakai pola Amati Tiru Modifikasi ??? Katanya cinta itu melayani, how we serve to what we love tulus-ly. Bahkan Google jadi perusahaan percontohan membuat kantor dan layanan nyaman buat karyawannya, agar karyawan merasa homy di tempat kerja, nyaman&#8230;yaa nyaman tidak sekedar tentang ruang, tapi nyaman juga soal perasaan &#8230;.. Kenyamanan bisa menciptakan bonding dan chemistry yang kuat demi tujuan yang suangatt BESAR &#8230; sepertinya begitu yang dipikirkan bosnya Google.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Hari itu, di sebuah Cafe, seputaran Tegalrejo Jogja, saya dan Team berkumpul. Saya memaparkan sebuah ide. A-Z langkah demi langkah upaya menuju ke Tujuan/ Hasil saya paparkan, saya pikir, setelah sebagian besar team sudah ngopi, mereka bakal paham, setidaknya bisa masuk pada frekwensi saya. Dan yang terjadi, satu dari mereka ngatai mereka &#8220;<em>Kalau mimpi jangan terlalu tinggi, nanti ketabrak pesawat</em>&#8220;. Tak terbantahkan asupan cafein dari Gayo, Robusta hari itu menjadi amunisi bagi Team saya untuk ngatai saya gila. Dan salah satu evidence kegilaan saya, kata mereka, terlihat nyata dari kantor yang dipenuhi dengan tempelan kertas plano berjajar, tidak sekedar memenuhi ruangan saya, namun juga ruang tamu, ruang meeting dan ruang departemen sebelah.</p>
<p style="text-align: justify;">Mimpi saya yes, <em>exactly</em> hasil ATM, Amati Tiru Modifikasi milik seorang pemimpi, yang kagak ngarti apa-apa tentang coding, pemrograman, <em>but</em> dia berhasil menemukan orang yang membiayai ide di kepalanya, <em>make it come TRUE</em>, itu terjadi <em>juaaauh</em> sebelum sistem-sistem ATM yang beredar sekarang ini ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ide yang saya paparkan ke team saya hari itu, adalah CELAH yang tidak atau belum terpikirkan dari System yang dia buat. &#8220;<em>This is the genuine treasur</em>e!&#8221; bisik saya kepada team. Saya ditanyai, darimana modalnya ??? mendevelop system senjlimet itu perlu modal dan team yang kokoh seperti baja, tak berjamur apalagi melempem saat musim hujan tiba. Saya katakan, &#8220;<em>Saya akan lakukan, seperti orang gila sebelum saya lakukan. Saya cari orang yang akan mendanai ide saya, ke ujung dunia saya akan saya temukan</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>And</em>&#8230;. <em>Long story short</em> 3 dari 5 Team saya menalak saya sebagai teman. Mereka bilang, sudah saatnya diperiksakan. Perlu aspirin, kalau perlu dosis dobel. <em>As you can see</em>, semangat saya terbuat dari api, tapi bisa padam dengan air mata berminggu-minggu lamanya karena justru saat saya perlu dukungan moril dan spirituil, saya ulangi, moril dan spirituil (<em>this it!</em>) tidak ada kata materiil <em>on it.</em> Tapi mereka paling lengking suara ketawanya, <em>they call me crazy, fucking crazy</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya ingat hari itu, setelah berhari-hari tenggelam dalam kesedihan ditinggal team, seorang sahabat sekaligus kakak, mbak Tika datang ke rumah, mengusap kepala saya, seminggu lebih saya mewek dan lemah tak berdaya. Saya ingat dia tidak bilang &#8220;<em>Ayok semangat</em>!!&#8221; &#8230;. Tidak. Yang mbak Tika katakan &#8220;A<em>yok makan dek, sudah seminggu kamu belum makan apa-apa, ingat, untuk menunjukkan kamu memang tidak gila perlu tenaga</em>&#8220;. &#8230;. Mata saya lebam seperti Mike Tyson ketinju, eh, belum sembuh kesengat ratu Tawon Vespa lagi PMS. Dia peluk saya erat. &#8220;<em>Mandi ya dek, baumu udah kayak TPS Piyungan</em>&#8221; bisiknya dengan senyum sepanjang Anyer Panarukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari itu, saya sadar, saya hanya perlu 1 orang untuk membuktikan bahwa kegilaan saya bisa saya wujudkan. Membeli buku-buku tentang sistem, pola-pola manajemen industri yang sudah IPO, pola-pola pendanaan dunia digital hingga berselencar ke dunia maya, mempelajari profile puluhan Venture Capital di seluruh belahan dunia. Saya tantrum, hari itu.</p>
<p><strong>Ini yang membuka mata saya.</strong></p>
<figure id="attachment_454" aria-describedby="caption-attachment-454" style="width: 640px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" loading="lazy" class="wp-image-454 size-full" src="https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2023/02/IMG-20141213-WA0005.jpg" alt="" width="640" height="640" srcset="https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2023/02/IMG-20141213-WA0005.jpg 640w, https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2023/02/IMG-20141213-WA0005-300x300.jpg 300w, https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2023/02/IMG-20141213-WA0005-150x150.jpg 150w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><figcaption id="caption-attachment-454" class="wp-caption-text"><em>Koh Surya and team after Gudeg time. They teach me, hows big company work</em></figcaption></figure>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan saya menuju mimpi, suatu hari, WA saya berbunyi, diminta ngawal anak dan keponakan <em>owner</em> sebuah pabrik rokok TERBESAR di negeri ini untuk menjemput di bandara dan menemani makan gudeg di jalan Solo. Seperti yang sudah-sudah, bergaul sama mereka, saya harus memperluas wawasan saya tentang teori Tahu Gejrot Cirebon, hingga pola penghormatan kaum Chinese kepada nenek moyang. Dalam pembicaraan acak tentang strategi bisnis rokok, advertising hingga tawaran mereka konsorsium di dunia  <em>Internet Service Provider </em>yang konon kabarnya narik langsung dari Singapur, terucap rasan-rasan soal Bill Gates. Kata Rionald hari itu &#8220;<em>Mbak Santi tahu Bill Gates cuman punya saham 1% di Microsoft ? &#8230;hanya 1% mbak, so, jika mbak Santi mau approach ke VC dan bermimpi dapat kue 50%, you are not really as crazy as you though. Saran saya, minta saja 2% atau 5% jika target angka yang mbak minta sebesar itu.</em>&#8220;</p>
<p>&#8220;<em>Nggak bisa, ko. Ini pure ide saya, mimpi saya, blue print ada di kepala saya</em>&#8221; secara default saya nge-Gas.</p>
<p>Si Rionald tersenyum, dia pesen krecek sebesek untuk dibawa ke Jakarta, ko Surya minta gudeg kering dibawa ke Singapura. Lalu keduanya mentertawakan saya. Saya mengeluarkan gesture protes, kedua tangan dan kerutan alis saya komplen &#8220;<em>Apa yang lucu</em> ??? <em>heloow.</em>..&#8221;</p>
<p>Dengan tenang dan sedikit cadel, Ernest menyahut &#8220;<em>Iya, benerrr&#8230; itu idemu mbak, semua kerumitan di kepalamu, bener, tapi mbak punya duit berapa ? team berapa dan sekuat apa ? paham apa soal saham ? IPO ? regulasi dan aturan keuangan global ? Mbak cuman perlu CUAN, duduk diam, you pegang kendali, tidak terjun ke koding, urusan legal, manajemen, finance, penetrasi sistem ke pasar dan lain-lain, dan lain-lain, you just tell what the next???</em>&#8221;</p>
<p>Saya kalah telak. Tetep manyun, tapi kudu ditelan.</p>
<p>&#8220;<em>Mbak pilih mana ? punya 100% saham sebesar nasi gudeg sepiring atau 5% dari warung Gudeg ini ?</em>&#8221;</p>
<p>&#8230;.<em>OH DAMN SH**</em>!!!! betapa gobloknya&#8230;.</p>
<p>Dan keluarga besar pabrik rokok itu tertawa tergelak-gelak, beberapa nambah es teh dan membuat adu tos, lalu merayakan orang bodoh macam saya.</p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>Ya, perjuangan harus tetap dilanjutkan, dengan atau tanpa team&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya buka laptop, membuat Pitch Deck 12 halaman, memperingkas kata-kata, <em>only the point of What,Who, Why, and How </em>. Dan mengirimkan Proposal ke puluhan hingga ratusan Venture Capital yang telah saya se<em>creening</em> berminggu-minggu. Menunggu kabar dengan melatih beberapa dixie-dixie tentang keuangan Global yang mungkin hanya Tuhan dan ahli Ekonom yang paham. Yang saya yakini, <span style="text-decoration: underline;"><strong>Tuhan bersama orang yang pantang menyerah</strong></span>. Dari ratusan email yang saya kirimkan, 33 Email balasan pada akhirnya saya terima dalam waktu yang teramat dekat. Salah satunya dari Silicon Valley dimana CEO nya adalah Aston Kutcher, iya, mas Aston yang ganteng itu. Hari itu, Boshe pindah ke batin dan pikiran saya, jedag-jedug menghadapi kenyataan mereka mengundang saya virtual meeting.  Saya di Jogja, mereka di California. Beberapa sekedar say hai, beberapa merever proposal saya ke VC di Indonesia rekanan mereka, beberapa menyarankan saya ke VC yang memang fokus pada <em>seed funding</em>, beberapa ngajak berbincang via Skype.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Alhamdulillah</em>, ya Allah, saya jingkrak-jingkrak. Setidaknya, saya hari itu merasa semenawan Dian Sastro yang diajak dating beberapa pejantan dalam waktu hampir bersamaan. Suara lolongan saya tidak ada habis-habisnya. A<em>w&#8230;.aw&#8230;aw&#8230;.!!!</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kisah bahagia belum selesai, 33 VC yang merespon proposal saya berguguran satu persatu, alasan banyak, beberapa justru menawarkan pendanaan saya yang cukup besar, senilai saya bisa bikin perumahan di kawasan Kemang, cuman endingnya gak menarik, saya harus membinasakan mimpi saya. Beberapa menawarkan pendanaan yang yaaaah&#8230;receh sih, tapi saya diminta menuliskan semua Blue Print, menandatangani NDA yang<em> at the end, i have to get out from my own dream</em>. Dan, setelah seleksi alam, satu diantaranya, mengundang saya ke kantor perwakilan mereka di Singapore, melanjutkan pertemuan di Jakarta, dan saya akhirnya menandatangani kontrak.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamu tahu apa yang saya lakukan selanjutnya ? Saya menggedor kawan saya mentertawakan kegilaan saya di sebuah kantor di Babarsari. Tak ada salam, saya lempar fotocopy kontrak tsb ke mukanya &#8220;<em>Silahkan tertawa lagi, sesuka kamu. I can make it, brow, with or without you</em>!!!&#8221;</p>
<p><strong>***</strong></p>
<p><strong>HARI INI</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saya merasa De Javu atas kejadian hari itu. <em>Feeling Lonely</em>, adalah perasaan paling mematikan semangat. Berapa minggu sudah saya menangis terisak. Yang membedakan, tidak ada mbak Tika hari ini, tidak ada. Yang ada seorang kawan, yang menemani saya makan Steak, lalu hujan turun. Sialnya, saya makan di ruang terbuka, batin saya kondensasi. Jika kawan saya itu mengatakan kalimat yang sama :</p>
<p>&#8220;<em>Kamu makan dulu, orang gila juga perlu tenaga. Kamu mandi dulu, aromamu seperti TPS Bantar Gebang&#8221;</em> rasa-rasanya, saya sudah mengatasi hal tersebut. Makan steak dan kehujanan, seperti bukan Mbak Tika yang mengingatkan saya, tapi langsung Gusti Allah yang memintanya, dan meng-eksekusinya pada waktu yang sama. Masya&#8217;allah, saya kalau patah hati memang semenjijikkan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurang dari 2 bulan ini, saya sesungguhnya sudah kluyuran ke beberapa kota, merenungi dan meratapi perasaan &#8220;<em>ditinggalkan sendiri</em>&#8220;. Tak ada kesedihan sepedih ini, Partner in Crime yang rajin menyapa &#8220;<em>Selamat pagi</em>&#8221; tetiba diam, kayak fakir kuota, tak ada sapa.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat saya sampaikan, &#8220;<em>Saya minta waktu, mau ketemu, saya nemu peti harta karun</em>&#8221; dan dijawab &#8220;<em>Apalagi yang mau dibahas</em>&#8221; &#8230;.. Dia lupa, insting saya tajam. Ada yang berubah, saya bertanya &#8220;Apa salah saya ?&#8221; &#8230;. tak ada jawaban yang melegakan.</p>
<p>Saya seperti di ujung Silicon Valley hari itu, sendiri. Ditanya ini itu, tapi saya tidak punya siapa-siapa.</p>
<p>***</p>
<p>Kalian tahu, pikiran saya lagi jogging. Embuh kemana. The big question yang jadi hantu di benak saya berminggu-minggu : &#8220;<strong>Does team chemistry actually exist?&#8221;  </strong></p>
<p>Bentar-bentar : &#8220;<em>Team chemistry itu apa ?&#8221;</em> apa semacam keklimakkan saat panas terik tetiba nemu es kelapa ? kok kayaknya enak bener didengarkannya.</p>
<p>Team chemistry yang selama ini saya cari nyatanya harus saya akui, belum saya temui. Yang ada sakit hati dan itu belum seberapa ketimbang sakit harapan. Hmmm, bisa jadi Team Chemistry itu sejenis lem Aibon yang kala dihirup bikin kita senyum-senyum sendiri, bahagia sendiri, geleng-geleng sendiri, mleyot sendiri.</p>
<p>Yes, saya terlalu takut menterjemahkan Team Chemistry sebagai <em>an interplay of physiological, social, and emotional forces that elevates performance. YEP!!! The function of team chemistry is to elevate performance. We’re talking about teams that are doing something well. They’re accomplishing goals, they’re winning. Real team chemistry is about accepting everybody for who they are. It’s what I keep telling these guys: In the end we love people for who they are to us. </em></p>
<p><em>And the truth is, there is connection created by great work. Even if one of your high-performing teammates is difficult to work with sometimes, if they’re always delighting you with what they produce, you feel a bond. You can rely on them. You’re confident in what you can expect from that teammate.</em></p>
<p>Yes, tentu Team Chemistry bisa dimulai dengan pertanyaan apakah sampean sudah punya Team Bonding ? konon kabarnya Team Bonding ini lahir jika masing-masing anggota team memiliki tujuan yang sama, menghormati satu sama lain, dan termotivasi untuk menggunakan kekuatan dari masing-masing anggota untuk mencapai tujuan mereka.</p>
<p><em>Indah bukan ? aduhai bukan ? kek aroma lem Aibon bukan ?</em></p>
<p><strong>Keknya ini sudah waktunya saya sadar, sadar bahwa <span style="text-decoration: underline;">menyerah bukan jalan ninja saya</span>. Saya tidak berduit, tapi saya tahu siapa yang akan menduiti mimpi saya.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img decoding="async" loading="lazy" class="aligncenter wp-image-443 size-large" src="https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2023/02/stasiun-pasar-senen-1024x537.jpg" alt="" width="1024" height="537" srcset="https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2023/02/stasiun-pasar-senen-1024x537.jpg 1024w, https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2023/02/stasiun-pasar-senen-300x157.jpg 300w, https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2023/02/stasiun-pasar-senen-768x402.jpg 768w, https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2023/02/stasiun-pasar-senen-800x419.jpg 800w, https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2023/02/stasiun-pasar-senen.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lamat-lamat, suara kereta meninggalkan Jakarta, terdengar di kepala saya &#8230;.</p>
<p><em>Here&#8217;s to the ones that we got</em><br aria-hidden="true" /><em>Cheers to the wish you were here, but you&#8217;re not</em><br aria-hidden="true" /><em>&#8216;Cause the drinks bring back all the memories</em><br aria-hidden="true" /><em>Of everything we&#8217;ve been through</em><br aria-hidden="true" /><em>Toast to the ones here today</em><br aria-hidden="true" /><em>Toast to the ones that we lost on the way</em><br aria-hidden="true" /><em>&#8216;Cause the drinks bring back all the memories</em><br aria-hidden="true" /><em>And the memories bring back, memories bring back you</em></p>
<p><strong>*******Stasiun Pasar Senen, 17 Februari 2023</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.menyambutpagi.com/atm/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hari yang Nguk-nguk</title>
		<link>https://www.menyambutpagi.com/hari-yang-nguk-nguk/</link>
					<comments>https://www.menyambutpagi.com/hari-yang-nguk-nguk/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[menyambutpagi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2022 12:43:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.menyambutpagi.com/?p=420</guid>

					<description><![CDATA[ Bakat terburuk di dunia ini adalah mengetahui banyak rahasia tanpa banyak usaha. Hari ini, si mas itu telpon, setelah istrinya saya WA, dua hari lalu, sekedar saya tanyakan kabarnya. Perasaan saya terlalu peka, lama tak sua, pikiran saya tetiba di sana. Begitu saja. Saya menyapa. Si embak membalas, &#8220;nanti saya hubungi&#8220;. Lalu hari ini, bukan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong> Bakat terburuk di dunia ini adalah mengetahui banyak rahasia tanpa banyak usaha.</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Hari ini, si mas itu telpon, setelah istrinya saya WA, dua hari lalu, sekedar saya tanyakan kabarnya. Perasaan saya terlalu peka, lama tak sua, pikiran saya tetiba di sana. Begitu saja. Saya menyapa. Si embak membalas, &#8220;<em>nanti saya hubungi</em>&#8220;. Lalu hari ini, bukan si mbaknya yang menghubungi, tetapi suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini, siang tadi, si mas itu, suaminya si embak yang saya wa itu, pagi-pagi sudah berkirim pesan, tergopoh-gopoh meninggalkan voice note, berharap saya bisa dihubungi. Minta waktu, telpon lebih lama. &#8221; <em>Assalamu&#8217;allaikum, mas&#8230;.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Salam saya terpotong, si mas memohon &#8220;<em>i need your help, bantu saya mbak, saya punya masalah hukum&#8230;.</em>&#8221; si mas, di seberang sana, terbata-bata menyampaikan masalahnya. No-no-no, saya nggak paham, saya minta si mas lebih tenang, mengulang cerita dengan urutan kisah yang lebih baik. <em>At the end</em>, semua ceritanya berujung bantuan tentang DIGITAL FORENSIK. Kalau boleh jujur, bukan hal yang terlalu istimewa. Masalah mendasarnya, si mas dilanda <em>panic attack</em>. Tetiba didatangi lawyer, diberi surat gugatan, masalah berikutnya, semua bukti transaksi di laptop, hp, sebagai <em>evidence</em>, yang membuktikan posisi benar si masnya, tetiba &#8230;. hilang begitu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya akan bayar berapa saja, yang mbak mau ! Berapa mbak?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tersenyum. &#8220;Saya tidak butuh uang dari jalur beginian, mas. Tenang saja&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi begini &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Di era yang katanya canggih, hari ini, kemampuan mengembalikan yang terhapus, dihilangkan, sengaja atau tak sengaja, rasa-rasanya jadi bagian kutukan yang saya derita selama ini. Permasalahannya, saya tidak mampu meresolve secara partial, sebagian. <em>Once</em>, saya kerjakan, semua yang terhapus di device, baik laptop, hp, semua kembali seperti semula.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan saya sederhana &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas&#8230;.mbak&#8230;apakah kalian punya rahasia, dimana tidak pernah tersampaikan. Rahasia si mas ke si mbak, istrinya, pun juga si istri, punyakah rahasia yang disembunyikan dari sang suami. Efek samping mengembalikan sesuatu, saya lemah jika harus memulihkan sebagian demi sebagian. Semua yang hilang, semua kembali. Jadi, ini pertanyaan mendasar, apakah sampean punya rahasia satu sama lain ? mengapa begitu ? karena justru masalah suka muncul saat saya me<em>resolve</em>, hal-hal yang tidak perlu saya tahu, si suami tahu, sang istri tahu, tetiba&#8230;BUFFF!!! kembali, terpampang nyata. Orang mengira, menghapus adalah jalan ninja, sementara, yang hilang, yang dikatakan lenyap, hanya tersembunyi. Jadi bagaimana ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Si mas diam, si mbak diam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Berapa lama, sampean mengembalikan semua data hilang itu ?&#8221; si mas bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau dengar kabar baiknya atau kabar buruknya ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kabar baiknya.&#8221; jawab si mas cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; 3 detik&#8221; jawabku singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kabar buruknya ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Setiap pekerjaan meresolve, saya perlu DEVICE cadangan, jika dokumen itu ada di HP si mbak, maka si mas juga akan menerima back up isi yang terhapus itu. Jika dokumen itu di HP mas, hasil resolve juga akan diterima si mbak&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hah ?! buat apa ?&#8221; si mas kaget.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buat jaga-jaga, mmm&#8230; anggap saja bonus. Saya suka kasih kejutan. <em>On my own way</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kejutan apa ?&#8221; kejarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sampean atau pasangan sampean akan lebih tahu apa arti kepercayaan&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maksudnya ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tersenyum &#8230;. saya merasakan getaran ketakutan suara di ujung seberang. Bimbang.</p>
<p style="text-align: justify;">****</p>
<p style="text-align: justify;">Saya terdiam. Memory saya mundur ke beberapa tahun lalu, seorang saudara pernah dilanda masalah yang sama, bukti hukum yang ada di genggaman tetiba&#8230;gone, hilang. Chat terhapus sendiri, email tidak bisa diakses, si lawan memiki team cyber yang ingin mengunci melalui jalur digital, bukan jalur santet. Mungkin dianggap kurang modern. Saudara saya memiliki pertanyaannya sama, apakah yang telah terhapus, bisa diresolve kembali ?</p>
<p style="text-align: justify;">100% BISA. Hebat ? kagak. Apakah itu canggih ? kagak. Ada yang lebih canggih, mampu mengembalikan dan menghadirkan rahasia tanpa perlu skill tekhnik, manipulasi digital, bahasa pemrograman, atau apapun itu sebutan jurusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia ini, percayalah, ada bakat mengetahui SAMPAH, RAHASIA, apapun namanya, yang disembunyikan, disimpan, dibuang diam-diam, atau apapun sebutannya, bisa terbaca dengan MUDAHNYA.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>As easy as one two three.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Apakah ini keren ? TIDAK.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jadi begini &#8230;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sebut saja namanya Tsuneo, yaa, saya suka pakai sandi menyebut manusia ini, dengan sebutan Tsuneo. Mungkin, tapi saya yakin, manusia ini sedang membaca tulisan ini. Apapun segala alasan  saya tidak mau lagi berteman dengannya, serta merta karena nyaris tidak ada PRIVACY.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah bagaimana awalnya, dulu, kami berlomba untuk bisa saling membuktikannya. Tuhan itu Maha Adil. Di luar ketidaksempurnaan fisiknya, nyatanya, diakui atau tidak, ilmu mengetahui banyak rahasia tanpa susah payah mencarinya, saya dapatkan darinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika sampean, pernah melihat film SHUT UP AND DANCE, dimana &#8230; seorang Hacker mampu meretas kamera Laptop dan HP seseorang melalui anti virus yang (seolah-olah) menawarkan obat anti peretasan, hingga si pembuat ANTI VIRUS itu sendirilah si penjahat. HACKER yang mampu menghancurkan hidup orang, tidak peduli apakah itu orang baik-baik, seorang Pria pekerja yang tampak family man di mata keluarga, penghamba kesempurnaan rumah tangga; atau seorang bocah pekerja keras kemarin sore, lurus-lurus saja, memiliki akhlak baik yang mampu menjadi pengayom sang adik serta orang tuanya; namun di mata peretas jahat, mereka hanya <em>TOOL</em>, alat yang sangat memiliki efek merusak, bahkan membunuh tanpa menyentuh. Memanipulasi orang lain, suka-suka dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke Tsuneo&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Teman saya dulu, dia yang menjerumuskan saya pada kejamnya ketelitian pengamatan. Tuhan menganugerahi ketidaksempurnaan fisik. Namun, Tuhan juga menganugerahinya ketrampilan mengaduk-aduk PRIVACY orang dengan sekedar mengamati, jika bukti diperlukan, dengan 1 hp di genggaman, dia mampu menumbangkan lawan tanpa menyentuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah mengapa, kutukan peka terhadap hal begituan, pada akhirnya, menular begitu saja. Pelajaran terberatnya bukan soal tekhnis mengaduk-aduk rahasia orang. Hal terberat yang harus ditanggung adalah tetap <em><strong>DIAM, pretending, there is nothing happen</strong></em>. Sementara kamu mengetahui segalanya. Semua rahasia dan ketabuan. Semua manusia punya rahasianya, dan seorang Tsuneo, kawan saya, sejatinya yang mengajarkan bagaimana &#8220;mentertawakan&#8221; kepura-puraan dengan cara senyap.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Tidak lagi berteman dengan manusia jenis ini, nyatanya, tidak menyudahi bakat sialan satu ini. Mengetahui RAHASIA orang, baik dengan atau tanpa susah payah mencarinya. Ada tekhnik dan sedikit jam terbang untuk mengasahnya&#8230;.</p>
<p>Hari ini, saya muak, menghubungi seorang kawan, nyampah: just to let you know, i am done with this shit, even though, orang perlu pertolongan saya dengan cara ini, efeknya, saya akan mengetahui banyak hal, yang saya tak sanggup, menerimanya, secara mental maupun spiritual. Gusti, saya mual.</p>
<p><em>Hari ini, 14 November 2022. I just know another secret &#8230; bukan rahasia mas itu, mbak itu, seseorang yang lain, yang ujug-ujug, muncul kepermukaan &#8230;..</em></p>
<p>Kepada seorang kawan yang saya hubungi tadi, maghrib tadi, terima kasih, sejatinya saya mewek bukan soal itu, suddenly i got durian nomplok, but, as you can see, i hate durian dari ujung kaki hingga ujung mbun-mbunan. Bantu saya, meyudahi bakat ini.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.menyambutpagi.com/hari-yang-nguk-nguk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puncak Drama</title>
		<link>https://www.menyambutpagi.com/puncak-drama/</link>
					<comments>https://www.menyambutpagi.com/puncak-drama/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[menyambutpagi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2022 03:44:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[daniel mananta]]></category>
		<category><![CDATA[discomfort]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[romo]]></category>
		<category><![CDATA[viewpoint]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.menyambutpagi.com/?p=403</guid>

					<description><![CDATA[Kita suka bereaksi pada aksi yang tidak presisi, dengan apa yang ada di kepala kita, pengharapan kita. ********* Di sudut ruang chat WA : &#8220;Manusia diciptakan dengan spek kepala berbeda. Uwong ki macem-macem &#8230;. nek wis ra nyaman, tetep mlaku wae. Nek iso dewe, ngopo nunggu liyane ?&#8221; &#8220;Njih, Romo&#8221; &#8230;. sepenggal chat dengan Romo, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kita suka bereaksi pada aksi yang tidak presisi, dengan apa yang ada di kepala kita, pengharapan kita.</strong></p>
</blockquote>
<p>*********</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Di sudut ruang chat WA :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Manusia diciptakan dengan spek kepala berbeda. Uwong ki macem-macem &#8230;. nek wis ra nyaman, tetep mlaku wae. Nek iso dewe, ngopo nunggu liyane ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Njih, Romo&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8230;. sepenggal chat dengan Romo, curcol meong tentang sikap dinamis manusia, perubahan-perubahan cuaca batin,  pengharapan terhadap manusia, yang sering kali mengecewakan.</em></p>
<p>*********</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Di sudut warung kopi, daerah Sagan :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamu ilang kenapa ? ada masalah apa ? dichat tak pernah membalas, dua lusin nomermu semua senyap, tidak bisa dihubungi. Sudah saya bilang, kekecewaanmu bermula karena kamu suka memaksa apa yang di kepalamu ingin dipahami oleh orang-orang di sekitarmu. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>aku diam, dihakimi, dan menikmati jenis penghakiman jenis ini.</em></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu pernah ndak mikir, kamu itu aneh, kesimpulan aneh itu karena apa yang orang pikir tentangmu juga gak pernah sama dengan apa yang dipikiranmu. Mikirmu terlalu cepat, sialnya, secara tekhnis, segala hal kamu pengen ideal !&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>belum puas, seorang kawan yang lain juga membacakan dosa-dosa emosi saya&#8230;mengolok-olok tepatnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Setidaknya ada beberapa type orang yg tetap di situ..<br />
1. Penuh semangat dan idealisme meski tahu tidak berguna<br />
2. Ber intrik karena punya ambisi besar dan bodoh<br />
3. Mengapung kayak buih, sembari berharap hanyut di air jernih<br />
4. Nelayan yg pandai memancing di air keruh<br />
5.penonton yg pintar kapan harus bertepuk tangan..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu jenis yang mana ?&#8221; lanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memastikan saya paham posisi saya sendiri, dengan segala kesadaran dan &#8230;. menerimanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ide-idemu terlalu syur dijalankan oleh orang sibuk !&#8221;</p>
<p>ah, masak iya ? LOL</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*********</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Di sudut lincak, tempat kawan-kawan saya kalau ndak maen kartu yaa main catur :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nek kamu merasa jadi Celengan Semar, mung dipajang, ra ono manfaat, mengapa bertahan ? modelmu, lebih suka dimanfaatkan, ketimbang dianggurkan &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">No comment, kepala saya sibuk diskusi soal stament itu.</p>
<p style="text-align: justify;">*********</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sudut pembelaan di batin saya, kepala saya </strong></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hallo&#8230;sampean-sampean di sana, bukankah kita sudah berkomitmen mau begini, mau begitu. Tau gak sih, saya ndak suka ditinggalkan begitu aja. <em>I always</em> ditempatkan pada posisi saya harus mafum, atas kesibukan sampean-sampean.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>To be honest</em>, anu &#8230;. ini yang saya rasakan  :  Saya punya harapan terlalu tinggi, pada orang, yang saya anggap dekat, nyatanya ternyata juuuuauhhhh (Ulangi. Dengan tekanan &#8230;. <strong>JUAAAUUUH</strong> ) As i dig into why i’ve reacted to certain situations so strongly, i often discover it was because i struggled with someone who is different. These interactions  cause me stress, and in fact, can be one of life’s great experiences ( mamam itu great experiences ).</p>
<p style="text-align: justify;">Kalimat-kalimat kawan ngopi (baca nasehat), sesimpel itu sampean katakan, yes, sound simple but tidak ketika dipraktekkan : <em>&#8220;To feel comfortable with people who are different from us means that we must accept ourselves for who we are, oh my darling&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jadi begini &#8230;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya punya masalah dengan capturing dan pencatatan. Saya ini jenis pengingat janji. Saking takutnya punya hutang, bahkan janji yang keluar dari mulut ini saya tanam di bawah alam sadar. Nggak boleh sembarangan dikeluarkan. Tetiba, saya dihujani kesepakatan, janji begini begitu, saat saya tagih dan &#8230;.puffft! zonk &#8230; saya kecewa sendiri, marah sendiri, mangkel sendiri. Saya merasa ditempatkan pada arena dimana Banteng di tengah itu adalah jejelmaan dari pengharapan saya. Saya, keseruduk sendiri dengan ekpektasi. Mau tumbang, secara romantis pun bikin ngilu&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jadi begini &#8230;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Saya paham setiap orang punya perpektif sendiri, meski ya, manusiawi, kita gampang menghakimi sesuatu yang berbeda dengan diri kita, kebiasaan kita, pengalaman kita, <em>duh</em> &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jadi begini &#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Saat saya waraspun bisa melakukan self apology &#8220;Everybody is entitled to a viewpoint. But &#8230;.  <strong><em>My mistrust of others is really fear ( sengaja dibold) &#8230;.. </em></strong><em>A deeper source of fear comes from the false belief that other’s viewpoints somehow might make our own opinions worthless. (Iyuh!)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Even though saya suka mengingat kalimat-kalimat ini biar kembali waras&#8230;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sometimes what’s behind this fear is an uncertainty about how to interact with them. None of us like to look stupid or feel incompetent. To avoid this discomfort, we subconsciously create a negative story about the other person so we can mentally justify dodging them or seeking conformity.&#8221;</p>
<p>Seperti bocil yang jatuh, mengusik-usik lukanya sendiri, tetiba bahagia datang dengan cara sederhana, muncul sebuah statement dari seorang Daniel Mananta, tentang kesibukan dan dosa. Saya merasa malu, semangat saya kemarin untuk dibuat sibuk dan disibukkan dan berjalan sebagaimana sebaliknya menjadi sesuatu yang saya pikir &#8230;.. oh, <em>alhamdulillah</em>, saya sedang diperjalankan untuk apa yang Daniel Mananta katakan.</p>
<p>*********</p>
<p style="text-align: justify;">Gusti, jewer saya jika saya terlalu bernafsu dan &#8230;. berharap.</p>
<p>*********</p>
<p><em>Pagi ini, saya matur nuwun sama Gusti Allah, sebuah pesan yang disampaikan melalui statement Daniel Mananta . Kamsia, ko! kamsia juga buat si Prof yang suka ngata-ngatain saya dengan kalimat oplosan ala Gus Baha feat Ahmad Tohari.</em></p>
<p><img decoding="async" loading="lazy" class="size-medium wp-image-407 aligncenter" src="https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2022/11/6014ff6a8cfe2-300x200.png" alt="" width="300" height="200" srcset="https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2022/11/6014ff6a8cfe2-300x200.png 300w, https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2022/11/6014ff6a8cfe2.png 750w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.menyambutpagi.com/puncak-drama/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Maling</title>
		<link>https://www.menyambutpagi.com/maling/</link>
					<comments>https://www.menyambutpagi.com/maling/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[menyambutpagi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Dec 2021 13:22:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[hacker]]></category>
		<category><![CDATA[peretasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.menyambutpagi.com/?p=341</guid>

					<description><![CDATA[Sebenernya, saya males membahas ini, banyak chat masuk, masih menanyakan perihal &#8220;peretasan&#8221;. &#8220;Say, IG ku diretas, minta tolong pulihkan!!!&#8221; &#8220;San, tolongin aku, bobolin facebook seseorang , duit berapa aja aku kasih!!!&#8221; &#8220;Mbak, retasin whatsapp si fulan, penting !&#8221; &#8220;Jeng, bobolin akun a, dapetin data b, &#8230;.!&#8221; Berapapun yang kamu minta, aku bayar!!!! &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Yes, berulang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebenernya, saya males membahas ini, banyak <em>chat</em> masuk, masih menanyakan perihal &#8220;peretasan&#8221;.</p>
<blockquote><p>&#8220;Say, IG ku diretas, minta tolong pulihkan!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;San, tolongin aku, bobolin facebook seseorang , duit berapa aja aku kasih!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mbak, retasin whatsapp si fulan, penting !&#8221;</p>
<p>&#8220;Jeng, bobolin akun a, dapetin data b, &#8230;.!&#8221;</p>
<p>Berapapun yang kamu minta, aku bayar!!!!</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Yes</em>, berulang kali saya sampaikan &#8220;saya sudah pensiun&#8221; <em>with finger crossed by the way</em> #LOL&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Well yeah</em>, kita runut, dari siapa, darimana dan bagaimana cerita ini bermula.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>==== SMP</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em> Once upon a time</em>, pertama saya belajar komputer saat SMP, masih era Lotus123. Sialnya, saya belajar di saat masa akil balik. Dimana hormon keperempuan saya mulai bekerja dan <em>yes</em>, saya naksir berat sama pak Guru Komputer. Namanya pak Anwar. Kepala agak botak, mukanya bersih, ganteng menurut mata dan jiwa sakit saya &#8230;. dan menjadi tantangan saya untuk mendapatkan perhatian doi saat di kelas. <em>Being dumb or the other side one</em>. <em>Yes, exactly</em>, jiwa <em>attention seeke</em>r saya meronta-ronta pada jamannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pikir, menjadi anak pintar di kelas mampu menaklukkan bapak itu, nyatanya, entah atas alasan apa, si bapak sangat tidak menyukai <em>attitude</em> saya. Mau sepintar apa, nilai hanya B+.   <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/14.0.0/72x72/1f641.png" alt="🙁" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> (<em>how poor i am</em>)</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita itu sudah usang, tapi memang benar, akar ketertarikan saya dengan komputer memang berdasar karena CINTA. Meski bertepuk sebelah tangan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>==== SMA</strong></p>
<p style="text-align: justify;">SMA, patah hati. Diputus oleh cinta pertama. Menurut keyakinan saya, saya diputus karena tidak pernah mau diapeli, dikirimi lagu lewat radio, didatangi, diajak main ke luar, diajak keluyuran dan lain-lain. Alasan saya kuat, Herder saya 3, bapak saya, kakak saya dan saudara kembar saya. Dan kayaknya si mas, kakak kelas, yang gantengnya mampu bikin pusing kepala, pada akhirnya tidak tahan dengan pola hubungan pacaran anak SMA yang saya tawarkan. Tet, 17 Agustus 1996 saya ditembak pasca upacara bendera, seminggu kemudian saya diputus saat (pinjam istilah anak sekarang) sedang bucin-bucinnya, 7 hari pasca 17-an. Habis Indonesia Raya, terbitlah Un-break My Heart.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kata doi, di dalam mobilnya kala itu &#8220;<em>Aku tahu kamu mendua dek&#8230;&#8230;.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">WTF!!! Kalimat itu masih saya catat sampai sekarang mas. Nuduh aku mendua, <em>tak santet sampean</em>!!! Aku ini setia, buat apa aku teriak-teriak di Pemda kala itu, menyebut namamu kayak orang kesurupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan yes demi tiang-tiang Pemda kota dimana saya berasal, hari dimana saya patah hati kali pertama itu menjadikan saya bertekad &#8220;<em>Aku kudu balas dendam</em> !!!!!&#8221;</p>
<figure id="attachment_342" aria-describedby="caption-attachment-342" style="width: 768px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" loading="lazy" class="wp-image-342 size-full" src="https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2021/12/a.jpg" alt="" width="768" height="576" srcset="https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2021/12/a.jpg 768w, https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2021/12/a-300x225.jpg 300w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption id="caption-attachment-342" class="wp-caption-text">telpon umum yang sudah jadi fosil</figcaption></figure>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Hari itu, saya cari koin seribu motif wayang, tak bolongi, tak kasih senar, aku telpon rumahmu berkali-kali, masih pakai telpon umum. Maaf, karena saya kere, otakku kudu bekerja, opsi koin dicantoli senar adalah upaya ngirit, bisa telpon tarik telpon tarik telpon tarik &#8230;. meski yang aku telpon bapakmu, kadang diangkat ibumu, aku cuman bilang &#8220;<em>hihihihihihihii</em>&#8221; kuharap keluargamu paham, apa arti <em>insecure</em>  !!! (<em>heleh, telek!</em>)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Fast Fact #1, Saya agak kreatip saat patah hati.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kekreatipan itu akhirnya tumbuh, menjulang tinggi bak cendawan di musim penghujan. Gegara ke-kere-an saya naik level ndak kira-kira. Dari level <strong>Biasa</strong> jadi <strong>Sangat Kere Sekali.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>==== KULIAH-KULIAHAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Masuk ke Jogja, masuk asrama. Modal kaki pincang habis digebuki Bapak. Duit di tangan hanya Rp. 150 ribu. Rp 40 ribu bayar asrama. Sisanya ? entah mengapa, pilihan pertama saya tidak untuk makan, tapi kluyuran di warnet di jalan Suryodingratan dan atau di Maga lantai 2 Jl.Panjaitan dekat  Minggiran, ditemani Qosim, Ferry dan Anang Sumarna.</p>
<p style="text-align: justify;">Di saat teman kuliah-kuliahan sedang sibuk dengan drama percintaan, waktu saya habis di warnet, belajar komputer, memilih mendalami Linux pada kalanya. Sesekali dapat bonus gambar tidak senonoh, dichat orang tak dikenal, didatangi di asrama, diajak berteman, agak digombali, lalu batal karena saya judes saat kere. Fix, no debat!</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tak sanggup, jadi bucin lagi. Apa itu bucin ? mamam itu bucin. (cieeeehh &#8230;).</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, bonus jackpotnya, saya berteman dengan penjaga warnet, diajari cari duit online. Meretas ? tidak, cuman <em>scamming dan spying </em>&#8230;. <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/14.0.0/72x72/1f641.png" alt="🙁" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>==== KERJA PART I</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kekerean saya masih di TKP. Tidak naik atau turun level. Stagnan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kerja, di sebuah perusahaan yang berpusat di Mineapolis. Gaji belum full, dihutang manager, giliran ditagih orangnya macak amnesia seolah kejedot tower Telkom. Di sisi lain, jalan kaki setiap hari 6jam dari kos ke tempat kerja, <em>on behalf of</em> ngirit saking kerenya, lalu gejala types juga sudah terasa, maka pilihan basic menjadi &#8220;kreatif&#8221; saya pilih.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepepet karena diancam diusir dari Kos an dan saya harus membayar sertifikat kursus Bahasa Perancis yang nilainya lebih mahal ketimbang gaji saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjadi maling. Membobol sistem di tempat kerja. <em>Ndilalah,</em> lagi-lagi, apesnya saya, berteman dengan tamu, seorang warga keturunan, anak kuliahan yang ngajari saya mbobol credit card. Berapa hasil retasan pertama kali ? Rp. 300 ribu. Tuman. Besoknya sehari Rp. 1juta. Ketagihan . Puluhan Juta sehari. Induk semang kos-an yang sempat ancam usir saya gegara tak mampu bayar, saya tutup mulutnya, saya lunasi kos-an 3 tahun sekalian, plus 1 motor pitung dan TV 24 inch. Saya kasih semua. Jelas, hasil maling.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>==== KERJA PART II</strong></p>
<p>Panjang cerita, akhirnya saya bekerja di sebuah NGO. Kenalan saya dengan veteran tentara Australia. Nathan. Melemparkan sebuah buku di muka saya, katanya, saya harus belajar. Visual Basic dan C+ , dll, dll berbahasa Inggris, tebalnya nggak kalah dengan Kamus Bahasa Inggrisnya John Echols.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Fast Fact #2, Rejeki Tidak Berkah Tak Pernah Menjadi Sesuatu.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berapa puluh juta saya dapat dalam sekejap ? halal ? jelas tidak. Meski akibat dari kejahatan di masa lalu, saya bergesekan dengan banyak pihak, termasuk pihak hukum hingga akhirnya saya sempat <em>rehat</em>, gegara perut saya terkena sayatan senjata tajam gegara dapat rejeki dari &#8230; maling.</p>
<p style="text-align: justify;">Berapapun uang yang saya dapat, tak ada yang tersisa, rumah hilang, kendaraan hilang dan saya harus terkapar di ranjang Panti Rapih selama 3 minggu dengan jejak bekas hujaman pisau di perut, membekas sampai sekarang. Tak penting detailnya bagaimana.</p>
<p style="text-align: justify;">Nyatanya, dalam peretasan, tak hanya uang yang pernah saya cari. Saya menjadi <em>anonymous</em>, kluyuran ke sisi-sisi gelap kehidupan seseorang atau perusahaan by pesanan. Motivasinya ada 3 : Cinta, Kekuasaan dan Uang.</p>
<p style="text-align: justify;">Meresolve sesuatu yang dihapus.</p>
<p style="text-align: justify;">Mencari data, hingga mengirimkan temuan-temuan kembali ke pemilik, menjadikannya alat teror.</p>
<p style="text-align: justify;">3 Jenis Maling pernah saya lakukan :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Maling untuk mengambil/ merusak sesuatu.</li>
<li>Maling untuk memindahkan/mencopy sesuatu.</li>
<li>Maling untuk hanya memantau pergerakan tanpa merusak, menyentuh maupun merubah.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Dan jelas, menjadi maling tidak seperti penampakan di pilm-pilm, <em>smooth</em>, cepat dan akurat. Butuh waktu, butuh proses, bahkan untuk pesanan kelas ratusan juta, saya sanggup menutup sebuah warnet, memesannya dalam 1 hari 3 malam untuk saya tempati sendiri, <em>on behalf privacy</em>.</p>
<p><strong>==== BERHENTI</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dan&#8230;</p>
<p>Hingga akhirnya saya memutuskan : berhenti.</p>
<p>3 alasan : pertama, satu dari teman saya telah ditembak &#8230; dan dinyatakan mati. Di jalan kaliurang. Kedua : nun suatu waktu, perihal kegiatan itu, mengakibatkan ancaman pembunuhan kepada anak saya. Ketiga : mati suri.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua sudah berakhir. Saya memilih hijrah, sejak saya dinyatakan mati suri kala itu. Saya diberikan kesempatan hidup untuk kali kedua.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua yang di dunia hanya fana, keindahan, kekayaan, kekuasaan dan apapun itu hanya taman bermain sementara.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah ada kepuasan saat saya mampu melihat rahasia chat orang ? apakah ada kepuasan saat saya mampu me-<em>resolve</em> foto dan video yang telah dihapus di <em>device</em> sesorang ? j<em>ust said, i played like a god</em>. Menjadi tuhan dengan &#8216;t&#8217; kecil. Mengetahui rahasia orang, mencopynya dalam sebuah sistem, sampai apapun yang dichatkan, dihapus, bisa saya pulihkan dalam sebuah wadah untuk saya lihat dan ada kalanya, apa yang saya dapatkan saya kirimkan ulang ke seseorang tersebut, untuk agar supaya kehidupan seseorang tersebut tak tenang, gelisah, termanipulasi hingga masuk dalam perangkap saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak. Demi Allah saya menyesali kebodohan saya, pernah melakukan hal tersebut. Jadi, kesimpulannya, berhenti besosial jika itu menyebabakanmu menjadi terganggu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Fast Fact #3, Saya Menggila Jika Dihina.</strong></p>
<p>Hari itu, katanya &#8220;Kamu bohong soal kamu mampu meretas&#8221;. Belum tertutup mulutnya, sudah saya kirimkan <em>Screen Shoot</em> Inbox-Inbox Facebooknya melalui pesan singkat.</p>
<p>Hari lainnya &#8220;Maaf, kamu sudah berumur, tidak bisa diterima kerja di sini&#8221;. Tidak perlu 1 minggu setelah kalimat itu, saya dapatkan 1 Avansa dari perusahaan itu. Beli Tunai. Edisi premiumnya tentu.</p>
<p>Tapi semua sudah <em>The End.</em></p>
<p>Semua kebahagiaan imitasi, menjadi kere, ikhlas serta mensukurinya, membuat saya dalam pertobatan mendalam, menjadi zero hutang. Meski kehilangan harta benda sekian banyak, hilang proyek ratusan milyar dan sakit-sakitan menjadi pertanda, dosa-dosa saya telah dicuci. Amin!</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.menyambutpagi.com/maling/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mimpi 250 Milyar</title>
		<link>https://www.menyambutpagi.com/mimpi-250-milyar/</link>
					<comments>https://www.menyambutpagi.com/mimpi-250-milyar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[menyambutpagi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2021 02:56:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[anakku]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[gold]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.menyambutpagi.com/?p=318</guid>

					<description><![CDATA[Pagiku&#8230;. Kemarin, i just listening to you : &#8221; i have to pay back my fault, mom !&#8221; Kutatap wajahnya, dalam cerewetku, diamku, dengan pandanganku tak menyalahkan, aku tahu kamu lebih menderita jika aku tidak terlalu banyak kata. I know that feel my luv &#8230; Throw back &#8230; beberapa minggu lalu &#8230; &#8220;Mama, aku ditipu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pagiku&#8230;.</p>
<p>Kemarin, i just listening to you : &#8221; <em>i have to pay back my fault, mom !</em>&#8221;</p>
<p>Kutatap wajahnya, dalam cerewetku, diamku, dengan pandanganku tak menyalahkan, aku tahu kamu lebih menderita jika aku <span style="text-decoration: underline;">tidak terlalu banyak kata</span>.</p>
<p><em>I know that feel my luv &#8230;</em></p>
<p><strong>Throw back &#8230; beberapa minggu lalu &#8230;</strong></p>
<p>&#8220;<em>Mama, aku ditipu &#8230;</em>&#8221; katamu setengah berbisik dengan suara bergetar, mencegah telaga mengalir dari sudut mata. &#8220;<em>My all money gone, mom &#8230;</em>&#8221;</p>
<p>kamu memelukku. Dalam situasi itu aku paham, bukan amarahku yang kamu butuhkan dariku.</p>
<p>&#8220;<em>Aku janji mah, balikin semua yang sudah hilang</em>&#8221;</p>
<p>Kamu memelukku erat sekali, aku tahu, di dalam dadaku ada gemuruh yang mampu kamu dengarkan, dan kucoba jinakkan dengan kalimat ajaib yang selalu kusimpan dalam memory  paling kuat &#8220;<em>jika itu di lauful mafus belum rejekiku, maka dia akan pergi kepada pemiliknya</em>&#8221;</p>
<p>Kuusap kepalamu &#8220;<em>it is okay, nakkuh</em>&#8221;</p>
<p><em>Perih kali ini tak seberapa dibanding perih dua tahun lalu, saat mendengar telponmu dari seberang kamu histeris menjerit,  bahkan ceritamu tak sanggup aku simak dengar benar, sampai akhirnya kudengar cerita bude Ngatini yang menjelaskan kamu jadi korban harassment dan aku tak ada di sebelahmu, ragaku terpaku di Jakarta. Sementara kamu berjuang sendiri melawan ketakutanmu. Ibu macam apa aku ini. Tak pernah ada, saat kamu membutuhkanku. Percayalah nakkuh, apapun yang kuperjuangkan hari ini, hanya untukmu, pada setiap dendamku di masa lalu yang tak pernah kugenggam, akan kuberikan sepenuhnya untukmu.</em></p>
<p>Riuhmu, pecah. Tergagap, tenggelam dalam dadaku. Salahku, tak banyak waktuku untukmu. Salahku, tak banyak emosiku, bermain bersamamu, dalam hari-hari. Dalam capekku, aku selalu mengenang setiap kata yang kita dengungkan dalam cerita-cerita kita, tentang bintang-bintang di angkasa dan niatmu pergi dari negeri ini, tentang rumah yang akan kita dirikan di Florida, tentang warung Soto bu Susan yang akan kamu buat di Swiss, bermain salju di Russia, dan tentang niatku, membawamu ke meja operasi sebagai kado ulang tahunmu nanti. Ke-17.</p>
<p>&#8220;<em>Aku akan rebut emas lagi, dapat uang lagi Ma, Mama jangan marah yaa !!! please</em> !!!&#8221;</p>
<p>Kamu menangis tergugu untuk kesekian kali di dalam pelukku, dalam tegarku aku merintih, &#8220;<em>maafkan aku, tak mampu menjagamu baik-baik, aku belum mampu mengajarimu menahan diri dari segala rasa sesuatu yang kamu &#8230;. cintai</em>&#8221;</p>
<p><em>Dear my luv</em>,</p>
<p>Kehilangan uang itu tak masalah. Kehilangan semua tabunganmu, itu tidak masalah.</p>
<p>Uang hanyalah sesuatu yang masih bisa digantikan&#8230;.<em>nothing to be worried.</em></p>
<p><em>It is blessing in disguise</em> &#8230; dalam setiap kehilangan, kamu belajar tegar.</p>
<p><em>As i told you as always</em>, kadang, menahan diri pada sesuatu yang paling kamu cintai, menjagamu dari keseimbangan kewarasan dan kebahagiaan imitasi yang hanya dinikmati sesaat, sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, sebulan &#8230; seperti yang pernah aku dengar &#8220;<em>aku mencintaimu, tapi tidak tahu sampai kapan, jadi ketika aku tetiba menghilang, bukan tanggung jawabku jika batinmu, rasamu remuk redam</em>&#8221; &#8230;.</p>
<p><em>So</em>, mari kita bergenggam tangan <em>nakkuh</em>, hadapi dunia dan kebahagiaan semu yang ditawarkannya.</p>
<p><em><strong>Hari ini &#8230;</strong></em></p>
<p>Kucium keningmu. Kuingat selalu bisikmu nak&#8230;</p>
<p>&#8220;<em>Momkee, doakan aku dapat emas lagi kali ini. Aku mau sekolah yang jauh dan tinggi lagi, agar Momkee tidak keluyuran lagi . Momkee di rumah saja, nonton Netflix, gantian aku cari uangnya&#8230;</em>&#8221;</p>
<p>Mataku kondensasi&#8230;ada doa yang tak pernah berhenti di relung ini, <em>nakkuh</em>.</p>
<p>Aku ridho, hari ini kamu berjuang melawan segala inferioritas yang diam-diam kita kubur. Emas untuk tegarmu jauh lebih berarti sayang.</p>
<p><strong>Emas hari ini akan kamu bawa pulang (lagi). Pasti!</strong></p>
<p><iframe loading="lazy" title="Ruel - GROWING UP IS ____ (Official Live Video)" width="1110" height="624" src="https://www.youtube.com/embed/jF5pVL_ANY8?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.menyambutpagi.com/mimpi-250-milyar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyambut Pagi</title>
		<link>https://www.menyambutpagi.com/menyambut-pagi/</link>
					<comments>https://www.menyambutpagi.com/menyambut-pagi/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[menyambutpagi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2021 14:23:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[menyambutpagi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.menyambutpagi.com/?p=246</guid>

					<description><![CDATA[Yang suka ingat mencantumkan embel-embel &#8220;Menyambut Pagi&#8221; di dunia persilatan ini adalah Momon dan pak Hamza&#8230;. Dengan senyum khasnya selalu menyapa &#8220;Hai, mbak Santi Menyambut Pagi&#8230;.&#8221; Sebagian tertawa, dikira becanda, tapi keknya emang dik Momon dan Bang Willy yang masih ingat dengan kata Menyambut Pagi ini. Mmm&#8230; Tempo hari, seorang kenalan baru dari Kadin mencoba [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Yang suka ingat mencantumkan embel-embel &#8220;Menyambut Pagi&#8221; di dunia persilatan ini adalah Momon dan pak Hamza&#8230;. Dengan senyum khasnya selalu menyapa &#8220;Hai, mbak Santi Menyambut Pagi&#8230;.&#8221;</p>
<p>Sebagian tertawa, dikira becanda, tapi keknya emang dik Momon dan Bang Willy yang masih ingat dengan kata Menyambut Pagi ini.</p>
<p><em>Mmm&#8230;</em></p>
<p>Tempo hari, seorang kenalan baru dari Kadin mencoba menyimpan kontak, &#8220;Saya harus menyimpan namanya sebagai Santi siapa, mbak ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Santi Menyambut Pagi&#8221; &#8230;. eh, si Bapak ketawa terkekeh juga. Saya jawabnya tanpa embel-embel cengengesan padahal. Tapi, jadi begini &#8230;.</p>
<p><em>Behind the scene&#8230;&#8230;&#8230;</em></p>
<p>Menyambut Pagi adalah bayi yang lahir karena berkantor di dekat Pasar Legi. Dan, jelas bukan saya yang memberi nama. Pemberi nama memang orangnya &#8216;romantis&#8217; ? nope&#8230;.big no no. &#8216;Puitis ?&#8217;&#8230;.hm&#8230;mungkin. Beliau punya anak, nama anaknya keren : <em>Rantas Hati. </em></p>
<p>Kebayang sih, nama itu bermuasal karena hati si Bapak yang dirantaskan Emaknya, So, udah cukup membayangkan kadar kepuitisan Bapak ini ?</p>
<p>Hmm&#8230;.sorry dory ikan teri, di mata saya, bapak ini jauh dari romantis, jauh lebih romantis dengan pencipta font &#8220;Autumn in November&#8221; rasa-rasanya, entah mungkin ini ser-ser an saya semata, tapi emang nyatanya si pemberi nama ini garing bahkan anyep, se anyep ubin lantai rumah sakit bagian kamar mayat. Piss, cak !!!!!</p>
<p>Lebih romantis dengan lelaki yang menggandeng tangan saya  kemanapun saya melangkah dan berseloroh &#8220;kalau cuman bh saja, aku bisa beliin&#8221; &#8230;.eiiiiuhhhh. Hati saya ambyar mendengarnya&#8230;.sayangnya, yang nawari tersebut lelaki yang hidup dalam bayang-bayang saya semata. Eim!</p>
<p><em>Back to</em> Menyambut Pagi&#8230;. Menyambut Pagi adalah nama perusahaan. Yes, ada aktanya, ada kantornya, meski kantornya lebih banyak dipakai diskusi klenik dan spiritual serta rasan-rasan aneka rasa tembako oleh simbah-simbah, yang jika saya sebutkan namanya di sini, akan ada yang membully saya setiap hari &#8220;ulaaaaaaaaaaalaaaaaaaaa&#8230;adek, ada Iwan Fals di sana&#8230;..&#8221;(duh, kelepasan)</p>
<p>Yes, kantor Menyambut Pagi, adalah markas para simbah-simbah ganteng (pada jamannya), memiliki fans cewek-cewek se antero jagat di Indonesia (lebay but true), populer, beberapa pemain film nasional, ganteng bedzzzzzzz ketimbang M.Damsyik, Barry Prima utawa Advent Bangun, dan sayangnya 1 diantaranya telah almarhum setelah membantu saya di event Tour de Prambanan 2019. <em>Al Fatihah&#8230;.</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.menyambutpagi.com/menyambut-pagi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BH</title>
		<link>https://www.menyambutpagi.com/bh/</link>
					<comments>https://www.menyambutpagi.com/bh/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[menyambutpagi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jul 2018 14:53:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[BH]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.menyambutpagi.com/?p=259</guid>

					<description><![CDATA[Guru terbaik anak gadis manjadi wanita adalah Ibunya sendiri Aku nggak tahu,tanpa Ibu, urusan tumbuh menjadi wanita merupakan urusan pelik. Sama ketika kurasakan payudara tumbuh lebih besar dan semakin besar tak terkendali. Aku benar-benar membenci kondisi itu. Kelas dua di bangku Sekolah Menengah Pertama kejadian itu bermula. Aku masih sangat suka banyak tingkah. Melompat. Berlari. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>Guru terbaik anak gadis manjadi wanita adalah Ibunya sendiri</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Aku nggak tahu,tanpa Ibu, urusan tumbuh menjadi wanita merupakan urusan pelik. Sama ketika kurasakan payudara tumbuh lebih besar dan semakin besar tak terkendali. Aku benar-benar membenci kondisi itu. Kelas dua di bangku Sekolah Menengah Pertama kejadian itu bermula.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku masih sangat suka banyak tingkah. Melompat. Berlari. Berkata sekehendak hati. Merajuk. Kejar-kejaran bareng Arip, Nopi, Nano, Galih yang notabene merupakan (kebanyakan) kawan laki-laki. Saat aku sadari di sebuah sore saat mengguyur badan. Merabakan sabun di sekujur tubuh. Dada aku berbeda. Lebih menonjol daripada bisaanya. Aku panik. Pantas saja, kemarin dan beberapa hari yang lalu, si Galih menatap lebih cermat. Si Yang-yang cekikikan saat kulempar bola basket padanya. Dia rupanya menatap dada aku.Kurang ajar. Besok jika ketemu lagi, akan kumaki mereka. Menjadikan dada aku sebagai bahan tertawaan.Kenapa aku baru sadar sekarang? Dasar bodoh.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak sadar buah dada lebih besar ketimbang bisaa, susah payah aku menutupinya. Untuk sementara kujejalkan kalender di dada setiap kali ke sekolah, saat main basket atau saat keluyuran di tetangga. Itupun harus mengenakan T-shirt putih yang paling tebal lalu berkemeja. Agar tak terlihat aneh dan tetap rata saat tanpa sadar aku berlari atau bergerak lebih banyak. Payah. Biar ingin lebih kalem, selalu saja aku tanpa sadar,lebih dari lima kali dalam sehari, melompat dan berlari. Dan aku tidak mau kecolongan, tidak boleh ada yang tahu aku berubah. Dari ulat yang menjadi kepompong. Tahap metamorfose dari gadis kecil menjadi….<em>Ah</em>, membayangkan menjadi remaja membuatku susah tidur. Dan ini adalah rahasia yang paling menakutkan. Aku tidak mau Bapak tahu. Aku takut. Akan semakin banyak larangan untuk begini begitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Rahasia kusimpan baik-baik. Tumbuh buah dada adalah mimpi buruk yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan, dari ke hari, setiap pagi aku harus lebih mempersiapkan diri lebih lama ketimbang bisaa. Melipat kalender barang dua atau tiga lembar. Memaksanya berdiam diri, menutup dadaku, lalu mengenakan  kaos dalam, berlanjut dengan T-shirt terbaikku, lantas menggunakan seragam merupakan gerakan “pengaburan” yang kuanggap paling pintar. Semua bukan tanpa penderitaan. Gerah. Terasa aneh tentu, dan beberapa sudut lipatan sangat menyakitkan saat menggores kulit. Itu belum seberapa, saat beberapa komentar menyelutuk, aku terlihat lebih gemuk dari bisaa. Sialan. Kupikir menjejalkan kalender adalah ide terbaik. Nyatanya membuat penampilanku aneh dan gerakku menjadi tidak wajar. Jika hari panas dan terik, timbul bau apek lebih parah lagi, jika lipatannya salah, dimana yang sisi putihnya di dalam, tinta angka di kalender akan meninggalkan celemong-celemong di dada karena luntur oleh keringat. Pekerjaan lanjutan, aku harus mandi lebih lama demi menghilangkan noda di kulit, sedikit tekanan, perihnya bukan mainan.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski Intan dan Ira menjadi sahabat terbaikku waktu itu, bukan berarti mereka harus tahu segalanya tentang aku. Tumbuh buah dada merupan hal memalukan. Karena saat aku iseng-iseng mencuri pandang, kubandingkan dadaku dengan dada mereka, dada mereka masih kerempeng belum terisi. Meski sama-sama sudah mendapatkan M, tapi soal dada tumbuh seenak hatinya hanya aku yang mengalami. Kukutuk diriku, kupertanyakan pada Tuhan dalam sholatku, mengapa buah dadaku musti tumbuh lebih cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir setiap hari, ya, setiap hari, aku sedikit lebih kalem ketimbang hari bisaa. Apalagi saat olahraga ataupun saat mengikuti ekstra kurikuler basket.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku benar-benar berfikir keras. Semakin sering serta lama dalam sembahyang. Apalagi kalau bukan untuk menanyakan perihal buah dadaku pada Sang Pencipta. Lama-lama lelah sendiri. Hingga dalam putus asaku, kuhayalkan jika surat bisa sampai ke akherat, ingin kutulis sebuah surat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kukirim pada Ibuku. Selain kalender? Apalagi yang bisa kupakai untuk menutupi buah dadaku yang tumbuh besar?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin saat itu aku benar-benar frustasi. Kudapati kalender telah hampir habis kusobek. Tinggal selembar, menunjukkan bulan pada waktu itu. Artinya masih terpakai.  Sangat mustahil aku gunakan. Jika kupaksakan, bisa-bisa Bapak menaruh curiga. Kenapa kalendernya telah koyak dan tak jelas rimbanya. Buat apa? Siapa pelakunya? Aku tidak mau Bapak melakukan investigasi, lalu berhasil menemukan tersangka utama pencuri kalender di rumah. Jika benar-benar terjadi, lalu menginterogasiku, bisa mati mendadak aku. Bukankah, Bapakku galaknya bukan kepalang. Aku tidak mau ditempeleng. Memalukan, menjadi anak durhaka gara-gara menjadi pencuri kalender. Lantas yang paling tidak terbayangkan, akan ketahuan rahasia maha rahasiaku, buah dadaku tumbuh seenak hatinya. Itu artinya, aku diharamkan bergaul. Atau?ah, aku tidak sanggup membayangkan hukuman yang akan menimpaku jika Bapak tahu, buah dadaku tidak serupa milik anak-anak lagi. Aku menggigil. Ngeri membayangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rahasiaku lagi kawan, karena kalender telah habis, atau tepatnya tidak layak pakai lagi dipakai, pernah kugunakan Peta ATLAS sebagai pengganti. Karena hanya buku itu yang paling besar. Lebih baikkah? Tentu tidak, jika kalender bisa kuperhitungkan panjang serta lebarnya, Peta ATLAS tidak sanggup kulipat. Kala kupaksakan, aku seperti prajurit mengenakan tameng. Baju seragamku tidak mampu menyembunyikannya dengan sempurna. Saat teman-temanku bertanya apa yang ada di balik bajuku? Tentu saja kujawab Peta ATLAS, siluetnya tidak bisa menipu. Tulisan ATLAS  yang besar-besar tetap terbaca lawan bicara yang melihatku. Kabar bohongnya, aku mengatakan jika aku sedang masuk angin. Kututupi dadaku agar tidak semakin parah. Semua temanku percaya. Entah jika mereka masih meragukan. Yang jelas, mereka tidak pernah mendesakku lebih dalam, mengapa peta ATLAS yang kukenakan dan bukannya jaket atau sweater.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku belum sempat berkirim surat ke akherat. Saat hari keberuntungan itu datang. Apa pasal? Tidak sengaja, saat pelajaran kesenian Menari, tidak sengaja aku melihat baju dalam Weni.Di balik kaos dalamnya, kulihat sebuah baju yang aneh. Serupa kaos dalam tapi lebih pendek. Kaos dalam Weni lebih tipis. Siluet kaos dalam yang lebih pendek terlihat di baliknya. Kupikir itu BH, namun tak nampak menggembung. Baru kuketahui namanya saat kuberanikan bertanya, gerangan apa yang dipakainya, ternyata kaos dalam itu bernama Mini Set. Manis sekali terdengar. Weni menjelaskan tanpa malu-malu, intinya, Mini Set dipakai untuk remaja. Lebih simpel daripada bra. Serupa kaos dalam yang lebih pendek, dengan bagian dada sedikit lebih tebal. Dipakai pemula sebelum dada benar-benar tumbuh tidak terkendali seperti ibu-ibu. Konon dari mulut Weni, sedikit aneh saat mengenakannya pertama kali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali pertama aku mengenal benda bernama Mini Set, hatiku riang tak kepalang tanggung. Ingin membuang kalender kisut berbau apek keringat yang kusembunyikan di bawah kasur.  Menggunakan Peta ATLAS kembali pada kodratnya. Akan kukenakan Mini Set sebagai pengganti.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata kebahagiaanku mengenal Mini Set hanya sampai sore. Baru kusadar,baik meminta Bapak untuk membelikan BH maupun Mini Set tidak pernah aku berani. Takut dan sungguh-sungguh malu. Di luar takut akan kemarahan Bapak, urusan buah dada kuyakini sedalam-dalamnya merupakan hakiki urusan wanita. Saru. Jorok. Risih rasanya menyampaikan kepada Bapak. Aduh Tuhan, aku tiba-tiba galau. Sedih dan mengutuk-ngutuk diri. Lagi-lagi marah pada Sang Pemberi hidup. Seandainya Ibu tidak meninggal lebih cepat, rasa gelisah karena dada membesar tidak akan kurasakan berlarut-larut.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku harus bagaimana? Bagaimana kususun kalimatku untuk meminta Mini Set pada Bapak?  Aku tidak sudi dicap anak tidak tahu sopan santun, kurang ajar serta saru, membicarakan buah dada pada laki-laki, meski itu Bapak sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Lagi-lagi tidak bisa tidur. Kalender yang telah kupakai berkali-kali sudah koyak sebagian. Tidak nyaman lagi buat menutupi. Mungkin, karena letih memikirkannya, aku tertidur sangat dalam. Aneh,aku bermimpi melihat lemari baju Bapak dan Ibu. Pagi saat aku terjaga, keringat sudah bercucuran. Gambaran melihat lemari baju Bapak dan Ibu sudah menyibukkan aku pagi-pagi. Sebuah misteri. Misteri mimpi lemari saat pikiran dipenuhi beban akan buah dada serta cara menutupinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Bapak mandi pagi itu, kuberanikan mengendap-endap masuk kamar Bapak. Kucari lemari yang ada di mimpiku. Kuanggap itu sebuah petunjuk. Kubuka perlahan. Meninggalkan derit lirih yang hanya aku serta cicak di kamar itu yang mendengarkannya. Kupikir, aku bisa menemukan uang Bapak yang disimpan di bawah baju. Kuambil diam-diam untuk kubelikan Mini Set. Ahai… bukankah itu namanya mencuri? Aduh, aku tidak mau disesatkan oleh mimpi.Mungkin aku mendekati gila. Senewen mengatasi masalah buah dadaku. Sialan. Sekali lagi, aku tidak mau ditempeleng dengan sandal saat Bapak tahu aku mencuri uangnya. Meski kujelaskan untuk membeli Mini Set, Bapak pasti tetap tidak akan memaafkan. Bukankah, Bapak itu galaknya nggak ketulungan? Hah! Kubanting pintu lemari karena kesal. Mencuri adalah kejahatan yang tidak bisa ditoleransi. Dosa dan jika hukuman atas mencuri bisa dicicil di dunia, itu berwujud tempelengan Bapak. Membayangkan sakitnya sudah membuatku nyut-nyutan. Kesal sendiri. Aku tersesat oleh mimpi semalam. Hingga dalam hitungan sepersekian detik sebelum pintu mengatup, kulihat sebuah bayangan. Bayangan itu adalah…. Hatiku kebat-kebit tidak ketulungan. Kubisikkan kata “T<em>erima kasih,Ibu, kuterima suratmu lewat mimpiku</em>”</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Yep</em>! Bayangan itu adalah BH ibuku, kawan. Pun biar Ibu telah tiada empat tahun lalu, baju-baju serta pakaian dalam Ibu masih tersimpan rapi di lemari. Aku hampir menangis karena bahagia. Kubuka secepat kilat, pintu lemari itu lagi. Kudapati BH Ibu masih tersimpan di trap ketiga, tepat di depan mataku. Tertata bersama pakaian dalam Ibu yang lain. Buru-buru kuraih BH-BH Ibuku. Semampu aku meraihnya, aku segera lari ke kamar karena mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Bapak selesai mandi. Aku tidak mau tertangkap basah sebagai pencuri BH. Sungguh, tidak keren sekali. Pencuri pakaian dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Kukunci pintu kamarku. Kutatap lagi BH di genggaman. 5 BH almarhum Ibuku. Yes! Tidak ada akar, rantingpun jadi. Kupilah &#8211; pilih. Kuperiksa satu per satu. Bentuknya masih lumayan. Warnanya agak kusam. Baunya apek lemari. Tentu saja, empat tahun tidak terpakai. Kumaklumi sedalam penghormatanku atas mimpi semalam. Empat di antaranya berwarna krem pucat. Sebuah berwarna hitam. Kupilih satu. Yang berwarna krem. Motifnya simpel. Setidaknya paling tidak menyengat baunya. Dag-dig-dug rasanya. Mencoba mengenakan BH untuk kali pertama. Dalam sejarah hidup. Ouw! Oh tidak…..</p>
<p style="text-align: justify;">Masalah datang lagi kawan! BH yang kukenakan tidak pas pada posisinya. Alih-alih menutupi dadaku, malah lebih pas disebut rompi kedodoran. Betapa tidak? Dua Cup nya berada dipinggangku, persis di dekat pusar. Aku tertawa sendiri. Tawa yang pedih. Berkeluh kesah lagi. Aku baru ingat, Ibuku benar-benar wanita dewasa sebelum meninggal. Aku tidak begitu paham jika Bra juga punya ukuran. Yang aku tahu, semakin banyak anak, akan semakin besar buah dada wanita. Kupikir karena akan sering berisi ASI, dan mungkin dada Ibuku almarhum akan cukup besar karena menampung ASI enam kali. Bukankah anak  Ibuku  6 orang? Yang artinya aku tidak bisa mengenakan Bra seukuran Ibu. Aku menangis. Lirih. Sendiri. Lemas. Ingin kurasakan berhenti sekolah saja saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada sebuah hari, tidak lama setelah kejadian pencurian BH Ibu, entah dapat keberanian darimana aku meminta uang untuk membeli Mini Set kepada Bapak. Aku mungkin lelah serta payah berfikir sendiri, bisa jadi kalender memang bukan solusi yang tepat untuk menutupi payudara. Tidak ada lagi mimpi aneh. Tidak ada petunjuk apapun dari akherat. Surat tidak pernah tertulis. Doa bertanya saat sholat sudah jenuh kupanjatkan, mengapa dadaku tumbuh lebih cepat?</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya menguat-kuatkan diri jika Bapak murka akan pintaku. Marah jika tahu aku sudah punya buah dada. Dan akan melarang-larangku untuk begini-begitu. Pasrah. Benar-benar pasrah, selayak Belanda kalah perang. Nyaliku saja yang kubesar-besarkan untuk menghadap Bapak sepulang sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku ingat, aku minta uang untuk membeli Mini Set. Ya, Mini Set. Bukan BH.Bukan Bra. Panas mukaku saat kuutarakan pintaku pada Bapak. Malu. Jika aku berkaca, mungkin serupa tanggal hari minggu, yang merah warnanya, yang luntur oleh keringatku, lantas membekas dengan tanpa kendala di dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketakutanku tidak 100% benar. Tidak pula 100% salah. Bapak sempat bergeming saat mulutku terkatup usai meminta. Sedikit bersungut-sungut, dan meninggalkan kerutan di kening. Penuh tanya. Meski lalu tersenyum, tidak lantas meluruhkan keangkerannya. Apalagi aku dalam kondisi sebenar-benar takut. Takut dicap tidak tahu tata krama, membahas buah dada dengan orang tua. Keringatku mengucur. Gugupku  berdesak-desakkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan Bapak jika tidak bertanya lebih lanjut, sejak kapan aku merasakan buah dadaku membesar? Kenapa harus membeli Mini Set dan bukan BH? Apa itu Mini Set? Apa beda Mini Set dengan Bra? Darimana aku mengenal Mini Set? Atas saran siapa aku harus mengenakan Mini Set dan bukan BH? Kira-kira berapa harga Mini Set? Berapa kira-kira berapa harga BH? Dimana aku akan beli Bra? Toko mana yang menjual Mini Set? Sungguh kawan, jika ada pilihan antara menjawab pertanyaan-pertanyaan Bapak dengan tidur di kuburan seberang kali, maka,  100% persen keyakinanku menjawab, aku akan lebih siap tidur di kuburan, biar seminggu aku akan lebih gagah berani menghadapi.</p>
<p style="text-align: justify;"> Bukan lagi gugup kawan, aku menggigil. Campuran antara malu tak berperi-peri, risih, sungkan, sebal dan marah atas pertanyaan yang diberondongkan Bapak. Kupikir, harusnya Bapak memberiku uang lalu aku beli Mini Set. Selesai sudah perkara. Tidak. Aku musti, menghadapi interview sebelum mendapatkan apa yang aku ingini. Membuatku kesal dan tidak sabaran. Urusan BH, dada adalah urusan wanita, Bapak tidak seharusnya banyak membahasnya. Membuatku malu serta semakin malu. Penyakitku kumat, menyalahkan Tuhan atas situasi tidak mengenakkan ini, mengapa Ibuku dipanggil lebih cepat?</p>
<p style="text-align: justify;">Uang dua puluh ribu ada di tangan kawan. Akhirnya. Ada lagi kabar gembira, setelah tahu payudaraku tumbuh, Bapak tidak melarangku begini-begitu seperti kata Pak De saat tahu aku datang bulan kali pertama dulu. Kabar buruknya, Bapak masih ragu akan keberadaan Mini Set. Bapak tidak mampu membayangkan apa itu Mini Set, meski hampir berbuih-buih aku menjelaskan pada beliau apa itu Mini Set. Tentu penjelasanku kopian dari penjelasan Weni tempo hari. Mungkin karena tidak seperti waktu itu, tidak ada Mini Set yang bisa kutunjukkan, membuat Bapak memaksaku membeli BH saja. Karena dalam keterbatasan pengetahuan Bapak akan macam-macam baju dalam wanita,hanya celana dalam serta BH yang mampu diketahui Bapak. Kurasakan bagaimana perasaan Belanda saat meyerah tanpa syarat. Daripada BH atau Mini Set tidak terbeli, kuiyakan saja saat Bapak memintaku membeli BH dan bukan Mini Set.</p>
<p style="text-align: justify;">Kutuju Pasar Baru. Uang dua puluh ribu di genggaman. Senang. Betapa aku merasa konyol hari itu, menghadapi pertanyaan-pertanyaan Bapak akan kisah pertumbuahan buah dadaku. Menjijikkan dan sangat jorok untuk dibahas dalam-dalam. Dan adalah tetap menjadi rahasiaku sendiri saat aku berjuang menutupi dadaku dengan kalender serta Peta ATLAS.</p>
<p style="text-align: justify;">Membeli BH sendiri tanpa wanita dewasa (baca : Ibu) ternyata nama lain dari bencana bagiku. Bagaimana tidak, kesenangan mendapat uang tidak mampu membesarkan nyaliku saat di pasar. Aku hampir memutari pasar Baru lebih dari tujuh kali. Bukan karena tidak ada yang menjual BH. Tapi nyatanya aku tidak sanggup berbicara pada Ibu-ibu yang menjual BH. Ternyata sama saja, baik pada Bapak yang laki-laki maupun wanita yang menjual BH, aku tidak mampu membicarakannya pada sembarang orang. BH ibarat kisah hantu yang hanya dibicarakan bisik-bisik.  Aku lebih takut ketimbang menghadapi pertanyaan Bapak sebelumnya. Lututku menggigil. Bukan hanya malu, takut dan lagi-lagi merasa tidak selayaknya anak-anak sepertiku membeli BH. Jorok. Menjijikkan. Tidak Sopan. Saru. Ah, pokoknya tidak nyaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Capek rasanya mengatasi masalah BH. Perang belum usai. Kupikir dengan memutari pasar, keberanianku akan muncul karena beradaptasi dengan situasi. Nyatanya aku malah seperti anak hilang di dalampasar. Tersesat. Lepas dari pegangan Ibunya. Yaa…memang tidak ada enaknya tidak punya Ibu. Aku hilang akal. Hilang keberanian. Hilang semangat untuk mendapatkan BH-ku yang pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuingat pasti, hampir jam lima sore hari. Mungkin karena takut kena damprat Bapak karena kelamaan di pasar, kuberanikan diri menghampiri sebuah kios pakaian yang paling sepi pembeli. Tidak ada pedagang bergerombol untuk menggunjing. Tidak ada pembeli lain yang melihat-lihat. Si pedagang adalah Ibu setengah tua yang agak mengantuk. Kupikir ini tempat yang tepat. Aku tidak mau ada pihak ketiga selain aku serta pedagang yang mendengar aku membeli BH. Aku tidak sanggup ditatap penuh keheranan, penuh tanya dan praduga-praduga aneh yang membiarkan mengembara sekehendak hati mereka. Intinya aku tidak mau dianggap aneh, anak-anak membeli BH bagiku tabu. Titik. Rahasia dan musti dihadapi dengan penuh kehati-hatian nomer satu. Sip! Langkah pertama, aku berhasil masuk kios. Lirih kukatakan BH sebelum si Ibu bertanya akan maksudku. Sialan, si Ibu yang karena mengantuk malah balik bertanya dengan lantang menyadarkan kantuknya sendiri. Memastikan bahwa dia tidak salah dengar. “<em> Apa ? mau beli BH</em> ?” Sungguh, di luar prediksi kawan. Ketakutanku terbukti. Beberapa pedagang dan pembeli di kios lain sempat menoleh. Beberapa acuh, beberapa tersenyum dan beberapa pasang badan menguping.</p>
<p style="text-align: justify;">Si Ibu memang tidak bisa diajak main diam-diam. Beli BH adalah misi bahaya. Pelan dan tidak boleh gegabah. Jangan sampai salah kata lalu dianggap bocah kurang ajar yang tidak sopan. Memalukan bukan? Bocah dengan buah dada yang tumbuh?</p>
<p style="text-align: justify;">Si Ibu hilang kantuknya. Di hadapannya seorang bocah salah tingkah yang menanyakan barang tidak lazim dibeli anak-anak. Dia celingak-celinguk. Dicarinya pendampingku? Sudah barang pasti dia mencari Ibuku? Bukankah yang pakai BH itu Ibu-Ibu? Jika dia tetap bertanya dimana Ibuku, akan kukatakan sedang pipis di WC pasar, aku dimintanya membeli BH karena beliau terkunci di dalamnya. Ah,alasan mengada-ada. Lalu kutepis diam-diam.</p>
<p style="text-align: justify;">Eh, si Ibu pedagang yang tidak berhasil mencari orang dewasa yang menyertaiku. Dia menguap. Menyodorkan sebungkus plastik dengan puluhan model BH di dalamnya. Bagian atas sedikit berdebu. Ditepuk-tepuknya. Debu berterbangan bersama keberanianku yang tersisa. Aku menghadapi situasi klimaks. Serasa ingin pipis di celana. Di depanku beberapa BH dibentangkan. Sudah barang tentu tidak ada yang seukuranku. Tuhan, tolong aku! Beri aku keberanian barang seteguk. Lututku gemetaran. Saking takutnya, bulu kuduknya bangkit dari tidurnya. Si Ibu antusias. Lancang dia bertanya “ Ukuran Ibumu yang mana?”</p>
<p style="text-align: justify;">Huh! Siapa bilang buat Ibuku. Badanku yang ceking dan dada yang agak besar tidak ditatapnya. Ah, dia pasti Ibu yang tidak punya anak perempuan. Hingga sekonyong-konyong dibenaknya BH hanya untuk wanita, untuk Ibu dan untuk orang sepertinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sempat tertegun. Lalu memilah BH. Ingin terucap kata ingin beli Mini Set saja. Namun aku lebih tidak berani murtad dari saran Bapak untuk membeli BH. Ah, runyam benar urusan. BH besar-besar di depanku membuatku berkunang-kunang. Aku tidak tahan berlama-lama di sana. Mungkin beginilah rasanya di pintu neraka, lirih aku bernadzar kawan, jika BH yang tepat kudapat, aku akan rajin mengaji. Ganjil memang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak terasa tanganku hanya membolak-balik. Lupa bahwa BH punya ukuran. Tidak pula berani bertanya adakah ukuran yang lebih kecil. Si Ibu akhirnya bertanya “ Kenapa Ibumu tidak membeli BH sendiri, <em>nduk</em> ?” Ah, itu dia, kujawab cepat Ibu di rumah, bersama adikku. Kebohongan yang kupikir akan terdengar lebih masuk akal ketimbang Ibuku di kamar mandi umum pasar dan terkunci  di dalamnya tanpa pertolongan. Sesungguhnya akulah yang butuh pertolongan untuk segera keluar dari masalah itu.  Si Ibu mengangguk-angguk. Dipikirnya sendiri, mungkin, Ibuku kelewat repot. Mungkin punya bayi lagi. Dan si bayi tidak mungkin ditinggalkan hingga meminta anak perempuannya membeli BH di pasar. Si Ibu tersenyum menyudahi jalan pikirnya sendiri. Aku yakin si Ibu penjual itu memang berfikir demikian karena menyodorkan sebuh BH yang tampak aneh. Beda dengan BH Ibuku yang kucuri dari lemari tempo hari. Jika deskripsiku tidak salah, di tengah BH ada lubang yang bisa dibuka dan ditutup dengan terpisah. Tidak menggembung. Tanpa kawat penopang. Lebih tipis dari punya Ibuku. Desain konyolnya membuatku membayangkan Kanguru. Ada kantung bisa dibuka ditutup secara manual. Ah, ahai…seandainya kantung di tengah BH itu tidak ada, dan jika ukurannya tidak besar daripada itu, BH itu malah menyerupai Mini Set. Tanpa renda, tanpa bantalan, tanpa kawat penompang. Tanpa kantung buka tutup itu, sebenarnya BH itu paling sederhana serupa Mini Set kiraku. Warnanya krem tua polos. Jauh dari seleraku. Tak mengapa, mungkin memang tidak semua mini set bermotif Hello Kitty seperti milik Weni yang pernah kulihat itu. Talinya besar-besar dengan kawat yang ala mak jaaa, ada empat baris.</p>
<p style="text-align: justify;">Akalku muncul bertubi-tubi. Daripada kelamaan, kubeli saja BH itu, lalu kuakali di rumah. Kujahit bagian yang bisa tutup buka, lantas, kusingkatkan saja dengan memotong bagian ujung kaitan. Jadi pas dilingkar punggungku. Aku puas. Belum dikatakan berani-berani amat, aku menggangguk. Delapan ribu harganya. Kuambil dua. Perang berakhir. Kubawa pulang dua benda pusaka itu. Bapak sempat kebingungan saat melihat jenis BH apa yang kubeli. Tidak banyak petuah atas benda keramat itu. Hanya mengangguk-angguk di depan tali jemuran saat mendapati BH aneh sudah berubah. Berhasil kuakali. Kantung buka tutup bagian tengah telah terjahit mati. Bagian pundak dua bagian terpeniti hingga lebih pendek, meninggalkan noda karat, serta bagian punggung lebih pendek dengan potongan gunting sekenanya. Intinya, BH baruku tidak terlihat baru, lebih pas disebut compang-camping, kawan.  Tak mengapa. Itu lebih baik daripada bertutup kalender ataupun peta ATLAS. <em>Toh</em>, letak BH yang benar ada di dalam baju ? siapa yang tahu? Betapa buruk BH pertama yang kukenakan. Hingga, beberapa tahun kemudian kutahu kawan, BH yang kubeli itu BH untuk &#8230;&#8230; Ibu menyusui.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.menyambutpagi.com/bh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kebahagiaan Instan</title>
		<link>https://www.menyambutpagi.com/kebahagiaaninstan/</link>
					<comments>https://www.menyambutpagi.com/kebahagiaaninstan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[menyambutpagi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jul 2018 09:54:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[national geographic]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://paul-themes.com/wordpress/gilber/?p=54</guid>

					<description><![CDATA[Hidup ini buat apa ? sampai detik ini saya nggak ngerti. Pernah suatu ketika, saya mengajak diri saya berbicara serius dengan diri saya sendiri, setelah sekian lama saya mengacuhkannya. Saya terlalu sibuk tentang hidup orang lain dan segala permasalahannya. Hari ini…. Saya menerima WA dari mantan Bos yang bertahun lamanya tidak ketemu. Bos cerdas, gesit, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Hidup ini buat apa ? sampai detik ini saya nggak ngerti.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Pernah suatu ketika, saya mengajak diri saya berbicara serius dengan diri saya sendiri, setelah sekian lama saya mengacuhkannya. Saya terlalu sibuk tentang hidup orang lain dan segala permasalahannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini….</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menerima WA dari mantan Bos yang bertahun lamanya tidak ketemu. Bos cerdas, gesit, segudang ide-ide liar, namun genit. (Mantan) Bos ngajak makan siang. Saya sempat kaget ada Video call dari nomer si pak Bos. Saya reject. Saya tidak siap. Saya kondisi tidak berhijab dan keputusan hanya sekedar Chat saya anggap baik. Oh ya, mantan pak Bos saya adalah orang yang sangat suka membully. Membully anak buah yang secara fisik dianggapnya tidak menarik. Dan saya adalah mantan anak buahnya yang paling sering dapat bully, cela, hina dina, olok-olok karena tidak memiliki kaki jenjang, tidak memiliki tinggi di atas 168cm, berat badan tidak di angka 40 an, tidak memiliki wajah tirus, tidak pernah pantas bersolek, karena sekali saya bersolek banyak teman sekantor menjerit-jerit ketakutan. Yaa…saya tidak berbakat dalam menggunakan make up meski salah satu faktor saya diterima kerja di kantor tersebut konon kabarnya karena saya jago gambar dan design, namun gagal saya implementasikan ke muka saya. Hahaha, alhamdulillah, saya tak sekalipun sakit hati. Prinsip saya, manusia yang hobby mencela orang adalah orang insecure. <em>So yes</em>, saya tidak mau dimanipulasi perasaan orang insecure. Apapun <em>bully-</em>an Pak Bos yang demen hire perempuan-perempuan manequine sejatinya sedang mengidap feeling insecure yang justru patut saya kasihani.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke mantan pak Bos yang tiba-tiba ngajak makan siang. Saya kenal sekali pak Bos yang selalu memiliki maksud ketika sedang berbaik hati dengan ngajak makan siang misalnya, apalagi ngajak makan manusia paling tidak menarik di jagat raya macam saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan setelah dapat ijin suami saya, saya kirim balasan di Whatsapp saya “<strong>Oke Bos, kapan, dimana, jam berapa ?</strong>”</p>
<p style="text-align: justify;">Akhir sebuah kisah, kami ketemu di Sop Pak Min dekat Melia Purosani. Pak Bos yang selalu on time dan mengajarkan ke semua tentang disiplin waktu nampak minta maaf atas keterlambatannya. Ini yang saya suka dari mantan pak Bos saya, selama saya kerja dengannya tidak ada keterlambatan meeting, event, ngantor, apapun DILARANG KERAS TELAT. Bahkan ketika rapat, si Bos telat 3 menit, anak buah boleh walk out. On Time. Termasuk jam pulang kerja. Tidak ada lembur. Bos menjunjung tinggi juga perihal hidup tak sekedar kerja, namun juga bersenang-senang.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, pertemuan dimulai. Kalimat yang saya dengar adalah “maaf aku terlambat” dan kalimat berikutnya adalah “<em>uedannn, tambah gemuk aja lu</em>” ….alhamdulillah Pak Bos tidak berubah. <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/14.0.0/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang saya curigai terbukti. Selalu ada maksud terselubung dalam kebaikan pak Bos. Dan sebenarnya saya menyesal mengapa menyanggupi ajakan makan siangnya. Usut punya usut pak Bos sedang “mengincar” teman saya, yang juga lama tidak saya temui. Luar biasaaaa,,,,,,pak Bos saya ketemuan dengan teman saya di sebuah event. Mereka bertukar kartu nama, basa-basi, sampai kemudian merunut pernah kerja dimana hingga akhirnya menemukan ‘nama saya’ dalam basa-basi mereka. Endingnya, kegenitan pak Bos saya berlanjut, dia mengincar teman saya yang memang tinggi, modis, cantik, kulit putih, meriah, ceria, easy going apapun sifat positif melekat padanya. Nggak heran kalau banyak lelaki termasuk mantan pak Bos saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Pak Bos minta saya membantunya mendekatinya. Jawaban saya. TIDAK. Pak Bos lelaki mata keranjang beranak dua dengan mantan sebatalyon dan teman saya juga telah menikah meskipun belasan tahun belum dikarunia anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Bos memohon. Saya bilang DOSA. Stop, jangan ganggu teman saya, kataku. Pak Bos bilang ” Tidak, saya tidak mengganggu. Hanya <em>stand by</em> ” Ini watak keras kepala mantan pak Bos yang memang menyebalkan dari dulu. Pantang menyerah serta ngeyelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Bos, mohon maaf saya ceritakan lagi gambaran tentang beliau. Manager Regional sebuah Perusahaan buesarrrrrrrrr di Indonesia. Kariernya melesat tajam dibanding senior-seniornya karena kecerdasan, kejeniusan, kelincahannya. Di perusahaan saya dulu, sudah terkenal wataknya yang ngeyel, suka berdebat dan tidak malu dengan sifat genitnya yang demen ‘macari’ perempuan-perempuan yang dianggapnya sexy ( baca menarik ). Kelas perempuan koleksinya memang diakui perusahaan. Tidak ada anak buahnya yang memiliki tubuh semampai, tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia, modis, kekinian dan wangi. Kecuali saya. Hanya saya anak buahnya yang kebalikan dari “prasyarat keindahan” di matanya serta nafsunya. Namun justru saya berada di posisi tangan kanannya kala itu, yang selalu kenyang dibanding-bandingkan dengan anak buah yang kalau ke kantor saya serasa berada di Milan, melihat para model lalu lalang. Hanya saya yang didapuk tangan kanan buruk rupa, selalu lahap jika disodori makanan jenis apapun. Tidak peduli saya ditatap dengan jijjik para anak buah yang lain yang merasa dosa besar makan 3 sendok makan nasi. Kalau Anda menduga bahwa anak buah yang memiliki tubuh manequin memang direkrut untuk membuat pak Bos semangat bekerja adalah benar. Namun di kantor saya yang dulu, semua master plan saya sendiri yang dicambuk-cambuk untuk membuatnya, Action Plan harian, mingguan dan tahunan yang harusnya jadi tugas mantan pak Bos, dilimpahkan ke saya termasuk laporan. Implementasinya juga pada akhirnya dibebankan ke saya untuk pencapaian targetnya. Sehingga saya merasa bahwa saya adalah “tumbal” di pusaran kantor dimana para manequin berkumpul. Namun, pak Bos memang tidak seburuk itu, hanya saya yang bergaji 2x dalam sebulan di kantor. Meski kerap dihina, dicela, pak Bos justru tidak pernah mengijinkan saya hengkang dari kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun pak Bos mata keranjang tingkat dewa, sejatinya sosok pak Bos bukanlah seperti pak Bos di tivi-tivi. Tinggi saya 167. Pak Bos memiliki tinggi 164. Lebih pendek sedikit daripada saya. Tubuhnya cungkring. Rambut diminyaki trendy. Baju modis, paling malas pakai jas. Maniak dengan dunia fotography, buku, tekhnologi dan National Geographic. Berkaca mata tebal. Kalau ngomong cepat. Habis bicara tentang bagaimana Kuda Nil beranak, tiba-tiba berubah pembicaraan tentang tekhnik Bokeh, lima menit kemudian bisa mencela-cela sebuah partai politik, tiga menit kemudian cerita tentang penyanyi Dangdut asal Blora yang pernah dia tiduri.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah, secara fisik, Pak Bos serupa dengan Detective Conan edisi mengecil. Secara akhlak seperti Don Juan atau artis Bokep papan atas yang kebanyakan obat kuat, namun secara pemikiran mantan Pak Bos adalah Tivi konslet kena petir. Berdesing-desing merubah pembicaraan secara tidak jelas. Tidak ada preambule apalagi penutupan doa. Dinamika pikirannya melesat, gesit seperti saat dia mengincar perempuan yang dia mau. Jadi, mengapa saya tidak pernah bersedih ketika saya dihina dan dibully : jelek, gendut, emak-emak atau apapun…. Saya malah ketawa, di kantor saya dahulu, karyawan 45 persen perempuan manequin, berkaki angsa, berpanggul mungil,  64 persen lelaki trendy kekinian dengan otak kelas pemikir dan 1 persen dihuni makhluk jadi-jadian. 1 persen itu adalah saya dan tentu saja Pak Bos.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.menyambutpagi.com/kebahagiaaninstan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anjing Kadipiro</title>
		<link>https://www.menyambutpagi.com/anjingkadipiro/</link>
					<comments>https://www.menyambutpagi.com/anjingkadipiro/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[menyambutpagi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Dec 2017 09:54:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[anjing]]></category>
		<category><![CDATA[caknun]]></category>
		<category><![CDATA[jamaah maiyah]]></category>
		<category><![CDATA[kadipiro]]></category>
		<category><![CDATA[progress]]></category>
		<category><![CDATA[tawasul]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://paul-themes.com/wordpress/gilber/?p=52</guid>

					<description><![CDATA[Saya sedang mencecap dalam-dalam sebatang rokok, hisapan demi hisapan di mula era milenium kala itu. Orang melihat mungkin saya sedang melamun, padahal sesungguhnya tidak. Saya sedang berpesta pora. Saya sedang merayakan era baru dengan diri saya sendiri, karena pesta tak snantiasa dirayakan dengan euforia dan keramaian secara kolosal. Ya, pikiran saya selayaknya arena jamuan yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya sedang mencecap dalam-dalam sebatang rokok, hisapan demi hisapan di mula era milenium kala itu. Orang melihat mungkin saya sedang melamun, padahal sesungguhnya tidak. Saya sedang berpesta pora. Saya sedang merayakan era baru dengan diri saya sendiri, karena pesta tak snantiasa dirayakan dengan euforia dan keramaian secara kolosal.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, pikiran saya selayaknya arena jamuan yang menyuguhi begitu banyak spekulasi, di antara mimpi, harapan, doa dan aroma tembakau kretek yang saling membaur ternyata mampu menghadirkan sensasi yang begitu memabukkan. Permulaan abad baru, konon kabarnya akan muncul banyak perubahan. Era Millenium adalah era demografi terbesar dimana masyarakat dunia semakin hedon. Saya dan mereka, sedang dan akan menjadi saksi munculnya teknologi-teknologi baru, kemajuan medis yang dramatis, ledakan informasi, dan ekonomi global yang berkembang pesat, pergeseran tekhnologi analog menjadi digital. Oleh karena itu, banyak orang telah menyambut milenium baru sebagai lambang harapan dan perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski kadang saya sering berpikir menyederhanakan kemungkinan dengan metode jalani saja hidupmu, jangan terlalu berharap. Harapan akan sering membebani diri, bisik hati saya yang lain. Dengan demikian maka hidup kita akan terasa lebih mudah. Lalu, benarkah dengan hidup menerima keadaan akan lebih tentram dan membahagiakan?</p>
<p style="text-align: justify;">
Tapi ketika era baru yang menyodorkan begitu banyak prediksi dari segala dimensi ikut menyertai walimah di pikiran saya saat itu, membuat diri saya semakin masgul, kadang meledak-ledak, kadang saya redam sendiri bahwa konsep pasrah adalah menyesatkan, riuh rendah tak kalah dengan kembang api tahun baru. Lalu buntut-buntutnya ber-<em>tawassul</em> menjadi pilihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan, mendadak pesta saya menjadi buyar, manakala sahabat lama datang dari pedalaman Papua yang diidentikkan dengan <em>keprimitifan </em>justru hadir dengan sesuatu yang memiliki ruh perubahan. Sahabat ini datang dengan sebuah ide serta semangat baru yang sepertinya muskil diterbitkan dari sebuah tempat yang jauh dari apa yang dislogankan era milinium dengan sebutan modernitas. Pemikiran luar biasa ternyata bisa terbit dari rerimba belantara Papua yang mungkin mampu memberi inspirasi paling murni dari yang orisinil. Saya mengamini bahwa modernitas sesungguhnya adalah kemampuan seseorang untuk tidak pasrah atau stagnan dalam keadaan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Membuat wadah” demikian kata Pak Toto Rahardjo yang membuat dahi saya berkerut waktu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Wadah apa ?” tanya saya selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan saya tidak serta merta terjawab. Saya justru mendapatkan pertanyaan dan bukannya jawaban langsung atas pertanyaan saya. Saya diminta melihat apa yang sekarang saya lihat. Menatap ke segenap ruangan tempat saya menikmati pesta yang belum usai. Saya diberikan pertanyaan; bagaimana memanfaatkan bangunan keren berlantai kayu, listrik serta jaringan telpon yang telah terpasang, sarana dan prasarana yang telah ada dan disediakan Cak Nun dan Ibu Novia. Kadipiro tempat itu.</p>
<p style="text-align: justify;"> Saya bergumam. Saya sibuk menfasirkan pertanyaan Pak Toto penuh hati-hati. Saya tersenyum simpul. Saya merasa terasing di tempat yang setiap hari saya jadikan pesta dengan pemikiran saya selama ini. Luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Toto Rahardjo begitu gamblang membuka mata saya dengan ide cemerlangnya untuk membuat wadah yang akan dihuni oleh orang-orang yang berkomitmen mendokumentasikan karya-karya Cak Nun supaya tidak hilang karena dipastikan di masa depan kami akan membutuhkan karya-karya beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak hari itu, pertemuan demi pertemuan terjadi, kami pun berkumpul demi lahirnya <em>jabang bayi</em> yang masih belum bernama. Strategi panjang demi <em>sang jabang bayi </em>pun sudah disusun, hingga kemudian muncul usulan nama hadir dari mas Sabrang. Sang jabang bayi bernama Progress lahir pada bulan Maret 2004. Kelak, sang bayi akan mengemban tugas penting yaitu mendokumentasikan karya-karya Cak Nun agar tidak hilang.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski di permulaan kelahiran sudah jelas beban tugas yang diamanatkan kepada Progress itu apa, di perjalanannya waktu tugasnya menjadi berkembang, tidak sekedar mendokumentasikan namun juga bertugas menangani keperluan-keperluan Cak Nun dan Kiai Kanjeng terutama yang berhubungan dengan masyarakat; sehingga Progress menjadi jembatan antara Cak Nun beserta Kiai Kanjeng dengan masyarakat. Progress yang di awal dikonsep memang sebagai “<em>wadah</em>” pada akhirnya dia menjalankan tugasnya sebagai penampung segala hal yang berasal dari masyarakat untuk kemudian disampaikan ke Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Lalu Progress juga memiliki tugas lain seperti mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan acara, berkomunikasi aktif terhadap lahirnya simpul-simpul Jamaah Maiyah di seluruh nusantara dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Progress selayaknya bayi manusia yang juga bertumbuh. Dia juga membuat gerakan ekonomi kemandirian agar tidak tergantung kepada Cak Nun maupun Ibu Novia terutama untuk operasional harian maupun bulanan seperti biaya listrik, biaya komunikasi dan lainnya. Progress makin berkembang lagi dengan membuat <em>merchandise </em>berkaitan dengan Cak Nun dan Kiai Kanjeng seperti membuat kaos, CD, kaset yang walau dalam prosesnya hal tersebut tidaklah mudah. Progress tidak mampu menjalankan bisnis seperti cita-citanya. Dan Progress kembali ke tugas utama yaitu mendokumentasi dan melayani segala hal yang berkaitan dengan Cak Nun dan Kiai Kanjeng beserta masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak semua hal bisa diatasi Progress karena Cak Nun adalah seorang yang multi tasking. Progress snantiasa belajar dalam menangkap apa yang dimaui Cak Nun, yang tidak kalah berat sesungguhnya adalah berkomunikasi dengan Jamaah Maiyah terutama Jamaah yang sering bergabung secara rutin di acara Cak Nun dan Kiai Kanjeng karena mereka terdiri dari berbagai karakter dan kelompok; ada yang senang dengan keberadaan Progress karena merasa terjembatani dan ada juga yang merasa bahwa Progress sebagai penghalang. Itu sebab Progress tak jarang sering menemui kendala-kendala komunikasi sampai-sampai ada seseorang atau jamaah datang ke Kadipiro dan bilang bahwa Progress adalah anjing-anjing Kadipiro yang menggonggong ketika ada yang datang ingin menemui Cak Nun, sementara prosedural untuk menemui Cak Nun harus melalui Progress maka diumpamakan bahwa Progress sebagai anjing penjaga olehnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Begini-begini,</em> ijinkan saya menterjemahkannya dalam bahasa yang lebih sejuk. Saya selalu mencoba menggunakan pameo <em>tak cinta maka tak sayang</em>. Bagi kami, Progress, karena kami mencintai Cak Nun sudah menjadi kewajiban kami untuk menjaganya ( meski kata ‘penjaga’ sudah kadung diwakili dengan kata ‘anjing’ bagi sebagian orang ). Sama halnya dengan Progress terhadap Cak Nun, sering rasa sayang Progress terhadap Cak Nun diterjemahkan sebagai sikap <em>over protective, </em>padahal apa yang dilakukan Progress adalah hal lumrah dan manusiawai, memperlakukan sesuatu yang berharga dengan cara istimewa.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika susah dipahami, bisa dianalogikan begini, <em>sampean</em> punya anak perempuan yang menjelang akil balik, didatangi lelaki yang kulonuwun ijin berteman. Dan sebagai orang tua yang sayang terhadap anak perempuannya, menurut <em>sampean</em> apakah salah apabila Bapaknya atau keluaraganya menjaganya. Saya ( atau <em>sampean</em> ) tentunya memiliki aturan dalam menjaga sesuatu yang berharga yang di sini dianalogikan sebagai anak gadis itu tadi. Menurut <em>sampean</em>, mana yang salah mana yang benar, memberikan kebebasan sebebas-bebasnya atau memberi aturan pertemanan terhadap seseorang yang dicintai demi menjaganya. Tapi saya yakin, <em>sampean</em> dari sudut pandang sebagai jejaka yang sedang menghampiri anak perempuan saya tentu punya pembelaan sendiri, bahwa <em>sampean</em> juga memiliki hak untuk mencintai. <em>Sampean</em> tentu masih terus mencari jawaban-jawaban atas atauran main yang saya tentukan sebagai penangung jawab, tentang apa yang <em>sampean</em> persepsikan sendiri melalui indra dan karena akan terus mengkonstruksi pikiran <em>sampean</em> sendiri bahwa aturan yang dibuat terhadap anak perempuan itu tadi tidak sepenuhnya memenuhi harapan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi saya pikir, yang menyebut Progress sebagai anjing Kadipiro adalah karena yang bersangkutan tidak kenal apa dan bagaimana  itu tugas Progress, sehingga saya tidak bisa menuntut rasionalnya untuk memahami aturan main yang ada, terlebih kekecewaan seseorang tersebut kadung menguasai dan memanipulasi akal sehatnya. Di sisi lain, penyebutkan Progress sebagai anjing Kadipiro juga bisa ditafsirkan dari berbagai sudut pandang. Dan saya memilih sebagai <strong>pujian</strong> karena Progress mampu mengemban tanggung jawabnya dalam menjaga amanahnya semenjak dia dilahirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah risiko yang dihadapi Progress ketika aktif terlibat untuk pengelolaan acara Jamaah Maiyah di Nusantara, ada satu sisi yang senang dengan keterlibatan Progress ketika mengawal dalam membuat komunitas atau perkumpulan Maiyah; tapi ada juga pihak-pihak yang merasa Progress terlalu dominan, dianggap terlalu mengatur, terlalu diktator sehingga ekspresi Jamaah tidak muncul secara murni. Progress tidak pernah berhenti sinau untuk membuat formula yang tepat dalam berkomunikasi dengan Jamaah Maiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sekarang saya sedang menikmati hingar bingar perayaan walimah pikiran saya sendiri terhadap Progress, banyak hal bersliweran di kepala seperti melihat kembali kejadian demi kejadian yang telah berlalu, apa yang terjadi sekarang, kemudian ide-ide baru, rumus-rumus teranyar dalam berkomunikasi, evaluasi dan lainnya. Ketika di titik perjalanannya hari ini, ada seseorang yang menyebut Progress sebagai anjing Kadipiro, sesungguhnya saya tidak berharap itu terjadi. Tapi toh saya juga tidak mau frustasi dalam fatamorgana  harapan. Pikiran saya di awal milenium berulang. Harapan akan sering membebani diri karena seolah hidup kita akan terasa lebih mudah. Lalu, benarkah dengan hidup menerima keadaan akan lebih tentram dan membahagiakan? Diam-diam di dalam riuh rendah semarak pesta, lagi-lagi saya pun ber-<em>tawassul.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tulisan : CZ</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.menyambutpagi.com/anjingkadipiro/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>McGyver</title>
		<link>https://www.menyambutpagi.com/mcgyver/</link>
					<comments>https://www.menyambutpagi.com/mcgyver/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[menyambutpagi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2016 09:54:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[mcgyver]]></category>
		<category><![CDATA[philtrum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://paul-themes.com/wordpress/gilber/?p=57</guid>

					<description><![CDATA[Don&#8217;t try this at home&#8230; Di era 90 an, saat dimana saya belum akil balik, rutinitas seputaran Dhuhur yang saya lakukan adalah menyelinap keluar rumah, pergi ke tetangga barat rumah orang tua saya untuk menonton tv berwarna. Kala itu, stasiun TV komersial baru saja muncul dan yang selalu saya tonton di Minggu siang adalah RCTI. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[		<div data-elementor-type="wp-post" data-elementor-id="57" class="elementor elementor-57" data-elementor-settings="[]">
							<div class="elementor-section-wrap">
							<section class="elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-9e7cbb3 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default" data-id="9e7cbb3" data-element_type="section">
						<div class="elementor-container elementor-column-gap-no">
					<div class="elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-b0a6636" data-id="b0a6636" data-element_type="column">
			<div class="elementor-widget-wrap elementor-element-populated">
								<div class="vlt-animate-element elementor-element elementor-element-c48ae5d elementor-widget elementor-widget-heading" data-animation-name="fadeInUpSm" style="" data-id="c48ae5d" data-element_type="widget" data-settings="{&quot;vlt_animated_widget_animation&quot;:&quot;fadeInUpSm&quot;}" data-widget_type="heading.default">
				<div class="elementor-widget-container">
			<h3 class="elementor-heading-title elementor-size-default">Don't try this at home...</h3>		</div>
				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-68acb83 elementor-widget elementor-widget-spacer" data-id="68acb83" data-element_type="widget" data-settings="{&quot;vlt_animated_widget_animation&quot;:&quot;none&quot;}" data-widget_type="spacer.default">
				<div class="elementor-widget-container">
					<div class="elementor-spacer">
			<div class="elementor-spacer-inner"></div>
		</div>
				</div>
				</div>
				<div class="vlt-animate-element elementor-element elementor-element-78d18ba elementor-widget elementor-widget-text-editor" data-animation-name="fadeInUpSm" style=" --animate-delay: 100ms;" data-id="78d18ba" data-element_type="widget" data-settings="{&quot;vlt_animated_widget_animation&quot;:&quot;fadeInUpSm&quot;}" data-widget_type="text-editor.default">
				<div class="elementor-widget-container">
							<p>Di era 90 an, saat dimana saya belum akil balik, rutinitas seputaran Dhuhur yang saya lakukan adalah menyelinap keluar rumah, pergi ke tetangga barat rumah orang tua saya untuk menonton tv berwarna. Kala itu, stasiun TV komersial baru saja muncul dan yang selalu saya tonton di Minggu siang adalah RCTI.</p><p>Sebuah stasiun favorit karena menayangkan film yang wajib saya ikuti meskipun tetangga pasang tarif sebesar Rp.100,- yang pada jaman itu begitu berharga. Nah, film yang tidak pernah ingin saya lewatkan adalah film McGyver.</p><p>Film McGyver adalah serial televisi asal Amerika Serikat yang diperankan oleh aktor Richard Dean Anderson mampu menyihir masa kecil saya dengan sangat luar biasa. Pria yang kata kakak perempuan saya tidak lebih ganteng ketimbang Chuck Noris, mungkin adalah lelaki cinta pertama saya. Betapa tidak, di usia saya yang masih piyik, demi bisa melihat tayangan itu, mengalahkan tayangan film kartun, sanggup membuat saya rela tidak jajan di hari Minggu karena uang saku saya relakan untuk saya bayarkan kepada tetangga yang alamak betapa <em>greedy</em>-nya. Dia memanfaatkan kejatuhcintaan saya terhadap sosok McGyver dengan memasang tarif sebesar hidup mati kebocahan saya di hari Minggu.</p><p>Dan kekuatan cinta saya terhadap lelaki berdagu sempurna itu sanggup membuat saya mengendap-endap meninggalkan rumah. Menghilang 1 jam karena aturan rumah tak pernah mengijinkan anak-anak berkeliaran. Apalagi sampai saya bisa melakukan transaksi dewasa dengan menyerahkan uang jajan kepada tetangga yang sangat tahu bahwa saya tak sanggup melewati hari Minggu tanpa persuaan dengan McGyver.</p><p>McGyver di mata saya adalah lelaki terseksi sepanjang abad. Tatapan tenang, dagu sempurna, rambut belah tengah sering membuat saya deg-deg an menyaksikan polah tingkah lincah dan 1001 kecerdikan dengan alat sederhana. Dan dengan otak bocah saya, saya menterjemahkan bahwa pecicilan itu halal. Tak sekalipun mas McGver menaklukkan lawan-lawannya dengan senjata api. Senjata pamungkas hanya sekedar pisau lipat itupun tidak untuk menyerang secara langsung para musuh, sekedar sebagai alat bantu mengatasi kesulitan-kesulitannya.</p><p>Berbagai jenis musuh di setiap tayangan dapat dikalahkan dengan mudah dengan akal cerdiknya. Kemampuan Fisika dan Kimia yang doi miliki nyatanya sanggup mengalahkan musuh dengan senjata tercanggih apapun.</p><p>Yaa&#8230;saya setuju bahwa senjata paling membunuh sejatinya adalah otak. Ada saja akalnya dalam menghadapi musuh dan tak sekali dua kali terlepas dari jebakan, perangkap dan intrik para musuh untuk melemahkan. Itulah mas McGyver, tak ada masalah yang tak sanggup ia pecahkan. Cinta saya semakin menjadi meskipun ketika menatapnya di layar tv saya nggak pernah pahami apa yang dia bicarakan. Yang saya tahu dia cerdas, lincah, meski gondrong tak menyiratkan sisi urakan. <em>Aww</em>!  </p><p>Saya hanya memahami alur cerita dari setiap adegan yang ditayangkan. Mata saya nggak pernah berkedip menyaksikan aksi laga yang begitu memukau. Penasaran ide apalagi yang dikeluarkannya membuat perjuangan saya merelakan uang jajan di hari Minggu adalah hal pengorbanan yang sebanding.</p><p>Saya seperti melakukan kencan yang senantiasa saya rindukan. Energi McGyver yang luar biasa mampu membuat saya gelisah dan blingsatan manakala sebelum, di saat dan hingga pra acara dimulai. <em>Sebelum jam tayang,</em> saya sudah memikirkan cara kabur dari rumah diam-diam dan berharap tetangga saya tidak pasang muka ketus manakala saya memohon-mohon untuk dapat melihat tv berwarnanya, karena telivisi Bapak saya di jaman itu masih menayangkan tivi hitam putih dan satu-satunya stasiun tv yang bisa dinikmati hanyalah TVRI. <em>Kegelisahan di saat tayangan,</em> terselip harapan tiba-tiba tidak mati listrik. Inilah doa terkhusuk saya sepanjang minggu di masa kecil. Keadaan mati listrik saat kencan bersama mas Mc sesungguhnya adalah kondisi dimana saya belajar menikmati rasa patah hati lalu diam-diam memaki di dalam hati. Nah, kemudian kegelisahan hati <em>pra</em> nonton adalah ketika saya mendapatkan energi baru yang saat mengetahui siasat baru keluar dari masalah dengan cara sederhana. Sering saya terpedaya, berfantasi sayalah si McGyver itu.</p><p>Ada sebuah kisah yang sampai sekarang saya tonton dari serial McGyver yang tidak pernah terlupakan. Adegan manakala McGyver terkunci  di dalam sebuah ruangan. Dia dikunci musuhnya demi menghalangi aksi jahat si lawan. Entah bagaimana mas McGyver memiliki pemikiran  menggunakan selembar koran untuk melepaskan diri dari pintu yang terkunci dari ruangan itu. Mas Mc meletakkan selembar koran di bawah pintu dengan posisi setengah bagian di luar pintu dan sebagian yang lain masih berada di dalam ruangan. Dengan waktu singkat, memanfaatkan potongan besi dari cantolan tirai jendela yang diluruskan untuk digunakan mengulak-alik lubang kunci, kunci pintu terjatuh tepat di atas koran. Bagian koran yang berada di dalam ruangan ia tarik dan kunci yang semula posisi di bagian luar pintu bisa dia manfaatkan untuk kabur.</p><p>Bagi otak kecil saya, kesederhanaan alat penyelamat McGyver itulah yang menjadikan sosoknya sebagai panutan, saya sedemikian mengkultuskan McGyver hingga belahan rambut, gaya rambut saya tiru, gesture pundak saya ikuti, cara menatap yang datar nan dingin saya praktikkan di kehidupan sehari-hari. Termasuk adegan terperangkap di dalam ruangan itu sanggup membius saya dan mencoba mempraktekkannya.</p><p>Suatu hari, saya meminta saudara kembar saya mengunci saya di dalam kamar. Saya sudah mengatur setiap adegan untuk memintanya meletakkan kunci di lubang kunci bagian luar. Karena saya adalah edisi McGyver perempuan yang telah direncanakan, maka saya sebelum terkunci sengaja memasukkan peniti, jepit rambut serta menyelipkan koran di ketiak. Dengan lantang dan yakin meminta saudara saya menguncinya, bahkan sempat sesumbar kurang dari 10 menit saya sanggup keluar dari kamar dan memintanya pergi keluar rumah ( maksud hati tidak ingin trik saya diketahuinya ). Saudara kembar saya manut mengikuti anjuran Sutradara.</p><p>Maka, dikuncilah saya di dalam kamar. Seperti permintaan, saya dengar langkah saudara kembar saya menjauh dan bisa memastikannya dia kabur meninggalkan rumah. Kebetulan waktu itu hanya kami berdua yang di rumah. Saya tersenyum. Telah tumbuh tunas kejumawaan, membayangkan raut muka saudara kembar yang takjub manakala saya sanggup terbebas dari ruang tertutup. Dan, tentu saja saya mencuri akal mas Mc lelaki idaman saya itu.</p><p>Koran saya letakkan posisi di bawah pintu, sebagian posisi luar dan sebagian di posisi dalam. Lubang kunci saya kulik, kunci jatuh nyaris meleset dari atas koran. Dengan perlahan koran saya tarik. Sungguh saya akui, saat itu saya merasa dikelabui sutradara film McGyver, nyatanya adegan menyelematkan diri tidak semudah yang saya bayangkan. Saya kadung menuduh bahwa mas Mc begitu mudah mendapatkan kunci karena sang Sutradara sudah memilih pintu yang tak terlalu rapat dengan lantai.</p><p>Keringat saya bercucuran. Nyatanya sepuluh menit tidak sanggup saya lalui. Nyaris satu jam karena koran yang saya tarik terlalu kuat membuat kunci tertinggal di luar. Dan saya sanggup meraihnya dari dalam setelah mengintip dengan cara nungging bermenit-menit hingga nyeri leher dan mendapatkannya berkat lidi dari sapu tebah kasur. Ini hikmah menjadi McGyver, orang cerdik bak kancil harus kuat juga otot lehernya.</p><p>Yes!!! Kunci di genggaman. Benih jumawa saya tumbuh dengan cepat. Saya bergegas memasukkan kunci di lubang kunci. Memutar gagang pintu dan KLEK! KLEK! &#8230;. Pintu tidak bisa saya buka.</p><p>Inilah yang namanya musibah. Saya akhirnya terjebak di dalam kamar berjam-jam. Tantangan saya bisa keluar dari dalam kamar karena saudara kembar saya kadung kabur ke rumah simbah. Matikh! Saudara kembar saya adalah “<em>penjahat</em>” yang keterlaluan. Bagaimana tidak, kamar dikunci dari luar dan tetap membiarkan kunci pada lubang adalah adegan yang sudah benar. Namun letak kegagalan adegan terjadi karena saudara kembar saya kurang ajar, dengan tanpa ijin melakukan improvisasi <em>kejahatan</em> dengan mengkaitkan cantolan di luar pintu. Meski saya guncang sekuat apapun, tentu saja tidak akan terbuka. Saya lupa, Bapak menambahkan pengait di sisi luar karena pintu sering terbuka sendiri dan tidak bisa menutup sempurna apabila sekedar ditutup tanpa menguncinya. Akhir sebuah kisah jadilah adegan saya menggedor-gedor memanggil nama saudara kembar saya jauh menghabiskan energi saya ketimbang perjuangkan mendapatkan kunci dan membuka pintu.</p><p>Duh! Ingin rasanya saya menyurati mas McGyver saat itu. Mohon petunjuk, langkah apa yang harus dilakukan apabila saya terjebak semacam itu. Tentu saja, sambil menyeka air mata saya.   </p>						</div>
				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-0adf223 elementor-widget elementor-widget-spacer" data-id="0adf223" data-element_type="widget" data-settings="{&quot;vlt_animated_widget_animation&quot;:&quot;none&quot;}" data-widget_type="spacer.default">
				<div class="elementor-widget-container">
					<div class="elementor-spacer">
			<div class="elementor-spacer-inner"></div>
		</div>
				</div>
				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-d357cb4 w-auto elementor-widget elementor-widget-vlt-simple-image" data-id="d357cb4" data-element_type="widget" data-settings="{&quot;vlt_animated_widget_animation&quot;:&quot;none&quot;}" data-widget_type="vlt-simple-image.default">
				<div class="elementor-widget-container">
			
		<div class="vlt-simple-image">


			
				<div class="vlt-simple-image__mask"><div class="inside"></div></div>

			
			
				
			
		</div>

				</div>
				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-6d579f6 elementor-widget elementor-widget-spacer" data-id="6d579f6" data-element_type="widget" data-settings="{&quot;vlt_animated_widget_animation&quot;:&quot;none&quot;}" data-widget_type="spacer.default">
				<div class="elementor-widget-container">
					<div class="elementor-spacer">
			<div class="elementor-spacer-inner"></div>
		</div>
				</div>
				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-d8e13be elementor-widget elementor-widget-spacer" data-id="d8e13be" data-element_type="widget" data-settings="{&quot;vlt_animated_widget_animation&quot;:&quot;none&quot;}" data-widget_type="spacer.default">
				<div class="elementor-widget-container">
					<div class="elementor-spacer">
			<div class="elementor-spacer-inner"></div>
		</div>
				</div>
				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-d0b16ba elementor-widget elementor-widget-spacer" data-id="d0b16ba" data-element_type="widget" data-settings="{&quot;vlt_animated_widget_animation&quot;:&quot;none&quot;}" data-widget_type="spacer.default">
				<div class="elementor-widget-container">
					<div class="elementor-spacer">
			<div class="elementor-spacer-inner"></div>
		</div>
				</div>
				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-22caec5 w-auto elementor-widget elementor-widget-vlt-simple-image" data-id="22caec5" data-element_type="widget" data-settings="{&quot;vlt_animated_widget_animation&quot;:&quot;none&quot;}" data-widget_type="vlt-simple-image.default">
				<div class="elementor-widget-container">
			
		<div class="vlt-simple-image">


			
				<div class="vlt-simple-image__mask"><div class="inside"></div></div>

			
			
				<img width="1110" height="599" src="https://www.menyambutpagi.com/wp-content/uploads/2020/12/single-post-02.jpg" class="attachment-full size-full" alt="" decoding="async" loading="lazy" />
			
		</div>

				</div>
				</div>
				<div class="elementor-element elementor-element-bf04809 elementor-widget elementor-widget-spacer" data-id="bf04809" data-element_type="widget" data-settings="{&quot;vlt_animated_widget_animation&quot;:&quot;none&quot;}" data-widget_type="spacer.default">
				<div class="elementor-widget-container">
					<div class="elementor-spacer">
			<div class="elementor-spacer-inner"></div>
		</div>
				</div>
				</div>
				<div class="vlt-animate-element elementor-element elementor-element-ecf5f0e elementor-widget elementor-widget-vlt-pullquote" data-animation-name="fadeInUpSm" style="" data-id="ecf5f0e" data-element_type="widget" data-settings="{&quot;vlt_animated_widget_animation&quot;:&quot;fadeInUpSm&quot;}" data-widget_type="vlt-pullquote.default">
				<div class="elementor-widget-container">
			
		<div class="vlt-pullquote">

			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" fill="none" viewBox="0 0 75 75"><defs></defs><path fill="currentColor" d="M25 0C16.9271 0 10.7422 2.14844 6.44531 6.44531 2.14844 10.7422 0 16.9271 0 25v50h31.25V25H12.5c0-4.4271.9766-7.6172 2.9297-9.5703C17.3828 13.4766 20.5729 12.5 25 12.5V0zm43.75 0c-8.0729 0-14.2578 2.14844-18.5547 6.44531C45.8984 10.7422 43.75 16.9271 43.75 25v50H75V25H56.25c0-4.4271.9766-7.6172 2.9297-9.5703C61.1328 13.4766 64.3229 12.5 68.75 12.5V0z"></path></svg>

							<div class="vlt-pullquote__text"><p>Our greatest weakness lies in giving up. The most certain way to succeed is always to try just one more time. emotional sensation of stress from our first.</p></div>
			
			<div class="vlt-pullquote__meta">

									<h5 class="vlt-pullquote__name">Griff Bowden</h5>
				
									<div class="vlt-pullquote__function">Google</div>
				
			</div>

		</div>

				</div>
				</div>
					</div>
		</div>
							</div>
		</section>
						</div>
					</div>
		]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.menyambutpagi.com/mcgyver/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 1/269 objects using memcached
Page Caching using disk: enhanced 
Database Caching using redis (Request-wide modification query)

Served from: www.menyambutpagi.com @ 2023-03-05 23:14:23 by W3 Total Cache
-->